
Marcel pun mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kamu nggak lagi bohong sama Kak Marcel kan? Jangan coba-coba bohong sama Kak Marcel ya, Zi." Ucap Marcel dengan penekanan disetiap perkataannya. Dengan cepat Jazira pun menggelengkan kepalanya.
"Zizi nggak bohong! Dia udah siapin pernikahannya. Kalau Kakak nggak percaya, besok Zizi bawain undangannya." Ucap Jazira ketakutan. Jazira tak mendapatkan satu kata pun dari Marcel.
Marcel pun mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya erat-erat. Dia menatap tajam netra sang adik tiri yang menjadi tambatan hatinya untuk saat ini dan mengatakan sesuatu yang membuat Jazira gelagapan.
"Bisa sekarang kau telepon dia sekarang? Ya, aku hanya ingin memastikan apakah kau berbohong atau tidak!" Ucap Marcel sambil membawa tangannya kedepan dan melipatnya ke dada. Marcel hanya ingin menggretak Jazira supaya berbicara jujur.
Jazira pun mengulurkan tangannya untuk mengambil tasnya yang berada di atas nakas, lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah menemukan ponselnya, Jazira membuka bantalnya dan membaca nomor yang Johan tinggalkan.
Dan ya, ini merupakan keberuntungan untuk Jazira karena Johan meninggalkan nomor milik Tuan Albirru. Apakah Paman Johan salah mengambil kartu? Ah entahlah, lebih baik jika aku segera menelepon siapa pun itu untuk mengelabuhi Kak Marcel. Batin Jazira dalam hatinya.
Setelah memasukan nomor milik Tuan Albirru, dia pun menekan tombol telepon itu dan segera menempelkannya di telinganya. Setelah beberapa kali berdering, Albirru pun mengangkat nomor milik orang tak dikenal tersebut.
"Siapa?" Tanya Albirru datar karena tak mengenali nomor milik Jazira.
"Hai, apa kabar sayang?! Bagaimana kabarmu hari ini? Maafkan aku karena tak bisa mengunjungimu ya..." Ucap Jazira dengan lantangnya namun dalam hatinya, dia merasa sangat takut.
Jazira menatap wajah Marcel yang sedikit memerah disertai rahang yang mengeras.
"Siapa kau?! Jika tidak penting, maka matikan saja!" Ucap Albirru dengan nada marahnya yang membuat Jazira sedikit takut. Kamu jangan takut, Zi. Kak Marcel lebih berbahaya daripada Tuan Muda ini. Ucap Jazira dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Aku minta maaf, sebagai calon istrimu aku belum bisa mengunjungimu sekarang. Kau tidak apa-apa bukan? Tunggulah calon istrimu ini datang." Ucap Jazira sambil menekankan kata 'calon istrimu' disetiap perkataannya.
Albirru pun mengernyit heran. Apakah ini gadis yang akan menjadi istri kontrakku? Bagaimana dia bisa mendapat nomorku? Pasti ini ulah Johan!" Ucap Albirru bermonolog di dalam hatinya.
__ADS_1
"Lalu apa urusanmu sehingga kau meneleponku?" Tanya Albirru sekali lagi dengan nada dinginnya. Jazira pun menghirup nafasnya panjang-panjang dan mulai memantapkan hatinya.
"Sayang, bisakah kau mengatakan pada seseorang yang berada di ruanganku ini bahwa kita akan segera menikah? Kau bisa kan, sayang?" Ucap Jazira penuh penekanan membuat suatu isyarat agar Albirru menurutinya.
Albirru tak bodoh, gadis mana yang dengan bangga nya menerima bahwa dirinya hanya dinikahi kontrak dan memberitahukan kepada semua orang? Albirru merasa bahwa ada sesuatu yang tak beres disana.
"Kau loudspeaker saja!" Perintah Albirru singkat sambil menyiapkan suaranya. Jazira pun hanya mengiyakan perintah dari Albirru dan menekan tombol loudspeaker di ponselnya dan dihadapkan ke Marcel.
"Siapa pun yang berada di ruangan calon istri saya, sekali lagi saya tegaskan. Jazira Altamaira adalah calon istri saya! Kau puas sekarang?!"
Deg!
Jantung Jazira berdetak dengan cepat ketika mendengar Albirru mengatakan bahwa dirinya adalah calon istrinya.
Apakah seperti ini rasanya diakui sebagai calon istri oleh orang yang sangat-sangat kita dambakan? Tapi, dari mana dia tahu nama lengkapku? Batin Jazira dalam hatinya.
"Satu kata yang tadi tertinggal ketika aku mengatakan hal tersebut kepada orang yang ada di ruanganmu! Catatlah, kau hanya calon istri bayaranku! Kau dengar kan? Sudahlah jangan menggangguku lagi!" Ucap Albirru menohok dan langsung mematikan panggilan mereka.
"Udah kan, Kak? Zizi mau-" Ucapan Jazira terpotong karena Marcel yang tiba-tiba keluar dari ruang rawatnya tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Jazira pun hanya menatap kepergian sang kakak tiri dengan perasaan lega.
Tak terasa air matanya pun menetes setelah kepargian Marcel. Jazira kembali merebahkan dirinya dan menangis dalam diamnya.
Apakah seperti ini sakitnya ketika menghadapi kehidupan yang sangat sulit sendirian? Bu, Zizi kangen sama Ibu. Kenapa Ibu pergi sendiri? Kenapa nggak ngajak Zizi? Ucap Jazira sambil menghapus air matanya dengan tangan kirinya.
Sementara Albirru yang masih berada di kantor...
Waktu sudah menjelang malam, tapi dia masih menggoyangkan kursi kerjanya ke kanan dan ke kiri. Kakinya masih bertengger rapi diatas meja kerjanya. Dia memijit pelipisnya perlahan sambil memikirkan tentang isu yang masih bersliweran di media tentang dirinya yang tak normal.
__ADS_1
Saat memejamkan matanya dan masih memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari isu tersebut, tiba-tiba wajah cantik Jazira melintas di benaknya.
****! Kenapa wajah gadis itu selalu berada di benakku! Batin Albirru sambil mengepalkan tangannya dan memukul meja kerjanya.
"Calm down, Al. Mungkin karena kau masih memikirkan tentang pengakuanmu kepada seseorang yang ada di ruangan gadis itu. Aku harus pergi sekarang!" Ucap Albirru pada dirinya sendiri lalu bergegas pergi keluar dari ruang kerjanya.
Dia melewati koridor yang telah padam lampunya dan hanya lampu sudut koridor yang bersinar temaram mengiringi langkah lebar Albirru.
Ya, semua karyawannya telah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Dia memang selalu pulang terlambat, karena tak ada seorang pun dirumahnya selain dirinya.
Tak seperti orang kaya pada umumnya, dia tak memiliki satu maid pun di rumah besarnya. Karena apa? Karena dia tak sedikitpun mempercayakan apapun yang menyangkut dirinya kepada orang lain, termasuk Johan.
Kecuali, Mbok Sum. Mbok Sum lah pengasuh yang merawatnya sedari kecil. Bagi Albirru, Mbok Sum adalah satu-satunya orang yang dapat dia percayakan tentang apapun itu.
Dan sekarang, tujuan utama Albirru adalah club tempat dia bisa minum ketika pulang dari kantor. Dia menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota dan membawa mobilnya melewati beberapa kendaraan lain.
Tak lama setelah itu, mobil mewah milik Albirru telah terparkir rapi di parkiran vip club tersebut. Dia berjalan cepat ke dalam club dan segera duduk di depan bar, tempat biasa dia duduk.
Dia memesan minuman favoritnya di club tersebut dan mulai mengedarkan pandangannya menatap orang-orang yang sedang berdisko ria. Dia kembali ke posisi awalnya karena sang waiters memberikan pesanan miliknya.
Dalam sekali tegukan, dia telah menandaskan minumannya. Dia meminta lagi dan lagi minuman yang sama kepada sang waiters. Waiters tersebut pun sama sekali tak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Albirru.
Setelah merasakan tenggorokannya terbakar hebat, dia pun menyudahi minumnya dan menenggelamkan kepalanya di lipatan kedua tangannya. Albirru merasakan pusing dikepalanya dan berusaha mengerjapkan matanya beberapa kali.
Dengan susah payah, Albirru mangangkat kepalanya dan menoleh kearah dance floor yang penuh dengan anak muda yang sedang bergoyang ria. Mata Albirru mendadak membesar ketika melihat seorang wanita yang baru-baru ini selalu muncul di benaknya.
"Maira?!" Ucap Albirru lirih sambil menatap wanita bergaun mini yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1