
"Enggak, Ra! Ara putri kita! Nggak boleh ada Papa baru atau hot Daddy lainnya selain aku. Orang aku juga udah kayak hot Daddy gini," puji Albirru pada dirinya sendiri yang membuat Jazira membelalakkan matanya.
"Ngarep! Percuma Hot Daddy tapi keluar masuk lubang! Nggak sekalian penjahat kelamin aja?!" seru Jazira sembari memejamkan matanya. Entah mengapa, berdebat dengan laki-laki yang tengah menggendong putri kecilnya itu membuat Jazira kembali mengantuk.
Albirru yang melihat jika Jazira mulai mengantuk pun tersenyum tipis. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dan terkejut karena melihat sang putri yang tengah membuka matanya. Albirru tersenyum tipis melihatnya lalu mencium kening milik Arasa.
"Kau bangun, Nak? Apakah kau sudah cukup tidurnya? Tetapi Mama mu baru saja memejamkan mata. Tenang lah, Papa akan menjagamu," ujar Albirru dengan tentangnya sembari mengelus punggung mungil milik Arasa.
Saat Albirru tengah berjalan di sekitaran inkubator bersama Arasa, tiba-tiba pintu ruangan milik Jazira terbuka. Albirru pun menolehkan kepalanya ke belakang dan terkejut melihat Mbok Sum dan Johan telah tiba.
"Mbok Sum dan Paman Jo tetapi tiba? Syukurlah kalian tiba dengan selamat," ujar Albirru dengan senyum tanahnya yang membuat dua manusia tersebut sempat terkejut.
__ADS_1
"Alhamdulillah Den, ini bayinya Den?" jawab Mbok Sum sembari berjalan mendekati Albirru dan menatap Arasa. Albirru pun menganggukkan kepalanya.
"Mbok Sum sama Paman Jo kalau mau gendong baby Ara, bisa cuci tangan dulu. Bukan nggak percaya Mbok, soalnya baby Ara sensitif. Dia lahir prematur," ujar Albirru yang langsung mendapat anggukan dari Mbok Sum.
Wanita itu berjalan mendekati washtafel dan mengganti pakaiannya dengan dilapisi oleh alas yang tersedia dia ruangan Jazira. Jazira yang tadi sempat tertidur pun sedikit membuka matanya dan melihat adanya Mbok Sum dan Johan.
Sementara Mbok Sum yang telah selesai mencuci tangannya serta melapisi tubuhnya dengan alas khusus pun berjalan mendekati Albirru. Albirru pun memberikan tubuh mungil sang putri kepada wanita yang telah membesarkannya tersebut. Betapa terkejutnya Mbok Sum ketika melihat wajah Arasa.
"MasyaAllah, wajahnya persis sama seperti Den Albi dulu. Terlebih lagi Den Albi yang dulu juga lahir prematur, dari matanya, hidungnya, alisnya, serta bibirnya semua mirip Den Albi waktu itu. Mbok Sum saja masih mengingat seperti apa wajah Den Albi waktu masih bayi. Ya seperti ini. Hanya berbeda kelamin saja," ujar Mbok Sum yang membuat Albirru tersenyum lebar. Laki-laki itu mengelus tubuh mungil sang buah hati dengan besarnya.
Sementara Albirru yang melihat hal tersebut pun melarangnya karena dia tahu bahwa sang istri baru saja melakukan operasi caesar untuk melahirkan buah hati mereka.
__ADS_1
"Jangan gerak, Ra! Jahitan kamu belum kering!" ujar Albirru penuh perhatian yang membuat Jazira memutar bola matanya jengah.
"Nggak usah sok perhatian! Nggak bakal luluh juga ni emak-emak!" ujar Jazira sinis sembari menjauhkan tanya besar milik suaminya dari tubuhnya.
"Nggak nurun gimana, Non? Overall persis seperti Non Maira, namun bagiannya saja yang ikut ambil alih dari papa nya," ujar Mbok Sum yang membuat Albirru berbangga diri. Jazira pun meminta kepada Johan untuk menaikkan brangkarnya agar dirinya bisa terduduk.
"Oh iy, Non. Si kecilnya sudah diberi ASI belum? ASI pertama itu baik loh untuk kekebalan tubuhnya Non Ara. Terlebih lagi Non Ara butuh antibodi karen tubuhnya yang masih ringkih," ujar Mbok Sum yang membuat Jazira teringat.
"Bel-" ucapan Jazira terpotong karena Albirru terlebih dahulu berbicara.
"Tadi udah Albi coba, Mbok. Pas Maira belum siuman tadi, tapi belum keluar dua-duanya. Biasanya bisa keluar setelah berapa jam atau berapa hari Mbok?" jawab Albirru santai yang membuat Jazira melotot seketika.
__ADS_1
Jazira menolehkan kepalanya seketika kepada sang suami dengan mata yang terbelalak besar.
"Hah?!"