
"Jangan inget-inget masa lalu lagi, Al. Kita harus fokus buat Zizi. Manfaatkan kesempatan yang gue kasih ke lo buat jaga adik gue, sebelum gue ambil adik gue dari lo!" ujar Marcel yang membuat Albirru menganggukkan kepalanya.
"Lo masih mau maafin gue? Gue udah rebut," ucap Albirru yang perkataan nya terpotong karena Marcel mengangkat tangan kanannya dan di letakkan ke bahu lebar milik Albirru.
"Seharusnya gue ucapan makasih sama lo. Nyatanya Jessica nggak sebaik yang kita berdua kira kan? Lo tetep sahabat gue. Gue bakal ada di sisi lo selagi lo mau berubah. Tapi gue nggak akan segan-segan buat bawa semua yang lo punya saat ini pergi kalau lo nggak ada perubahan. Lo lihat kan? Dengan sifat lo yang bejat kemarin, istri dan anak lo menderita!" potong Marcel dengan nada percaya dirinya yang membuat Albirru menundukkan kepalanya.
"Gue janji sama lo, gue akan berubah buat Maira. Gue bener-bener nggak mau kehilangan Maira, jangan bawa dia pergi dari gue," pinta Albirru dengan sungguh-sungguh yang sama sekali tak dijawab oleh Albirru.
"Kalo soal hal itu, itu diluar kendali gue Al. Tapi siapa sih yang mau lihat kalo rumah tangga adik sendiri hancur dengan perceraian? Semua kakak nggak akan pernah mau, Al. Tapi gue bakal bantu lo buat dapetin maaf dari Zizi. Selebihnya gue nggak bisa apa-apa," ujar Marcel yang membuat Albirru mendongakkan kepalanya.
"Gue ucapin makasih banyak sama lo. Gue janji nggak akan rusak persahabatan kita lagi, dan gue janji nggak akan pernah sia-siain Maira," ujar Albirru dengan tatapan tegasnya yang langsung di angguki oleh Marcel.
"Gue nggak butuh omongan dan janji lo, Al. Gue cuma butuh lo usaha lebih lagi buat adik gue. Sekarang lebih baik lo nyusul Jingga sama yang lain. Zizi butuh lo sebagai suaminya," ujar Marcel sembari berdiri dan menundukkan kepalanya.
Albirru pun menghapus air matanya dengan sedikit kasar lalu segera bangkit. Laki-laki itu menghembuskan napasnya dengan sedikit kasar lalu mengikuti langkah Marcel yang berjalan keluar dari ruang UGD.
Beberapa orang yang memang masih berada di luar ruang UGD tersebut mengucapkan bela sungkawa kepada Albirru yang dibalas dengan ucapan terimakasih dari Albirru.
Kedua laki-laki tampan itu berjalan menuju ruang mayat yang terletak di ujung koridor rumah sakit di lantai satu itu. Tatapan kedua laki-laki itu tertuju pada Jazira yang menyandarkan tubuhnya di tembok yang ada di depan ruang mayat itu dan terduduk di atas lantai tanpa alas.
__ADS_1
Sedangkan Jingga yang sedari tadi berjongkok di sebelah Jazira itu masih saja mengelus punggung milik Jazira yang bergetar hebat.
Sesampainya mereka berdua di depan pintu ruang mayat, Albirru menundukkan kepalanya yang membuat Jingga mendongakkan kepalanya. Albirru memberi isyarat kepada sang adik agar berpindah dan dirinya lah yang menggantikan posisi Jingga.
Perlahan Jingga pun menganggukkan kepalanya dan mulai bangkit dari posisi awalnya. Albirru menatap beberapa orang terdekatnya yang ada di sekitar dirinya dan sang istri.
Tatapan yang Albirru berikan seolah mengatakan bahwa agar mereka semua meninggalkan dirinya dan sang istri terlebih dahulu. Mbok Sum, Paman Johan, Jingga, dan Marcel pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan menjauhi kedua laki-laki yang baru merasakan menjadi orang tua walau hanya sehari itu.
Setelah kepergian orang-orang dari sisi dirinya dan juga sang istri, Albirru pun mendekati sang istri yang masih terduduk di atas lantai lalu berjongkok di sebelah sang istri.
"Ra," bisik Albirru kepada sang istri yang tak membuat Jazira menolehkan kepalanya sama sekali. Gadis itu masih menatap pintu ruang mayat yang ada di hadapannya dengan tatapan kosongnya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa terukir kesedihan mendalam di dalam tatapan kosong milik Jazira.
"Kamu harus kuat, Sayang. Arasa juga nggak mungkin mau lihat Mama yang paling dia sayangi ini menangis," ujar Albirru dengan nada lembutnya yang berhasil membuat Jazira menolehkan kepalanya.
Tatapan kedua insan tersebut bertemu satu sama lain. Beberapa lama tatapan mereka sama sekali tak terputus. Dapat Albirru rasakan bagaimana perasaan sang istri kali ini.
Perlahan laki-laki itu mulai membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya yang sukses membuat Jazira kembali menangis sesenggukan.
"Arasa," lirih Jazira dalam rengkuhan hangat sang suami yang langsung diangguki oleh Albirru. Laki-laki itu mengecup puncak kepala milik sang istri dengan sangat khidmat.
__ADS_1
"Mas ada buat kamu, Ra. Kita harus kuat buat Ara. Kamu mama terhebat yang ada di dunia ini," ujar Albirru sembari mengeratkan pelukannya kepada sang istri yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.
"Arasa pergi karena aku. Aku bersalah atas semua yang menimpa Arasa," ujar Jazira sembari mencengkeram erat baju milik sang suami. Wanita itu semakin membenamkan wajah cantiknya ke dalam dekapan sang suami.
"Aku nggak bisa sendiri. Aku capek ngadepin semuanya sendiri. Aku capek," lirih Jazira di dalam dekapan Albirru yang membuat Albirru segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Laki-laki itu benar-benar tak habis pikir dengan apa yang menjadi pemikiran sang istri saat ini.
"Semua ini bukan salahmu, Ra. Kamu masih punya aku, Jingga, Kak Marcel, Mbok Sum, dan paman Johan. Kamu nggak sendiri, Ra. Mas sayang sama kamu," ucap Albirru sembari mengecup puncak kepala milik sang istri kembali.
"Pada awalnya aku berpikir kalau aku nggak butuh siapa-siapa lagi selain Arasa. Tapi aku bohong, aku nggak kuat buat nanggung semua ini," ujar Jazira dalam dekapan Albirru yang membuat laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu berubah banyak, Ra. Sekarang kamu terlalu mandiri, nggak sama seperti Maira yang dulu. Aku mau kamu berubah seperti dulu, Ra. Kamu masih punya suami," ujar Albirru yang mencoba mengutarakan permintaan dirinya agar sang istri berubah kembali.
Jazira sama sekali tak bergeming atas ucapan yang sang suami katakan. Wanita itu kembali terdiam dan memorinya terpental jauh dimana penggalan peristiwa saat sang suami seakan tak menganggapnya sebagai seorang istri.
"Berubah? Kini setelah aku kehilangan semuanya dan kamu baru minta aku buat berubah? Terlambat," jawab Jazira sembari mendongakkan kepala dan menatap wajah tampan sang suami yang terlihat sedikit kaget dengan jawaban sang istri.
"Maafkan aku, Ra. Aku benar-benar menyesal," ujar Albirru mencoba meminta agar sang istri berubah pikiran.
"Terlambat,"
__ADS_1