ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 59


__ADS_3

Ketika Albirru tengah tertidur setelah mandi dari aktivitas olahraga yang tadi dia lakukan, terbangun karena mendengar dering di teleponnya yang berbunyi berkali-kali. Mau tak mau, laki-laki yang tertidur hanya mengenakan celana rumah itu pun mengulurkan lengan beetatonya ke atas nakas dan menggapai ponselnya yang sedari tadi berdering.


Dengan mata yang masih terpejam, Albirru menggeserkan tombol telepon berwarna hijau ke samping dan dengan segera menempelkan ponselnya ke telinga.


"Selamat sore, Tuan Albirru. Maaf saya mengganggu waktu Tuan Muda. Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda," sapa Johan setelah mengetahui bahwa Albirru telah mengangkat teleponnya.


"Hmm, apa yang ingin kau sampaikan? Segera katakan saja," jawab Albirru sembari memejamkan matanya kembali.


"Anda baru saja menerima sejumlah uang yang ditransfer dari El Sanders Production yang dinaungii oleh Tuan Marcelio El Sanders," ucap Johan yang membuat Albirru terkejut, seketika Albirru pun membelalakkan matanya. Dia segera duduk dari tidurnya dan mencoba menyimak apa yang dikatakan oleh sang direktur.


"Apakah ada sebuah pesan atau apapun itu yang Marcel berikan untukku?" tanya Albirru yang langsung membuat Johan langsung membuka sebuah dokumen yang dikirim oleh bawahan Marcel.


"Ada sebuah dokumen pribadi yang pihak mereka kirimkan. Saya akan segera mengirimkan file tersebut kepada Tuan Muda," jawab Johan sambil mengirimkan file berbentuk Pdf itu kepada Albirru.


Tak lama setelah itu, sebuah notifikasi pesan yang datang dari Johan membuat Albirru dengan cepat mematikan panggilan dari Johan. Albirru pun segera membaca dokumen yang dikirimkan oleh Marcel.


Johan yang lagi-lagi dimatikan panggilannya oleh Albirru pun hanya dapat menghela nafasnya perlahan sembari mengelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar turut prihatin dengan keadaan Tuan Albirru. Semua ini terjadi karena ulahmu sendiri, jadi harus tabah menjalani semua ini. Selamat berjuang," ucap Johan sebelum kembali kepada pekerjaannya.


Albirru merasakan jantungnya berdegub dua kali lebih kencang daripada sebelumnya. Albirru pun mulai membuka dokumen yang dikirimkan oleh Johan. Dalam benaknya, dia berpikir mungkin saja itu uang yang dikirim dari Jazira. Namun Albirru berharap semoga apa yang dia pikirkan itu tidak terjadi.


Setelah dokumen tersebut terbuka, dua kata yang berada di awal paragraf membuat napas Albirru tercekat. Albirru sedikit menahan nafasnya karena takut meneruskan apa yang telah dia baca ini.

__ADS_1


'Untuk suamiku,


Bagaimana kabar mu? Aku berharap kau baik-baik saja dengan keluarga kecilmu itu. Meskipun aku merasa kecewa padamu, tapi aku akan berusaha melupakan semuanya dan mendoakan yang terbaik untuk kalian semua. Aku pun berdoa supaya bayi kecilmu segera terlahir di dunia dalam keadaan yang selamat dan sempurna.


Ku mohon, jangan pernah ingat aku lagi. Lupakan saja gadis yang kau nikahi secara kontrak ini. Biarkan dia hidup sendiri. Tapi tenang, aku tidak benar-benar sendiri. Aku bersama dengan adikmu yang ternyata sangat menyayangiku. Aku merasa sangat bersyukur karena telah bertemu denganmu juga bertemu dengan Jingga.


Aku juga mengucapkan terima kasih banyak karena meskipun dalam waktu yang singkat, kita pernah tidur bersama dalam keadaan yang menerima satu sama lain. Aku juga bersyukur karena kau telah memberiku sebuah pelajaran yang amat berharga untuk hidupku yang baru ini.


Aku mohon, jika suatu saat nanti takdir menemukan kita kembali dan aku tengah mengandung, jangan perolok bayi yang kelak akan ku kandung. Terima kasih karena kau telah memberiku cenderamata terbaik padaku sebelum akhirnya aku pergi meninggalkanmu.


Aku berjanji padamu, aku akan menjaga benihmu baik-baik. Aku takkan pernah membiarkan dirinya pergi meninggalkanku, seperti dirimu.


Aku rasa, kini tak ada lagi yang bisa ku tulis untukmu. Aku takut jika aku terlalu banyak menulis, aku akan mengatakan semua isi hatiku padamu.


Oh ya, aku kembalikan semua yang yang pernah kau berikan padaku. Tenang lah, aku belum menggunakannya walau hanya sepeser pun. Terimakasih atas segalanya. Peluk jauh untuk laki-laki yang pernah mengisi hatiku.


Albirru menghela napasnya panjang ketika mengakhiri apa yang Jazira tulis. Kali ini dia benar-benar menyesal karena termakan oleh perkataan Marcel dan Larina. Dia benar-benar merasa bahwa orang terbodoh di dunia ini hanya dirinya.


"Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan wanita seperti dirimu. Aku serahkan semua kepada Tuhan, dengan semua yang akan terjadi pada bahtera kita yang mulai terombang-ambing ini. Aku selalu berharap agar kau bisa kembali padaku, tetapi akupun tak akan memaksa jika kau memang bukan jodohku," ucap Albirru dengan adalah penuh penyesalannya. Lelaki tampan itu mengusap perlahan wajah tampaknya dan mencoba untuk lebih tenang.


...*****...


Pukul 06.30 waktu London,

__ADS_1


Hari ini, Jazira yang bangun lebih awal daripada Jingga pun sudah rapi dengan pakaian baru yang akan menjadi seragamnya untuk hari-hari berikutnya. Jazira berjalan keluar dari kamar mandi sembari menghela nafasnya sedikit kasar.


Wanita itu berjalan mendekati kaca besar yang ada di lemarinya dan menatap penampilannya kali ini. Jazira sedikit menggelengkan kepalanya karena melihat penampilannya yang benar-benar berbeda. Wanita yang ada di pantulan cermin itu bukanlah Jazira yang dahulu. Bukan Jazira yang masih polos dan tak mengetahui banyak hal.


Tubuh proporsional miliknya terbalut dress tiga per empat serta sebuah jas kerja yang sangat pas di tubuhnya. Dengan segera, Jazira pun mulai merapikan rambut panjangnya.


Setelah semua tertata, Jazira menatap wajah cantik dirinya di cermin yang ada di hadapannya. Wajah mungil dengan riasan yang tipis, serta rambut yang tergelung rapi dibawah membuat penampilan Jazira sungguh sangat perfect.


Ditambah lagi sebuah anting simple yang menghiasi telinganya benar-benar membuat Jazira terlihat semakin manis. Jingga yang baru saja terbangun dan berjalan menuju kamar sang kakak pun terkejut melihat penampilan Jazira.


Tatapan Jingga langsung memindai penampilan Jazira dari ujung kepala yang lelah digelung rapi hingga ujung kaki Jazira yang telah memakai heels dengan tinggi 5 cm, membuat gadis yang masih menggunakan daster rumahan itu menganga.


"Ini beneran Kak Zizi?" tanya Jingga dengan wajah terkejutnya yang membuat Jazira menganggukan kepala sembari menatap pantulan wajah sang adik dari cermin.


"Oh my God! You look so pretty Kak Zi!" puji Jingga yang membuat Jazira berjalan mendekati sang adik. Tangan mungilnya tergerak menuju telinga milik Jingga dan sedikit menjewernya perlahan.


"Kau baru bangun, asisten pribadiku?" tanya Jazira dengan nada menggoda yang membuat Jingga langsung menyebikkan bibirnya maju. Gadis itu segera melepaskan tangan Jazira yang berada di telinganya lalu memeluk pinggiran pintu di kamar Jazira.


"Telat dikit juga nggak apa-apa kan, Kak? Orang atasannya Jingga juga masih di rumah gini. Nggak bakal kena semprot lah," ujar Jingga meremehkan yang membuat Jazira menepuk perlahan perut Jingga.


"Nggak ada males-malesan. Cepet mandi, tiga puluh menit lagi kita langsung ke kantor. Kita ada acara pelantikan juga," ujar Jazira sembari mendorong tubuh Jingga agar masuk ke kamar yang ada di sebelah kamarnya.


Jingga sama sekali tak membantah, dia segera berjalan masuk ke kamar yang membuat Jazira tersenyum lega. Jazira pun berjalan kembali menuju lemarinya dan mulai membuka satu pintu lemari berwarna coklat tersebut.

__ADS_1


Tangannya terangkat untuk membuka laci kecil yang di bagian depannya tergantung sebuah kunci. Jazira mengangkat tangan kanannya dan melepas cincin emas yang selalu melingkar di jari manisnya.


"Terimakasih untuk segalanya, Tuan Albirru. Kau harus memulai hidup baru mu, Zi."


__ADS_2