ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 102


__ADS_3

"Mungkin saja hal itu karena baby Arasa belum memiliki antibodi yang bagus. Terlebih lagi karena baby Arasa belum mendapatkan ASI pertamanya," jawab sang perawat yang sama sekali tak melunturkan rasa khawatir Jazira.


"Benarkah seperti itu? Baiklah, kita lakukan metode yang sempat suster katakan kemarin pagi ini juga ya. Saya ingin putri saya segera mendapatkan ASI pertamanya. Saya mohon," ujar Jazira memohon sembari mengeratkan pelukannya kepada sang putri.


"Tenang lah, Ra. Arasa akan baik-baik saja. Kita menunggu prosedur sesuai yang dianjurkan oleh pihak rumah sakit saja ya?" ujar Albirru seolah tahu bahwa tak semua yang Jazira inginkan dapat dia lakukan saat itu juga. Semua butuh proses.


"Lalu bagaimana jika setelah ini putriku tak baik-baik saja?! Aku ingin sekarang! Tak peduli aku harus membayar berapa pun itu untuk melakukan hal ini!" sergah Jazira sembari menatap tajam netra milik sang suami.


"Bukan seperti itu, Ra," bujuk Albirru sembari menyentuh lengan milik sang istri. Jazira menggelengkan kepalanya sembari menggegerkan tubuhnya agar uluran tangan sang suami tak sampai di bahunya.


"Jangan sentuh aku! Aku tahu, kau hanya berpura-pura peduli padaku dan putriku bukan?! Pergilah, aku dan putriku sama sekali tak membutuhkan adanya kau disini!" ujar Jazira dengan mata yang mulai memanas sembari menatap nyalang pada sang suami.


"Maira!" sentak Albirru lirih sembari menyentuh lengan milik sang istri. Namun dengan segera Jazira segera menjauhkan tangan sang suami dari lengannya.


"Jika kau memang peduli pada putriku yang tak kau anggap ini, setidaknya kau akan melakukan segala upaya agar dirinya dapat bertahan hidup! Kau tahu bukan, hanya dia yang aku miliki di dunia ini! Tapi sikap yang kau tunjukkan beberapa hari ini sudah cukup membuatku merasa muak dengan sikap mu itu! Pergilah!" seru Jazira dengan air mata yang mulai mengalir.

__ADS_1


Entahlah, mungkin dirinya kali ini tengah mengalami baby blues. Hal ini Jazira rasakan karena pengaruh sang putri yang keadaannya sangat drop hingga permintaannya untuk bercerai dengan Albirru selalu sang suami tolak.


"Sus, tolong antar saya ke dokter ahlinya ya? Saya juga minta tolong untuk membawa baby Arasa ke ruang khusus yang dapat memberikan perawatan terbaik padanya saat saya melakukan usaha laktasi. Bisa?" ujar Jazira kepada sang perawat yang membuat perawat tersebut menatap wajah tampan milik Albirru.


"Jangan hiraukan dia! Saya yang meminta Anda untuk melayani saya! Saya akan bayar berapa pun itu jika Anda membantu saya kali ini!" tegas Jazira kepada sang perawat yang membuat perawat itu segera menganggukkan kepalanya.


"Bawa putri saya terlebih dahulu! Tempatkan dan berikan perawatan terbaik untuknya! Saya tak ingin mendengar sedikit kabar buruk pun tenang dirinya, kau paham?!" seru Jazira dengan nada tegas nya yang membuat sang suster semakin ketakutan.


Tak hanya sang suster, Albirru pun terkejut melihat perubahan sikap sang istri. Laki-laki itu masih menatap wajah datar milik sang istri yang tengah memberikan putri mereka ke perawat tersebut yang langsung dibawa kembali ke inkubator khusus milik Arasa.


Netra laki-laki itu masih menatap wajah sang istri yang kini mulai basah oleh air mata. Jazira yang tahu bahwa dirinya tengah di tatap oleh Albirru pun sama sekali tak menghiraukannya. Tangan mungil milik Jazira tersebut tengah mencari nomor seseorang di kontaknya. Hingga tak lama, suara sambutan dari seberang sana membuat Jazira menghapus air matanya.


"Kak Marcel, Zizi minta nomor pengacara yang kemarin Kak Marcel kenalkan ya? Atau kalau bisa Kak Marcel saja yang mengajukan gugatan perceraian Zizi ke pengadilan. Zizi rasa, Zizi nggak akan sempet kalo ngurus hal itu. Zizi minta tolong ya kak," ujar Jazira kepada seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Marcel.


Terdengar jawaban dari sana yang membuat Jazira menganggukkan kepalanya. Sementara Albirru yang mendengar ucapan dari sang istri pun terkejut bukan main.

__ADS_1


"Maira! Jangan berbuat gegabah, Ra! Aku sama sekali nggak mau pisah dari kamu, ya! Sampai kapan pun kamu adalah istriku!" tolak Albirru dengan tangan yang terkenal erat tatkala mendengar ucapan dari sang istri baru saja.


"Apa yang kau katakan? Istrimu? Sejak kapan kau menganggap aku sebagai istrimu, hah?! Apakah dengan berselingkuh secara terang-terangan dihadapan ku lalu meninggalkan aku sendiri dalam keadaan hamil itu kau anggap sebagai apresiasi mu padaku sebagai istri bayaranmu?" tanya Jazira dengan sisa air mata yang mulai kembali menetes.


"Dan ya, apakah kau juga lupa bahwa kontrak pernikahan kita habis di bulan ini? Sungguh sangat kebetulan, baiklah kita putuskan sekarang saja," ujar Jazira dengan tatapan elangnya kepada Albirru.


"Dengarkan ini baik-baik. Hari ini, saya, Jazira Altamaira resmi menyudahi kontrak pernikahan yang Tuan Albirru Geano Alexander tetapkan tepat 10 bulan yang lalu. Dengan ini, saya berharap agar, Anda berhenti mencampuri kehidupan saya beserta putri saya. Tenang lah, kau tak perlu menjatuhkan talak mu padaku. Aku yang akan mengurus perceraian kita mulai dari nol hingga kita resmi bercerai." Dengan lantang dan hati yang merasa digerus, Jazira mengatakan keputusannya kepada sang suami yang membuat Albirru diam mematung.


"Maira," ujar Albirru lirih dengan tatapan kosongnya kepada sang istri. Laki-laki itu menatap lekat wajah cantik milik Jazira.


"Jangan katakan hal itu, Ra. Kamu istriku, kita berdua bisa menghapus kontrak si*lan itu! Jangan lakukan hal ini padaku, Ra!" pinta Albirru kepada sang istri yang lagi-lagi tak digubris oleh Jazira.


"Kau pikir aku bercanda dengan ucapanku? Sekali aku bilang kita akan bercerai, maka hal itu lah yang akan terjadi! Pergi jauh dari hidupku! Aku benar-benar muak melihat tingkah mu yang tak pernah berubah sama sekali!" bentak Jazira dengan emosinya.


"Maira! Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan! Kita akan berpisah!" tegas Albirru dengan suara lantang yang membuat Jazira diam membeku. Jazira merasakan sesak di dadanya tatkala mendengar ucapan dari sang suami yang terdengar sangat mantap, tanpa keraguan di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2