
Jingga terkejut dengan gerakan kepala sang kakak. Dia mencoba bertanya kembali untuk memastikan apa yang dia pikirkan.
"Jangan gegabah buat ambil keputusan kak Zi! Jingga akan dukung apapun pilihan Kak Zizi. Jangan sampai pilihan Kak Zizi kali ini jadi bumerang buat Kak Zizi sendiri!" ucap Jingga tak percaya sambil menatap heran kepada sang kakak ipar.
"Kak Zizi mau bertahan dulu, Ngga. Kak Zizi takut," ucap Jazira sambil menundukkan kepalanya untuk memutuskan tatapan tajam dari Jingga pada dirinya.
"Nggak, kak! Jingga nggak rela kalau Kak Zizi bertahan sama laki laki berng*ek seperti Kak Albi. Banyak laki laki di luaran sana yang akan lebih menghormati Kak Zizi," tolak Jingga yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya. Jingga tak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Yang ada dibenak Jazira hanyalah, bagaimana jika dirinya hamil anak Albirru.
Apakah dirinya harus pergi dan menyembunyikan anaknya serta Albirru dari suaminya itu? Bisa saja bukan? Tapi dirinya tak ingin memberikan kesempatan kepada Larina untuk merebut kasih sayang Albirru yang harusnya Albirru berikan untuk anaknya kelak.
"Enggak, Ngga. Nggak akan ada yang mau menerima kak Zizi lagi. Biarkan Kak Zizi bertahan terlebih dahulu. Setidaknya satu bulan kedepan. Bukankah kakakmu akan mencari bukti bahwa itu bukan anaknya? Kita tunggu hasilnya dulu ya? Minimal sampai batas kesabaran Kak Zizi habis lah, Ngga." Jazira terkekeh perlahan sambil menutupi sakit yang mendera hatinya.
"Nggak! Jingga berjanji akan bawa kak Zizi pergi dari hidup pria biad*b seperti Kak Albi! Lihat saja, apa yang akan Jingga lakukan untuk itu!" sanggah Jingga lalu pergi keluar dari kamar milik kakaknya.
Dia berjalan meninggalkan kamar sang kakak dengan emosi. Emosinya bertambah ketika dirinya melihat sang kakak yang tengah berbicara dihadapan Larina.
Apa yang Larina lakukan di rumah kakaknya sepagi ini? Pikir Jingga dalam benaknya ketika menatap tajam Larina. Sia berjalan mendekat dan berdiri di sebelah kakaknya.
"Pagi pagi udah diapelin ceweknya. Ceweknya mantep ya, Bang? Oh iya gue lupa lagi bunting kan bininya? Eh salah lagi, lagi bunting kan selingkuhannya? Diurus Bang, kasian nggak ke urus!" ucap Jingga sembari menekankan kata selingkuhannya.
Albirru yang mendengar hal itupun menatap Jingga dengan tatapan tajam. Sedangkan yang ditatap tajam pun hanya tersenyum miring sambil menatap tajam Larina yang tengah menundukkan kepalanya.
"Maksud kamu apa, Ngga?! Kak Albi sama sekali nggak-" ucapan Albirru terpotong karena isyarat dari tangan Jingga.
"Sst ... Sst ... Sst ... Nggak usah cari pembelaan atau apapun. Jingga nggak pernah berani sama Kak Albi, karena apa? Karena Jingga pikir kalau Kak Albi adalah lelaki yang baik. Tapi semuanya salah! Sekalinya Kak Albi buat salah sama Kak Zizi, Jingga masih maafin. Tapi kali ini, nggak sama sekali!" ujar Jingga yang membuat Albirru semakin menatapnya tajam.
"Lihatlah apa yang akan Jingga lakukan buat bawa pergi Kak Zizi dari hidup Kak Albi! Puas puasan sebelum Kak Zizi pergi! Urus juga tuh calon ibu dari anaknya Kak Albi!" bentak Jingga dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan rumah kakaknya.
__ADS_1
Entahlah, Jingga merasa sangat emosional ketika tahu bahwa kakaknya mengkhianati kakak iparnya. Rasa menyesal seketika menyeruak di lubuk hati Jingga yang paling dalam ketika mengingat bahwa dirinya pernah meminta kakak iparnya untuk bertahan.
"Gue butuh bantuan Kak Marcel." Jingga segera masuk kedalam mobilnya dan berniat untuk langsung pergi ke apartemen milik Marcel. Seketika ide berlian muncul di benak gadis cantik dengan pakaian formal itu.
Jingga tersenyum puas setelah memiliki rencana untuk membawa pergi Jazira dari kehidupan kakaknya. Bahkan Jingga pun tak pernah berpikir jika sang kakak akan melakukan hal sejauh itu meskipun dia telah menikah.
Tak lama setelah itu, dirinya telah tiba di apartemen milik Marcel. Dia segera turun dan berjalan menuju unit milik Marcel dengan perasaan yang menggebu gebu. Keinginannya untuk memisahkan kedua kakaknya sangat kuat.
Sesampainya dia di depan unit milik Marcel, Jingga pun segera memasukkan password pintu apartemen milik Marcel. Tak sulit, hanya tanggal lahir milik laki laki berdarah dingin itu.
Setelah terbuka Jingga segera berjalan cepat mencari keberadaan sang atasan. Mata Jingga membola ketika tahu bahwa Marcel baru saja selesai mandi.
"Kak Marcel!" pekik Jingga kaget dan langsung membalikkan badannya. Jingga memejamkan matanya karena menahan malunya. Sedangkan Marcel yang mendengar teriakan orang lain di rumahnya pun segera menatap kearah Jingga.
"Ngapain teriak teriak? Salah sendiri kenapa nggak ketuk pintu atau panggil panggil dulu?" jawab Marcel santai sambil memakai kemeja serta setelan jas nya. Jingga hanya memutar matanya jengah sembari mengepalkan tangannya kuat kuat.
"Namanya juga buru buru! Gue mau minta tolong sama lo," ucap Jingga dengan nada malunya sambil melipat bibirnya kedalam. Marcel menaikkan sebelah alisnya sambil merapikan rambutnya.
"Bukan gue! Tapi soal Kak Zizi!" ucap Jingga dengan nada yang sedikit tinggi. Marcel yang mendengar kata Jazira pun berjalan mendekati Jingga yang masih berdiri membelakanginya.
"Kenapa sama Zizi? Ada masalah sama dia dan kakak lo?" tanya Marcel sambil berdiri di hadapan Jingga yang membuat gadis mungil itu terkejut bukan main. Jingga mendongakkan kepalanya menatap sang atasan.
"Iya, gue mau lo bantuin gue buat bawa pergi Kak Zizi dari Kak Albi." ucap Jingga yang membuat Marcel terkejut. Bukankah seharusnya Jingga mencoba menyatukan kedua kakaknya yang hanya menikah kontrak?
"Coba ceritain apa masalahnya sampai lo yang biasanya dukung mereka berdua, tapi kini lo malah minta bantuan ke gue buat pisahin mereka?" ucap Marcel sambil membawa kedua tangan Jingga ke dadanya, memberi kode pada Jingga untuk membenarkan dasinya sambil bercerita.
Jingga hanya mematuhi apa yang Marcel minta. Dia membenarkan dasi milik Marcel sambil menceritakan semuanya. Dia juga meminta Marcel untuk melakukan seperti apa rencana yang dia buat sedari tadi ketika perjalanan menuju apartemen Marcel.
__ADS_1
"Lo yakin kalo rencana yang lo buat nggak akan merugikan buat Zizi? Gue takut kalau mereka malah bertengkar, atau yang lebih parahnya lagi kalau sampai kakak lo marah dan macam macam ke Zizi." tanya Marcel yang sedikit ragu dengan rencana Jingga.
Jingga menggelengkan kepalanya dengan mantap sambil menatap netra milik Marcel.
"Justru itu yang gue mau. Gue mau biar salah satu dari mereka ada yang marah dan berakhir dengan cerai atau apapun itu. Gue nggak tega lihat Kak Zizi yang dengan mata kepalanya sendiri lihat gimana suaminya ngurus dan perhatiin cewek lain yang lagi bandung anak kakak gue. Gue mohon ya, plis." pinta Jingga yang langsung diangguki oleh Marcel.
"Semoga ini bisa jadi yang terbaik buat Zizi. Gue juga nggak akan terima kalau adik gue sampai menderita." ujar Marcel yang disambut dengan senyum lebar dari Jingga.
********
Sementara Jazira yang mendengar bahwa ada suara Larina di rumah suaminya pun segera mengintip dari balik pintu yang dia buka sedikit, sehingga membuat sedikit celah dan dirinya dapat melihat kondisi luar.
Jantungnya sedikit merasa sakit ketika melihat Albirru yang tengah memijat tengkuk milik Larina yang tengah muntah. Jazira segera mengalihkan pandangannya dan segera kembali masuk ke dalam kamarnya.
Seketika bayangan apartemen milik orang tuanya yang belum dia tengok pun membuat dirinya ingin pergi ke rumah orang tuanya. Dengan segera, Jazira pun segera menyiapkan semuanya dan bergegas hendak pergi dari rumah sang suami.
Apa perannya dirumah ini? Sebagai penonton drama yang Larina buat untuk Jazira? Tidak, Jazira lebih baik menghabiskan waktunya untuk membersihkan apartemen milik orang tuanya.
Belum sempat dirinya membuka pintu kamar, ponselnya berdering dan memperlihatkan nama sahabatnya disana. Jazira segera mengangkatnya dan mendengar apa yang hendak sang sahabat katakan.
Jazira tersenyum lebar saat tau jika sahabatnya sudah berada di depan rumahnya. Setelah mematikan panggilannya, Jazira pun segera keluar dari kamar. Tepat saat sang suami yang sedang menyuapi Larina. Ya, ibu hamil itu sungguh merepotkan Albirru.
Jazira yang melihat hal itu pun berdiri mematung. Namun tak lama setelah itu dirinya segera berjalan menuju pintu rumahnya, menghiraukan Albirru yang berhenti dari kegiatannya untuk menyuapi Larina saat melihat Jazira melewatinya begitu saja.
"Mbok, Zizi pergi dulu ya? Mungkin nanti Zizi pulang sedikit terlambat. Nanti Zizi bawakan oleh oleh buat Simbok." ucap Jazira sambil menyalami Mbok Sum. Sedangkan Mbok Sum hanya menatap kedua atasannya yang sama sekali tak berbicara. Terlebih lagi saat ini Albirru yang tengah menatap tajam pada Jazira.
"Diantar sama siapa, Non?" tanya Mbok Sum mencoba bertanya kepada Jazira yang tengah membenarkan sepatu kets nya.
__ADS_1
"Sama temen laki laki Zizi, Mbok." ucap Jazira ngawur yang membuat Albirru terkejut.
Masih ada yang nunggu nggak, nih?