
Dentuman musik yang mengiringi para remaja serta kumpulan wanita berpakaian mini itu membuat Albirru sejenak melupakan masalah yang ada di rumah.
Ya, kali ini suami Jazira tersebut lebih memilih club' malam sebagai tempat untuk melupakan semua masalahnya.
Setelah mengatakan bahwa Jazira menginginkan talak dan usul poligami dari dirinya, Albirru pun berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan niatan bodoh Jazira.
"Maira!" seru Albirru yang membuat Jazira terkesiap. Jazira menatap penuh ketakutan pada sang suami.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, Ra?! Kau tahu? Aku berusaha setengah mati untuk meluluhkan hatimu, agar kita tak berpisah apapun halangannya. Tapi sekarang apa yang kau katakan?!" ucap Albirru sambil memegang kedua bahu kecil milik istrinya.
"Jika kau tak ingin berpisah denganku, maka ambillah opsi kedua. Setidaknya anak yang ada dikandungan Larina tak akan tertelantarkan." jawab Jazira dengan suara kecilnya.
"Nggak! Aku nggak akan milih diantara keduanya! Dua pilihan yang kamu beri sama sama akan menyakiti hati kamu, Ra!" tolak Albirru dengan nada yang lebih tinggi.
Jazira hanya menangis mendengar bentakan yang terlontar dari mulut sang suami. Dengan kasar, Jazira menghapus air matanya. Dia menatap netra milik sang suami yang tengah menatapnya dengan tatapan marahnya.
"Setidaknya kau dapat menjaga dan memastikan keadaan ibu dari calon anakm-" ucapan Jazira terpotong karena Albirru langsung menyambar bibirnya yang tengah bergetar itu.
Albirru mencium bibir Jazira dengan kasar. Jazira memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir. Jazira berpikir jika ini bukanlah suaminya. Bahkan sebelum mereka berdua mulai akrab Albirru tak pernah melakukan hal seperti ini.
Albirru semakin menekan tengkuk milik istrinya untuk pedalam ciuman kasarnya. Jazira yang hampir kehabisan nafas nya pun memukul dada bidang milik Albirru dengan sedikit keras.
Jazira membuka matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan, seolah mengatakan kepada sang suami untuk menghentikan semua ini. Albirru yang mengerti apa yang dimaksud oleh sang istri pun segera menyudahi ciumannya.
Tanpa mengatakan apapun, Albirru pun meninggalkan Jazira yang tengah menatap kepergian suaminya.
Ya, Albirru memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Dia merasa sangat kecewa dengan Jazira, tetapi dia tak dapat memposisikan dirinya sendiri jika berada di posisi Jazira.
Sejak kepergiannya dari siang tadi, Albirru memutuskan untuk kembali ke kantor. Dia mengerjakan semua dokumen dokumennya, untuk menghilangkan rasa marahnya.
Ketika dirinya memutuskan untuk kembali ke rumah, tetapi pikirannya mengajak dirinya untuk pergi ke klub. Seperti kebiasaannya sebelum dirinya mengenal Jazira dan memutuskan untuk menikahi kontrak, wanita yang kini sangat dia cintai itu.
Albirru yang sedari tadi telah meneguk banyak minuman pun mendadak kehilangan kesadarannya. Albirru tumbang di sofa VVIP yang menghadap langsung ke dance floor dihadapannya.
Tumbangnya Albirru tersebut dijadikan mangsa untuk seorang wanita berpakaian seksi yang tengah berjalan mendekati Albirru. Dia duduk dipangkuan Albirru yang sedang memejamkan matanya.
Wanita tersebut mengalungkan kedua tangannya di leher Albirru. Sontak Albirru pun membuka matanya dan menatap tajam wanita yang berada di pangkuannya tersebut.
Mungkin efek karena dia sedang mabuk, dirinya malah melihat Jazira lah yang berada di pangkuannya. Albirru pun memeluk erat wanita yang sedang tersenyum manja kepada dirinya.
Wanita itu tersenyum menang ketika Albirru memeluk dirinya. Dia bukan wanita bodoh sehingga dia tidak tahu siapa lelaki yang tengah memeluknya kini. Seorang Albirru Geano Alexander, CEO muda yang berhasil menaklukkan permainan saham dengan sangat mudah.
"Maafkan aku, Ra. Aku mohon bertahanlah denganku." racau Albirru yang masih menganggap bahwa wanita yang sedang dia peluk ini adalah istrinya.
Wanita tersebut tersenyum miring dan melepas pelukannya dari Albirru, sehingga dirinya dapat melihat penuh wajah tampan milik CEO muda yang tak mudah ditaklukan itu.
Wanita tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, seolah-olah jadinya lah Jazira yang sedang Albirru mintai maaf. Albirru pun tersenyum senang ketika melihat wanita yang berubah wajah menjadi mirip Jazira tersebut menganggukkan kepalanya.
Dia menaikkan tangannya hingga berada di tengkuk wanita tersebut dan hendak menempelkan bibir keduanya. Namun belum sempat bibir keduanya benar benar menempel, wanita yang berada di pangkuan Albirru tersebut tiba tiba terjatuh dari pangkuan Albirru karena dorongan dari seorang.
__ADS_1
Albirru pun menolehkan kepalanya hendak marah karena telah menjatuhkan Jazira khayalan nya. Namun seketika matanya menyipit ketika melihat adik perempuan satu satunya berada ditempat seperti ini.
"Kak Albi kenapa ada di sini?! Kasihan Kak Zizi kalau nyariin Kak Albi!" ucap Jingga dengan nada yang tinggi karena musik yang mengalun keras di ruangan tersebut.
Albirru yang mendengarkan sayup sayup perkataan sang adik pun mengernyitkan dahinya bingung. Bukankah wanita yang tadi ada di pangkuannya pangkuannya adalah Jazira?
Albirru menatap perempuan yang sedang terduduk di lantai tatapan bingungnya lalu kembali menatap Jingga untuk memastikan bahwa itu adalah istrinya.
"Bukankah itu kakak ipar kamu?" ucap Albirru sambil menunjuk wanita yang masih duduk dengan posisi yang sama. Jingga pun membelakkan matanya dan menatap penuh keterkejutan pada kakak laki lakinya serta perempuan yang sedang duduk di lantai dengan pakaian mininya.
"Mana ada kak Zizi bentukannya kek gitu?! Kak Zizi ada di rumah! Dia nggak pernah masuk ke tempat kayak gini! Emang Kak Albi pernah lihat dia masuk ke tempat seperti ini?!" tanya Jingga dengan nada marahnya dan masih dengan nada yang tinggi.
"Tidak! Dia adalah gadis baik baik! Istriku tak mungkin berada disini. Tetapi dia sedang marah padaku kali ini. Aku tak berani pulang karena takut dia akan pergi jika aku pulang." ucap Albirru dengan ada sendunya sambil menundukkan kepalanya yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya. Betapa melankolisnya kakak laki lakinya itu setelah menikah.
"Terus kalau nggak pulang mau tidur dimana?! Ayo pulang!" ucap Jingga sambil menarik lengan kekar milik kakaknya. Jingga berusaha untuk mengangkat tubuh kakaknya. Namun apalah daya Jingga yang tenaganya tak sebanding dengan tenaga besar sang kakak.
Jingga memanggil Marcel yang sedari tadi berdiri sedikit jauh dari Jingga dan Albirru. Marcel berjalan dengan malas mendekati Albirru. Mungkin jika bukan karena permintaan Jingga, dia tak akan sudi mendekati rivalnya tersebut.
"Bantuin ngangkat Kak Albi ya? Gue yakin kalo Kak Zizi udah nungguin." bisik Jingga sambil berjinjit agar Marcel mendengar perkataannya di tengah hiruk pikuk musik disko di ruangan tersebut.
Marcel melirik ke arah Albirru yang.masih menundukkan kepalanya. Dia kembali menatap Jingga yang tingginya tak lebih dari dadanya tersebut.
"Ogah! Males gue ngangkat dia!" jawab Marcel sambil memasukkan kedua tangannya di saku. Jingga mendelik mendengar perkataan Marcel.
"Eh, kok gitu? Angkat nggak?! Cepetan angkat!" bentak Jingga sambil mencubit perut sixpack milik Marcel. Marcel sedikit meringis karena cubitan dari tangan mungil milik Jingga.
"Oke, gue mau. Tapi ada syaratnya." ucap Marcel dengan bangganya yang membuat Jingga menyebikkan bibirnya. Dia menatap miring pada laki laki yang hari ini mengatakan perasaannya pada dirinya.
"Cium gue dulu!" pinta Marcel sambil berbisik yang membuat bulu kuduk Jingga sedikit meremang. Jingga segera mendorong tubuh Marcel agar sedikit menjauhi tubuhnya.
"Cihh, dasar Marcel mesum! Nih cium si Mbak yang lagi liat Lo. Cium sepuasanya!" tolak Jingga lalu mencoba kembali untuk mengangkat tubuh sang kakak. Marcel melongo mendengar perkataan Jingga. Sepintas ide jahil muncul dibenaknya ketika melihat tampang Jingga.
"Oke, gue cium dia. Toh Lo sendiri yang nyuruh gue" bisik Marcel di belakang Jingga yang membuat Jingga melotot. Marcel bergegas mendekati wanita yang tadi terjatuh karena ulah Jingga.
Belum sempat Marcel menyentuh tangan seksi yang telah terulur pada dirinya, Jingga lebih dulu membalik tubuh tegap Marcel. Jingga langsung menjinjitkan kakinya dan mencium singkat pipi milik Marcel.
"Awas Lo macem macem! Udah cepet angkatin Kak Albi, udah malem juga. Keburu rame, ini!" pinta Jingga lalu menyeret Marcel agar mengangkat tubuh kakaknya.
Dengan malas Marcel pun membawa Albirru dengan susah payah ke mobilnya. Jingga berjalan di belakang Marcel dan mengikuti keduanya.
********
Setelah tiba di rumah, Marcel pun memapah Albirru hingga ke dalam rumah. Jingga membukakan pintunya dan ikut membantu Marcel memapah kakaknya yang tengah mabuk berat.
Tepat saat itu juga Jazira yang hendak kembali ke kamarnya terkejut melihat sang suami yang sedang dipapah oleh adik ipar serta kakak tirinya.
"Loh, kok Kak Albi bisa sama kalian? Kenapa baru pulang setelah jam sebelas?" tanya Jazira bingung sambil menatap jam dinding dan berjalan mendekati ketiganya.
Wajar, Jazira baru saja terbangun dari tidurnya. Sejak kepergian sang suami setelah menciumnya tadi, Jazira menghabiskan waktunya untuk menangis hingga tertidur.
__ADS_1
Tatapan Jingga menusuk dalam netra sang kakak ipar. Jazira yang ditatap tajam oleh Jingga pun mengalihkan perhatiannya pada sang suami.
"Masukin ke kamar yang mana, Zi?" tanya Marcel sembari menahan agar suami dari adik tirinya tersebut tak limbung dan terjatuh. Jazira menolehkan kamarnya ke kamar sang suami.
"Ke kamar ini aja, Kak. Minta tolong dibawa masuk sampai dalam sekalian ya Kak, Ngga." jawab Jazira sambil membuka pintu kamar sang suami dan menatap ketiganya secara bergantian.
Marcel pun berjalan mendekati kamar milik Albirru dan meninggalkan Jingga yang tengah menatapnya dengan tatapan anehnya. Disaat Marcel tengah masuk kedalam dan menidurkan Albirru diatas ranjang, Jingga berjalan mendekati Jazira yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kamu kenapa ngeliatin Kak Zizi gitu, Ngga? Kak Zizi ada salah sama Jingga?" tanya Jazira setelah adik iparnya berdiri dihadapannya.
"Hmm, Kak Zizi ada salah sama Ingga. Kak Zizi anggap Jingga apa, sih? Apa Kak Zizi anggap kalau Jingga udah nggak peduli lagi sama Kak Zizi? Sebegitu buruknya Jingga dimata Kak Zizi?" tanya Jingga beruntun dengan tatapan kosong kepada sang kakak ipar.
"Kamu kenapa, Ngga? Kak Zizi nggak pernah berpikiran seperti itu?" jawab Jazira dengan nada khawatirnya sambil memegang bahu milik adik iparnya tersebut.
"Jingga kecewa sama Kak Zizi. Kita bicarain ini besok!" ucap Jingga karena melihat Marcel mendekati mereka berdua. Marcel berdiri disebelah Jingga dan memeluk pinggang milik Jingga.
"Kau beri dia air terlebih dahulu. Mungkin dia akan membaik besok pagi." ucap Marcel yang langsung diangguki oleh Jazira.
"Baik kak, terimakasih banyak udah bantuin Mas Birru sampai di rumah. Makasih juga, Ngga." ucap Jazira berterima kasih yang hanya disambut oleh anggukan keduanya sambil berjalan menjauhi Jazira dan berjalan mendekati pintu rumah mereka.
Jazira tersenyum melihat keduanya yang mulai mendekat. Jazira berharap agar keduanya dapat lebih dekat lagi, dan menjalin hubungan yang lebih serius lagi.
Jazira segera membawa air hangat yang tadinya ingin dia bawa menuju kamarnya. Setelah menutup pintu kamar mereka, Jazira pun segera berjalan mendekati Albirru yang tengah berbaring dengan racauan tak jelasnya.
"Minum dulu, Mas." ucap Jazira sambil menyodorkan gelas berisi air hangat kepada sang suami. Albirru pun membuka matanya dan menatap wanita cantik yang ada disebelahnya.
Jazira sedikit mengangkat kepala sang suami lalu membantunya meminum air hangat bawaannya. Albirru sempat meminum beberapa teguk air hangat milik Jazira sebelum tangan besarnya menghempaskan gelas tersebut hingga jatuh ke lantai.
"Astaga, Mas!" pekik Jazira sambil menatap pecahan gelas yang telah hancur di lantai. Dia juga menatap sang suami yang telah tak sadarkan diri dibawah pengaruh alkohol itu.
Albirru menatap Jazira yang menatapnya dengan tatapan sendunya.
"Dimana Maira?! Pergi kau!" pekik Albirru sambil mendorong agar tubuh sang istri sedikit menjauh dari dirinya. Jazira pun menggelengkan kepalanya melihat reaksi sang suami.
"Kau tahu? Aku sangat mencintai istriku! Aku menyesal karena pernah membuatnya menangis. Sekarang dia sedang marah padaku. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" ucap Albirru menceritakan pada Jazira tentang apa yang menjadi beban untuk dirinya.
"Apa salahmu sehingga Maira mu itu marah padamu?" tanya Jazira dengan air matanya yang sedang menggenang di pelupuk matanya. Albirru menarik Jazira hingga Jazira berada diatas tubuhnya.
"Mantan kekasihku tengah mengandung, sekarang. Sudah kukatakan pada Maira, bahwa itu bukan anakku. Tapi dia masih belum percaya. Dia juga memintaku untuk menikah lagi. Itu berarti dia ingin dimadu bukan? Banyak seorang laki laki yang berharap istrinya mau dimadu, tapi kali ini Aku tak ingin menyakitinya lagi." ucap Albirru dengan sungguh sungguh yang membuat Jazira meneteskan air matanya.
"Kau tak ingin menyakitinya lagi bukan? Maka lepaskan dia. Talak lah dia, supaya dia bisa bahagia dengan yang lain." ucap Jazira dengan suara bergetar dan air mata yang menetes di pipi milik suaminya.
"Aku udah bilang sama kamu kan, Ra?! Aku nggak akan ninggalin kamu!" ucap Albirru yang membuat Jazira terkejut. Dalam hitungan detik, Albirru telah mengubah posisi mereka berdua.
Jazira menggelengkan kepalanya saat Albirru menatapnya dengan tatapan penuh hasratnya. Albirru mencium bibir milik Jazira dengan kasar. Jazira memukul dada milik suaminya dengan keras, berharap agar Albirru tersadar.
Ciuman Albirru berpindah ke leher jenjang milik Jazira. Jazira masih menangis karena perlakuan sang suami. Tangan Albirru pun tak tinggal diam, dia lebih dulu menyobek piyamanya yang membuat Jazira menangis semakin pilu.
"Kamu milikku, Ra!" bisik Albirru dengan nada beratnya yang membuat Jazira berteriak dalam hatinya. Dirinya menangis pilu atas apa yang menimpa dirinya.
__ADS_1
Mau satu bab lagi buat malam mingguan? Yuk komen dan like😁