ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 107


__ADS_3

Laki-laki yang baru saja kembali dari luar itu dengan segera kembali menuju rumah sakit dengan perasaan terkejutnya saat tiba-tiba salah satu perawat di rumah sakit itu memberi kabar bahwa keadaan sang putri tiba-tiba drop.


Dengan perasaan kecewa yang sangat dalam Albirru masih menunggu di depan ruang UGD karena permintaan dari salah seorang perawat yang sedikit tahu pasal masalah antara Albirru dan Jazira.


Albirru terlihat bahagia dan mulai mendongakkan kepalanya Aat melihat beberapa perawat keluar dari ruang UGD beserta Jingga dan Marcel.


Terlihat Marcel berjalan mendekati Albirru dan menepuk pundak milik mantan sahabatnya itu. Albirru yang telah menahan rasa ingin berjumpa dengan kedua wanita yang sangat dia cintai itu pun hanya menganggukkan kepalanya saat dirinya dapat menangkap sinyal ucapan khawatir dari Marcel kepada dirinya walaupun hanya melalui isyarat gerakan kepala.


"Kak Zizi ada di dalam. Tapi ingat, jangan buat keadaan Kak Zizi semakin down lagi. Dia butuh support, dan jangan sekali-kali menyalahkan Kak Zizi atas apa yang menimpa keluarga kecil kalian," ujar Jingga mawas diri akan keadaan sang kakak ipar yang dia tahu pasti tengah drop.


"Pastinya, Kak Albi hanya ingin bertemu dengan mereka. Terimakasih," ujar Albirru sebelum masuk ke ruang UGD yang di mana di dalamnya terdapat sang istri serta putrinya.


Jingga pun membalikkan tubuhnya menghadap pintu UGD yang kini kembali tertutup. Jingga pun menolehkan kepalanya kepada Marcel yang kini berada di sebelahnya. Marcel pun ikut menolehkan kepalanya dan menatap wajah sembab milik Jingga.


"Gimana reaksi Kak Albi saat tau anak nya meninggal ya kak? Jingga takut dia bakal marahin Kak Zizi?" tanya Jingga kepada Marcel yang membuat laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


"Mana ada, kalau sampai Albirru marahin Zizi biar Kak Marcel yang tonjok. Namanya juga musibah, kita semua nggak ada yang tahu dan nggak ada yang mau juga kalau hal itu sampai terjadi sama Arasa," jawab Marcel sembari memeluk Jingga dari samping.


Sementara Albirru, laki-laki berwajah tampan itu berjalan memasuki ruang UGD dengan sedikit tergesa. Seketika rasa khawatirnya langsung luntur tatkala melihat seorang wanita yang tengah bertelanjang kaki dengan rambut yang tergerai sedikit berantakan lengkap dengan bayi kecil yang ada di dekapannya.


Albirru pun meletakkan sebuah map yang sedari tadi dia bawa ke sembarang tempat dan bergegas mendekati Jazira yang tengah menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik saja bukan? Jangan terlalu lama berdiri, Ra. Biarkan aku yang menggendong Ara," ujar Albirru dengan nada gelisahnya sembari mengelus puncak kepala milik sang istri.


Wanita yang masih saja menangis dalam diam nya itu masih sama sekali tak bergeming ketika mendengar ucapan dari sang suami. Jazira yang melihat kedua tangan sang suami hendak terulur menuju tubuh sang putri pun segera memundurkan langkahnya sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan! Jangan dekati aku dan putriku!" sergah Jazira dengan suara parah nya dan isakan tangis kecilnya. Albirru yang melihat reaksi sang istri pun seketika terkejut. Albirru segera menggelengkan kepalanya sembari mendekati sang istri kembali.


"Tenang, Ra. Ini aku, suami kamu." Albirru mencoba menenangkan sang istri dan berpikir bahwa mungkin saja terjadi sesuatu pada sang istri. Tatapan laki-laki itu masih saja menatap sang istri yang terus menundukkan kepalanya.


"Maafin Zizi," lirih Jazira dengan air mata yang terus mengucur deras. Bahkan air matanya saja menetes ke tubuh milik Arasa yang kini masih ada di pelukannya. Albirru kembali menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kedua tangannya dan menyentuh bahu mungil milik Jazira yang kini masih bergetar dengan hebat.


"Kamu harus istirahat, Ra. Biar Arasa aku yang gendong ya? Sini," ujar Albirru sambil menyentuh punggung mungil milik Arasa. Tak ada rasa curiga dalam hati Albirru saat kini tak ada selang yang terpasang di tubuh mungil sang putri lagi.


Jazira pun segera mendongakkan kepalanya dengan wajah yang sembab serta air mata yang masih terus berjatuhan membasahi kedua pipinya. Albirru yang terkejut dengan keadaan sang istri pun seketika terdiam sembari menatap wajah Jazira yang terlihat sangat ketakutan.


Albirru mengelus punggung mungil milik sang istri yang masih bergetar hebat sembari mengecup puncak kepala milik sang istri. Jazira pun semakin menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidang milik sang suami.


"Arasa pergi ninggalin kita," ujar Jazira lirih saat Albirru mengelus kepalanya. Dapat Jazira rasakan bahwa jantung sang suami seolah berhenti berdegub saat dirinya membisikkan hal tersebut pada sang suami.


Albirru yang pada awalnya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang istri pun mencoba mengalihkan pemikirannya agar tak negatif thinking.


"Kamu bicara apa sih, Sayang? Udah ya, istirahat dulu," ujar Albirru mencoba mengalihkan perhatiannya. Namun Jazira lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya lalu mendongakkan kepalanya dengan segera.

__ADS_1


"Maafin Zizi. Karena Zizi sekarang Arasa telah pergi. Asa pergi ninggalin semuanya," ujar Jazira dengan tatapan lurus ke mata sang suami. Albirru pun kembali membalas tatapan dari sang istri yang menatap dirinya dengan tatapan serius.


"Maksud kamu apa sih, Ra? Arasa nggak pergi, dia masih ada sama kita," jawab Albirru sembari menundukkan kepalanya dan beri tersadar bahwa ada yang berbeda dengan sang putri.


"Arasa meninggal! Dan kau tahu? Dia meninggal karena aku! Semua ini salahku!" ucap Jazira dengan tegas dan tatapan tajamnya sembari menatap lurus kepada sang suami.


Deg!


Seketika Albirru berdiri membeku mendengar ucapan sang istri. Cekalan tangan laki-laki yang tengah terkejut itu pun mulai mengendur saat pikirannya mulai menangkap apa yang dikatakan oleh Jazira.


"Semua ini salahku. Andai ASI ku keluar lebih cepat maka putri kecilku tak akan pergi meninggalkan aku senidri," lirih Jazira dengan tatapan yang langsung berbeda. Hanya ada tatapan kosong disertai air mata yang masih mengalir dari pelupuk matanya.


"Kau terkejut? Kau marah padaku? Marahi saja wanita tak berguna ini! Aku memang wanita yang buruk! Aku benci diriku sendiri!" ujar Jazira dengan nada marahnya kepada dirinya sendiri yang membuat Albirru tersadar.


"Kau sedang tidak bercanda kan, Ra? Putri kita masih hidup bukan? Tidak mungkin dia pergi," tanya Albirru sekali lagi sembari menatap Jazira yang kini terlihat seperti orang yang terganggu jiwanya.


Jazira yang mendengar pertanyaan dari sang suami pun seketika tertawa keras sembari berusaha melepaskan diri dari sang suami.


"Kau kira aku bercanda, hah?! Lihatlah jasad putri mu ini! Jika saja ASI ku tidak keluar dengan terlambat, mungkin dia masih bernapas! Dia meninggal karena aku!" jawab Jazira dengan tangis yang semakin histeris.


Albirru pun menggelengkan kepalanya dengan jantung yang berdebar cepat. Ujung matanya memanas saat melihat tubuh mungil sang putri yang telah tak bernyawa disertai tubuh Jazira yang merosot ke lantai dengan punggung yang bersandar di tembok.

__ADS_1


"Semua ini bukan salah mu, Ra. Semua ini terjadi karena aku,"


__ADS_2