
Selama dalam perjalanan, Albirru yang memangku sang istri dan duduk di bangku penumpang belakang itu, masih mencoba menenangkan sang istri.
Entah karena energinya yang terkuras habis, atau pun karena kondisinya yang belum fit, Jazira pun akhirnya terkulai lemas. Wanita itu menjadikan dada kekar milik sang suami sebagai sandarannya.
"Jangan nangis lagi ya, Ra? Kamu nanti pusing kalo kelamaan nangisnya," ujar Albirru dengan lembut yang sama sekali tidak di jawab oleh Jazira.
Keduanya kembali dilanda keheningan hingga mobil milik Albirru, mulai memasuki halaman lebar di rumah Albirru dahulu.
Setelah sang sopir membukakan pintu untuknya dan juga Jazira, dengan segera Albirru pun keluar dari mobilnya dengan Jazira yang masih ada di gendongannya. Albirru terus melangkahkan kakinya menuju kamar yang ada di lantai dasar, di mana dulu di kamar itu lah Jazira dan Albirru mengalami pertengkaran hebat sebelum berpisah rumah.
Jazira sama sekali tak dapat melakukan perlawanan. Dia merasa bahwa tenaganya sudah terkuras habis selama dalam perjalanan menuju ke rumah milik sang suami.
Belum sempat Albirru membuka pintunya, Jazira lebih dulu mendongakkan kepalanya dan menatap sang suami. Albirru menghentikan langkah kakinya dan menundukkan kepalanya untuk menatap sang istri.
__ADS_1
"Lebih baik aku pulang ke rumah, daripada masuk ke dalam." Dengan nada lirih, Jazira mengatakan jika dirinya benar-benar enggan memasuki kamar milik suaminya itu.
Albirru yang paham dengan apa yang dikatakan oleh Jazira itu pun hanya menganggukkan kepalanya dan membawa dirinya serta sang istri menuju lantai dua yang ada di rumahnya. Laki-laki itu membuka pintunya dengan perlahan, dan segera melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar tersebut.
Pandangan Jazira seketika membeku, saat dirinya melihat ruangan yang dahulu merupakan kamarnya. Tidak ada yang berubah, semua tertata dengan sangat rapi. Seprai bahkan semua tata letak kamar tersebut masih sama, seperti saat terakhir dirinya meninggalkan rumah.
Albirru segera mendekati ranjang, dan membaringkan sang istri di atas pembaringan. Tatapan Jazira masih tidak dapat terlepas dengan apa yang ada di sebelah ranjangnya. Albirru yang melihat sang istri terus saja menatap ke samping itu, mengikuti arah pandangan sang istri.
Albirru masih menatap ranjang tersebut sembari menunggu jawaban dari sang istri. Hingga akhirnya Albirru mulai tersadar karena sang istri tak kunjung menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu segera menolahkan kepalanya dan terkejut karena sang istri sudah menangis.
"Hei, Ra. Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Albirru dengan nada khawatirnya, sembari kembali memeluk sang istri yang tengah menatap kosong ke arah samping.
Jazira tak menjawab, dia hanya mengamati ranjang bayi itu sembari mengeratkan cekalan tangannya di lengan milik Albirru.
__ADS_1
"Kau sudah menyiapkan semua ini, Mas? Kau mengharapkan Arasa?" tanya Jazira dengan nada tak percayanya, yang sangat berbeda dengan Jazira yang sebelumnya.
Albirru yang mendengar pertanyaan dari istrinya itu, seketika menganggukkan kepalanya meski dirinya tengah merengkuh tubuh kecil milik Jazira. Pria itu menarik tubuhnya dari dekapan hangat milik istrinya, sembari menggenggam tangan Jazira.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Sayang? Tentu saja Mas menyiapkan semua perlengkapan anak kita. Mas mengharapkan Arasa, anak kita."
Jazira mengalihkan tatapannya untuk menatap sang suami. Entahlah apa yang terjadi pada dirinya, sesaat dirinya terlihat sangat membenci suaminya, tetapi di saat yang lain, Jazira terlihat sangat jelas jika dirinya masih menginginkan kasih sayang dari suaminya itu.
"Benarkah?" tanya Jazira dengan wajah yang sudah sembab kepada sang suami.
Albirru yang mendengar pertanyaan dari istrinya itu, seketika langsung menganggukkan kepalanya.
"Kita mulai semua dari awal ya, Ra? Mas janji akan berubah!"
__ADS_1