ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 8


__ADS_3

Seketika badan Jazira pun membeku. Dia menatap mata tajam milik Albirru yang menatapnya tak suka. Begitu juga dengan Marcel. Mata elang milik Albirru pun berpindah menatap netra milik Marcel.


Dan ya, ternyata mereka adalah rival semasa SMA. Dengan langkah lebarnya, Albirru mendekati Marcel yang sedang menggendong Jazira ala bridal style dengan tatapan datar.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Albirru mengambil tubuh milik Jazira dengan sedikit kasar dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Jangan pernah menyentuh apapun jika itu milikku!" Ucap Albirru tegas sambil menatap tajam kearah Marcel. Albirru pun mengeratkan pelukannya kepada Jazira dan membalikkan badannya untuk berjalan keluar ruang rawat milik Jazira.


Jazira yang berada di dalam gendongan Albirru pun sudah panas dingin tak karuan. Meskipun Jazira hanya dapat melihat pahatan wajah milik Albirru dari bawah, jantungnya sudah tak aman.


Sementara Johan yang melihat perlakuan Albirru kepada Jazira pun tak percaya. Bagaimana tidak? Albirru tak pernah menyentuh wanita manapun selain Mbok Sum dan belahan hatinya.


Dengan ekspresi yang masih melongo, Johan mengikuti kemana perginya sang Tuan Muda. Marcel yang melihat Jazira dibawa pergi oleh sang musuh pun meninju tembok yang berada disebelahnya dengan sangat keras.


Sang teman yang melihat tangan Marcel berdarah pun terkejut dan berjalan mendekatinya.


"Gila ya Lo, Cel? Ngapain Lo sampai benturin tangan Lo ke tembok hah?! Jangan sampai gila karena cewek, bro!" Ucapnya sambil menepuk bahu milik Marcel dan berjalan keluar ruang rawat milik Jazira.


Ketika melihat seorang perawat berjalan melewati depan ruang rawat milik Jazira, teman dari Marcel pun menghentikan perawat tersebut.


"Permisi, sus. Bisakah Anda mengobati luka milik teman saya? Ini tidak akan lama, mungkin hanya lima menit saja." Ujarnya dengan sopan yang membuat sang suster menganggukkan kepalanya.


Dengan penuh rasa terimakasih, teman dari Marcel pun mempersilahkan agar sang suster memasuki ruang rawat milik Jazira. Betapa terkejutnya sang suster ketika melihat banyak lelaki di ruangan tersebut.

__ADS_1


Marcel yang menngatahui perasaan sang suster pun meminta agar semua temannya keluar dari ruangan tersebut.


Sementara Albirru yang masih menggendong Jazira pun masih berjalan dengan pandangan yang lurus kedepan. Banyak pasang mata yang menatap kagum kepada sosok Albirru Alexander, serta tatapan tak suka kepada Jazira.


"Jo, kau selesaikan administrasi nya terlebih dahulu lalu segera kembali ke mobil!" Ucap Albirru dengan nada datarnya. Sementara Jazira hanya mendongakkan kepalanya menatap Albirru.


Jazira yang mengira bahwa Albirru akan menurunkannya pun terkejut karena Albirru masih membawa tubuhnya dalam rengkuhan tubuh atletisnya lalu pergi ke luar rumah sakit.


Sang sopir yang melihat kadatangan sang atasan bersama dengan gadis berambut kecoklatan sepunggung yang masih memakai pakaian rumah sakit pun membukakan pintu mobilnya.


Jazira masih diam tak bergerak dalam gendongan Albirru sampai tangannya tiba-tiba terangkat dan melingkarkan ke leher Albirru, karena Albirru hendak memasuki mobil.


Albirru yang terkejut pun hanya menundukkan kepalanya menatap Jazira lekat-lekat lalu mengalihkan pandangannya. Tak ingin lancang, Jazira pun menurunkan kedua tangannya dari bahu kokoh milik Albirru dan berniat turun dari pangkuan Albirru.


Albirru hanya tersenyum tipis mengetahui bahwa Jazira kembali duduk dengan tenang. Keheningan menerpa mereka berdua. Tak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata apapun, bahkan hanya sebuah deheman.


"Tu... tuan, apakah aku bisa duduk sendiri? Kau pasti akan pegal jika terus memangkuku seperti ini. Aku bisa duduk sendiri." Ucap Jazira dengan suara lirihnya, bahkan bisa dikatakan sebagai bisikan.


Albirru menatap tajam Jazira dan mengeratkan pelukannya lagi.


"Apakah kau ingin bahumu terluka lagi hah?! Kau hanya perlu duduk dengan nyaman agar bahumu juga nyaman. Jika kau perlu sandaran, kau jadikan saja badanku ini untuk kau bersandar. Mudah bukan?!" Tegas Albirru sambil membenarkan posisi tangannya.


Sontak jantung Jazira pun berdegup dengan kencang. Sandaran? Bukankah kata tersebut patut diberikan untuk pasangan yang mencintai pasangan mereka? Jazira masih mencerna apa yang dikatakan oleh Albirru, sampai Johan yang sudah membuka pintu depan mobil milik Albirru.

__ADS_1


Setelah Johan masuk, sang sopir pun ikut memasuki mobil dan mulai menjalankan mobilnya kembali ke rumah utama. Karena jarak yang lumayan jauh, Jazira yang kelelahan menopang tubuhnya pun mulai mendekatkan dirinya kepada Albirru.


Deg!


Ya, Albirru baru merasakan se intens ini saat berdekatan dengan wanita. Albirru berusaha menormalkan detak jantungnya, dia takut jika Jazira sampai mendengar detak jantungnya.


"Tuan, apakah kau memiliki riwayat penyakit jantung? Mengapa jantungmu berdetak dengan cepat? Kau baik-baik saja bukan?" Ucap Jazira polos sambil meletakkan tangan mungilnya di dada milik Albirru.


****! Mengapa dia meletakan tangannya disana?! Kenapa dia sangatlah polos! Maki Albirru dalam hatinya sambil menarik tangan Jazira agar pergi dari dadanya.


Albirru menatap tajam mata Jazira dan memelototkan sedikit matanya, persis seperti seorang ibu yang sedang marah ketika anaknya selalu meminta uang.


Jazira yang dipelototi oleh Albirru pun membelalakkan matanya.


"Kenapa dengan matamu, Tuan? Apakah kau kelilipan pasir? Atau matamu gatal? Coba katakan padaku, aku akan membantumu." Ucap Jazira banyak bertanya yang membuat Albirru hanya mengatupkan kedua mulutnya rapat-rapat.


"Hmm... tadi jantungnya berdegup dengan kencang, sekarang matanya melotot. Mengapa Tuan Muda ini sangatlah aneh." Gumam Jazira yang membuat senyuman tipis hadir di bibir Albirru.


Jazira yang masih sangat penasaran dengan mata Albirru pun kembali mendongakkan kepalanya dan melihat senyum dari Albirru.


"Eh, Tuan. Apakah kau sedang tersenyum? Ternyata kau bisa seny-" Ucapan Jazira terpotong karena Albirru yang langsung menarik tengkuknya dan...


Cup

__ADS_1


Bibir milik Albirru telah berhasil mendarat dengan sempurna di bibir mungil milik Jazira.


__ADS_2