
Sinar bulan kali ini menyinari indah negara yang sering dijuluki dengan The Smoke City lantaran banyak polusi dari pabrik serta penggunaan batu bara untuk penghangat ruangan yang membuat kota maju tersebut sering tertutup kabut.
Seorang wanita yang rambutnya masih tergerai indah dengan baju santainya itu menikmati terpaan angin yang berhembus mengenai kulit halusnya. Jazira, wanita itu masih enggan meninggalkan keindahan malam di Kota London.
Sedangkan Jingga dan Marcel yang baru saja keluar dari ruang kerjanya karena harus menyelesaikan proposal yang harus mereka siapkan untuk besok pagi setelah tiba di London. Mereka pun segera keluar dari sebuah ruangan dan berjalan mencari keberadaan Jazira.
"Jingga bener-bener prihatin sama keadaan Kak Zizi yang sekarang. Jingga yakin nih, yang ada di dalam benak Kak Zizi bukan masalah gimana hidup Kak Zizi ke depannya, tapi bagaimana jika kelak dirinya mengandung anak Kak Albi," ujar Jingga sembari mendongakkan kepalanya menatap Marcel yang berdiri tepat di samping kanannya setelah melihat bahwa sang kakak sedang berada di balkon.
Marcel yang mendengar perkataan Jingga pun menolehkan kepalanya ke kiri, sambil menundukkan kepalanya untuk menatap wajah cantik dari gadis yang telah berhasil membuat dirinya nyaman itu. Tangan besar dengan tato itu terangkat menuju puncak kepala milik Jingga dan mengusapnya perlahan.
"Bukankah ada kita? Kita bisa merawat Jazira dan bayinya kelak. Kita berdua pun tahu bahwa Jazira tak lagi memiliki siapa-siapa lagi selain kita berdua. Jadi gue mohon sama lo buat bekerja sama, merawat anak Jazira nanti. Lo mau kan?" tanya Marcel sembari mencium perlahan kening miliki Jingga dengan penuh perasaan.
Jingga yang dikecup keningnya oleh Marcel pun memejamkan matanya dengan peraasaan yang berdesir hebat. Setelah mencium kening milik Jingga, Marcel pun bergegas untuk memeluk erat Jingganya. Marcel menyalurkan rasa ingin memeluk Jingga yang tertunda selama hampir tujuh belas jam.
Setelah puas memeluk Jingga yang juga membalas pelukannya, Marcel pun melonggarkan pelukannya diikuti dengan ciuman singkat di pelipis milik Jingga.
Jingga yang merasa bahwa hatinya telah diobrak-abrik oleh Marcel pun mendongakkan kepalanya hingga menatap penuh wajah tampan milik lelaki yang yang berani mengambil resiko untuk mengurus dirinya dan juga Jazira sekaligus.
"Pastinya. Jingga juga janji, nggak akan pernah biarin Kak Albi sampai tahu kalau Kak Zizi hamil nantinya. Cukup kita berdua yang tahu serta Kak Zizi. Kita akan jadi orang tua dari anak Kak Zizi kelak. Bukankah lucu ketika anak tersebut memiliki 2 Ibu dan satu Ayah?" canda Jingga lalu diikuti kekehan di akhir kalimatnya.
Marcel yang mendengar ucapan Jingga pun menggelengkan kepalanya perlahan lalu kembali memeluk gadis yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
"Perkataan lo tuh ambigu banget tahu nggak sih? Siapa yang ngajarin?" tanya Marcel lalu kembali mengecup singkat pipi milik Jingga yang membuat sang empu sedikit terkejut. Jingga menjauhkan wajahnya dari Marcel dan menenggelamkan wajah mungilnya di pelukan sang kekasih hati.
Sedangkan Jazira yang merasa bahwa waktu yang dia habiskan untuk melamun telah cukup pun beranjak dari balkon hendak masuk ke dalam. Namun tatapannya sedikit terkejut melihat posisi Marcel dan Jingga yang terlihat sangat romantis bagi Jazira. Jazira pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam setelah menutup pintu balkon.
"Kenapa nggak langsung ke jenjang yang lebih serius aja sih Kak? Kan lucu gitu kalian berdua," puji Jazira yang membuat keduanya terkejut. Jingga dan Marcel pun sontak langsung menjauhkan diri satu sama lain yang membuat Jazira tak tahan untuk menahan lagi tawanya. Tawa Jazira semakin meledak saat melihat ekspresi Marcel dan Jingga yang terlihat seperti Maling yang tertangkap basah.
"Zizi dukung kalian berdua kok, santai aja." Jazira berkata santai sambil berjalan menuju sofa berwarna abu-abu lalu duduk menghadap dua orang yang masih berdiri mematung.
"Jangan gitu Kak Zi. Kan jadi malu," rengek Jingga manja sambil berjalan cepat mendekati Jazira lalu duduk di sebelah kakak iparnya yang telah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Loh emang gitu kan? Kalian berdua cocok. Nggak kalah sama si onoh berdua," bisik Jazira kepada Jingga yang menyembunyikan wajahnya dibalik badan mungil milik Jazira.
Marcel yang melihat tingkah menggemaskan dari Jingga pun segera berjalan mendekati keduanya lalu duduk di sebelah Jingga. Jazira mengangkat kedua alisnya untuk menggoda kakak tirinya tersebut.
"Jadi gimana, Zi? Lo mau terusin usaha itu kan? Gue sama Jingga bakal bimbing lo sampai paham," tanya Marcel mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuat Jingga ikut membuka wajahnya yang sedari tadi dia sembunyikan di dada bidang milik Marcel.
"Deal." Jazira mengulurkan tangan kanannya di hadapan Marcel yang membuat sepasang insan yang tengah dilanda asmara itu saling berpandangan.
"Are you seriously, Zi?" tanya Marcel mencoba memastikan apa maksud tersirat yang Jazira katakan. Jazira pun menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajah cantiknya.
"Zizi terima penawaran Kak Marcel. Tapi dengan satu syarat, Kak Marcel harus memenuhi semua yang Kak Marcel katakan pada Zizi saat masih di jet. Mulai belajar dari nol, hingga melindungi Zizi dan anak Zizi kelak dari Mas Birru," ujar Jazira yang langsung diangguki oleh Marcel. Marcel pun langsung menjabat tangan adik tirinya tersebut yang langsung disambut senyuman hangat dari Jingga.
__ADS_1
"Selamat ya, Kak. Jingga juga yakin kalau Kak Zizi pasti bisa sukses tanpa Kak Albi, bahkan Kak Zizi bisa lebih unggul daripada Kak Albi nantinya," ujar Jingga yang disambut oleh anggukan kepala dari Jazira. Jazira pun memeluk erat adiknya tersebut dengan perasaan yang penuh akan rasa bersyukur.
Akhirnya mereka bertiga pun larut dalam perbincangan mereka tentang dunia perbisnisan bagian dasar. Dngan sabarnya, Marcel mengajarkan Jazira tentang manajemen dasar bisnis hingga Jazira yang pandai tersebut langsung memahami dalam sekali penjelasan.
Hal tersebut terbukti ketika Jingga mencoba memberikan suatu contoh masalah pada Jaziraa dan dengan cepat Jazirah dapat memecahkannya dengan sangat apik walaupun dengan sedikit bantuan dari Marcel.
Hingga larut malam, tetapi ketiga orang tersebut masih asyik dengan pelajaran baru yang mereka dapatkan dari Marcel yang notabenenya telah berkecimpung di dunia bisnis hampir sepuluh tahun lamanya.
Ya, semenjak usia dua puluh tahun, bahkan kurang, Marcel telah dicekoki ilmu perbisnisan oleh sang ayah yang tak melulu dapat mengurus bisnisnya, karena dia pun ketua dari dunia bawah yang dikenal banyak orang.
Entah bahasan dari mana, tetapi pertanyaan dari Jazira berhasil membuat Jingga dan Marcel terdiam. Jingga yang mendengar peeytanyaan Jazira pun ikut penasaran dengan apa yang ditanyakan oleh sang kakak.
"Terus, kenapa Kak Marcel sama Mas Birru bisa musuhan?" tanya Jazira dengan polosnya yang membuat Marcel mengubah ekspresi wajahnya, dari yang tadi senang menjadi datar.
"Dulu gue sama Albirru teman dekat. Bahkan kami sahabatan. Namun persahabatan kami rusak hanya karena satu hal," jawab Marcel yang membuat Jazira dan Jingga mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana dua orang sahabat bisa terlihat sangat bermusuhan ketika bertemu.
"Emang apakah hal itu yang menyebabkan persahabatan kalian berdua harus seperti ini?" tanya Jazira kembali yang membuat Marcel menarik nafasnya panjang.
"Gue sama Albirru menyukai satu cewek yang sama,"
Masih ada dua bab lagi untuk hari ini. Yuk beri dukungan buat Kayenna biar semangat ngetik triple up nya🤩. Bisa lewat like, komen, gift, or vote, bahkan koin🤭.
__ADS_1
Mau triple up selama satu minggu? Yuk komen yang banyak.