
"Hah?!" pekik Jazira dengan mata yang terbelalak kepada sang suami.
Albirru yang mendengar pekikan sang istri pun menolehkan kepalanya kepada sang istri. Albirru mengernyitkan keningnya melihat reaksi kaget sang istri.
"Kamu kenapa, Ra? Are you okay, kan?" tanya Albirru kepada sang istri saat melihat keterkejutan Jazira.
"Ngapain buka-buka?! Maksudnya belum keluar dari dua-duanya belum keluar, hah?!" seru Jazira dengan tak sabarnya yang membuat Albirru baru tersadar.
"Ya kan baby Ara mau minum, Ra. Itu juga perintah dari suster nya juga. Toh aku juga pernah lihat kan?" jawab Albirru santai yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.
"Mas Birru nih nggak sopan banget ya?! Cari-cari kesempatan dalam kesempitan!" teriak Jazira sambil memukul dada bidang milik Albirru yang ada di sebelahnya. Albirru yang dipukul oleh Jazira secara dadakan pun sedikit terkejut.
"Bukan nggak sopan, Ra. Kasian sama anak kita, ya kali dia harus minum pas kamu baru bangun. Kasian dia nya," jawab Albirru sambil menghentikan aksi Jazira dengan menggenggam erat kedua tangan milik Jazira.
"Tapi Mas Birru udah lihat kan?! Ya sama aja itu tindakan asusila! Orang masih belum sadar udah di buka-buka!" seru Jazira semakin tak terima kala melihat senyum miring dari sang suami.
"Tapi emang bener ya, Ra? Kalo lagi hamil tambah besar?" bisik Albirru yang kembali membuat mata Jazira terbelalak. Sontak Jazira pun melirik tajam kepada sang suami.
Saat Jazira hendak menyemprot sang suami karena keterlaluan, tiba-tiba pintu ruangan milik Jazira kembali terbuka. Tangan kanan Jazira pun sedikit terangkat untuk mencubit perut six pack milik suaminya.
"Aakh!" pekik Albirru saat tangan mungil Jazira mencubit perutnya. Seketika semua orang pun menatap Albirru, tak luput dengan Arasa yang memang sedari tadi menatap kedua orang tuanya.
"Aden kenapa?" tanya Mbok Sum khawatir sambil menatap Albirru yang tengah melepaskan cubitan Jazira dari perutnya dengan reaksi wajah yang sungguh sangat menggelikan perut Mbok Sum.
"Biasa Mbok. Dasar laki-laki cabul!" desis Jazira yang membuat Albirru tersenyum miring. Sang perawat pun menggelengkan kepalanya melihat interaksi keluarga ini.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya, hai cantik. Apa kabar mu malam ini?" sapa sang suster kepada semua orang sembari mengelus punggung mungil milik Arasa.
"Alhamdulillah baik, Sus." Mbok Sum mengeluarkan suaranya layaknya seorang anak kecil. Jazira tersenyum kecil melihatnya. Netranya masih menatap sang putri yang hebatnya sangat tidak rewel sama sekali.
"Oh iya, baby Alina belum minum ASI ya sedari tadi? Tadi dicoba sama Papa nya tapi masih belum keluar. Dan karena sekarang Mama nya sudah siuman, kita coba lagi ya Bu?" ujar sang suster yang membuat Jazira baru percaya bahwa sang suami memang telah melakukannya.
"Ralat ya, Sus. Namanya ganti menjadi Arasa, Mama nya minta ganti," koreksi Albirru yang langsung di angguki oleh sang perawat.
"Bapak-bapak yang ada disini boleh keluar terlebih dahulu? Kita akan coba metode manual dahulu, biar baby Arasa yang membantu keluarnya ASI sendiri. Kalau masih belum bisa kita coba pompa terlebih dahulu." ucap sang suster yang langsung diangguki oleh Johan. Namun, tidak dengan Albirru.
"Keluar! Ngapain disini?!" bisik Jazira dengan berusaha untuk mendorong tubuh kekar sang suami. Namun bukan Albirru namanya jika dia tak mendapat apa yang dia inginkan.
"Kalau untuk Papa nya Arasa boleh di sini, siapa tahu bisa membantu Bu Jazira nantinya." Sang suster mengambil Arasa dari gendongan Mbok Sum. Mbok Sum pun berjalan ke sisi sebelahnya untuk menemani Jazira yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Jangan Sus, biarin keluar aja. Nanti jelalatan matanya!" ujar Jazira sinis kepada sang suami yang membuat sang perawat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
Mbok Sun yang paham karena pernah membantu sang nyonya untuk melahirkan Albirru pun membuka pakaian bagian atas milik Jazira. Albirru membantu meletakkan sang putri agar nyaman berada di dada milik sang istri.
"Bener kan, Ra? Its very big!" goda Albirru yang membuat Jazira semakin jengkel.
"Mas Birru! Keluar!" teriak Jazira sembari menutupi dadanya dengan kedua tangannya saat melihat sang suami yang tertawa geli. Sedangkan Arasa, gadis itu hanya manut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Bercanda, Ra. Udah ya jangan marah-marah lagi. Kasian baby Ara nya, dia dah mau minum itu." Ajaib, Albirru seketika berubah nada bicaranya dan mendadak menjadi dewasa. Laki-laki itu membantu Mbok Sum memposisikan Arasa agar memudahkan Jazira dalam menyusui.
Ya, Albirru hanya bercanda permasalahan tadi. Dirinya hanya berniat mencairkan suasana dan berharap semoga hubungannya dengan Jazira sedikit mendekat. Namun perkara dirinya membantu Arasa meminum ASI ibunya benar terjadi.
__ADS_1
Jazira menurunkan sedikit penutup dadanya dan menyiapkan sang putri agar bisa meminum ASI pertamanya. Albirru berdiri di sebelah Jazira dan sedikit membungkukkan badannya.
Setelah Arasa menemukannya, dengan cepatnya bocah itu seolah tahu bahwa dari sanalah nutrisinya berasal. Namun berbeda dengan Jazira, mata wanita tersebut terbelalak lebar saat merasakan pada ****** nya.
"Aakh!" pekik Jazira tertahan saat dirinya merasakan bahwa nipplenya sedikit lecet karena gerakan bibir Arasa. Jazira menahan tubuh Arasa dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang sebelah gelagapan seolah mencari sesuatu.
Dengan sigap, Albirru pun memberikan tangan kanannya kepada sang istri. Benar saja, Jazira mencengkeram erat tangan besar sang suami. Jazira melipat bibirnya ke dalam sembari menahan rasa sakit yang mendera buah dadanya.
"Ya Tuhan," lirih Jazira dengan cengkeraman yang semakin erat kepada sang suami. Hingga tak terasa air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
Albirru yang melihat sang istri kesakitan pun mengelus punggung mungil milik istrinya dengan tangan besarnya serta mengecup puncak kepala milik Jazira.
"Kamu pasti bisa, Ra." Albirru berbisik tepat di telinga sang istri yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih mengalir.
"Masih belum keluar juga ya, Bu? Kita coba yang sebelah kanan ya Bu?" ujar sang suster dengan nada yang sedikit mengiba karena melihat ekspresi Jazira. Jazira hanya menganggukkan kepalanya sembari menggigit bibir bagian bawahnya.
"Kamu pasti bisa, Sa. Mama percaya sama kamu. Maafkan Mama ya, Nak," bisik Jazira kepada sang putri sebelum akhirnya Arasa melepas nipplenya dan berganti. Albirru sedikit membantu suster tersebut lalu kembali mengelus puncak kepala milik istrinya.
Namun, lagi-lagi ****** nya yang sebelah kanan juga belum keluar. Lada awalnya Jazira memang benar-benar sudah panik bukan kepalang. Bagaimana sang anak akan mendapat asupan jika ASI nya saja belum keluar.
"Maafkan Mama, Nak." Jazira memeluk erat sang buah hati dengan air mata yang masih menetes setelah dirinya menutup kembali bajunya. Albirru mencium kening milik dua wanita yang sangat dia cintai dalam hidupnya itu.
"Bagaimana jika Bu Jazira melakukan pijat laktasi saja? Bisa meminta bantuan suaminya atau-" ucapan sang suster terpotong karena Jazira langsung mendongakkan kepalanya dan menolak keras-keras.
"Saya bisa sendiri!"
__ADS_1
Adakah Mam yang sudah vaksin? Adakah gejala seperti batuk, badan kurang enak, atau demam? Kalau yang sudah vaksin, bisa berbagi di kolom komentar ya... Insyaallah bisa kita sharing di kolom komentar.