
Kesokan harinya, Jazira terbangun karena dia merasakan beban yang tak biasanya di bagian perut. Dia membuka matanya dan dia terkejut tatkala menjumpai lengan kekar milik suaminya melingkar di perutnya.
Dengan perlahan, Jazira mengangkat lengan Albirru agar menjauh dari dirinya. Belum sempat dia berdiri untuk bangun dari tidurnya, Albirru lebih dulu menarik tangannya hingga terjatuh di pelukan Albirru.
Albirru yang masih memejamkan matanya pun memeluk Jazira dengan erat. Jazira yang terkejut pun memukul pipi suaminya dengan tenaga yang sedikit keras.
"Mas Birru! Lepasin Zizi. Ini Jazira, bukan Larina!" ujar Jazira tak terima sambil menggerak gerakkan badannya agar Albirru melepaskannya.
"Nggak akan aku lepasin sebelum kamu yang bilang kalau mau bertahan sama aku," jawab Albirru santai tanpa melonggarkan pelukannya. Jazira memicingkan matanya tak suka kepada suaminya.
"Nggak usah ngomong besar besar gitu! Buktiin aja kalo emang mau bertahan. Seenggaknya sampai kontrak pernikahan kita selesai. Lumayan uangnya ke kumpul banyak!" jawab Jazira dengan nada tak santai yang membuat Albirru membuka matanya.
"Sejak kapan seorang Jazira Altamaira jadi mata duitan gini?" cicit Albirru sembari membalik posisi Jazira sehingga berada dibawah Albirru.
Jazira membelalakkan matanya karena terkejut. Dia menatap tajam pada netra milik suaminya.
"Hmm, sejak kau mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan agama mulai saat itu aku telah memiliki bayangan. Bagaimana susahnya hidup tanpa seorang suami, kelak!" jawab Jazira lantang yang membuat Albirru merasa bahwa istrinya dulu telah berubah.
"Itu tidak akan terjadi. Kita akan terus bersama. Aku berjanji padamu," ucap Albirru tulus yang membuat Jazira sedikit memiliki harapan. Namun harapannya sirna ketika bayangan Albirru yang keluar dari ruang pribadinya bersama dengan Larina yang hanya memakai selimut.
"Semua jenis Albi Albi an di dunia ini emang banyak janji ya? Buktiin! Jangan ngomong doang!" bentak Jazira sembari menendang bagian utama milik suaminya sehingga dirinya dapat meloloskan diri.
"****!" umpat Albirru kesakitan sembari menutup bagian utamanya dengan kedua tangannya. Jazira hanya tersenyum miring lalu berjalan keluar dari kamar sang suami.
__ADS_1
Dia terkejut ketika melihat sang adik yang sedang memasak setelah dia membuka pintu kamar milik suaminya.
"Loh, Ngga. Kok kamu udah masak? Kamu udah sehat?" tanya Jazira sembari berjalan mendekati sang adik yang terlihat sedang menuang sup ayam kedalam mangkuk.
Jazira berjalan menuju kamar mandi yang berada di sebelah dapur. Dia segera mencuci mukanya dan menyisir rambutnya.
Karena prinsip Jazira, boleh belum mandi tapi wajah bersih rambut klimis.
Tak dia sangka, jika mencuci muka serta menyisir rambut saja dia membutuhkan waktu hampir 20 menit. Dia keluar dari kamar mandi dan melihat sang suami yang telah nangkring di kursi makan.
"Jangan sembarangan tendang tendang, Zi. Kamu mau masa depan aku hilang?" ujar Albirru setelah Jazira duduk disebelah sang suami. Jazira hanya menatap datar sang suami lalu membalikkan piringnya.
"Biarin aja! Biar Mas Birru sama Larina nggak punya anak!" ledek Jazira sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil nasi. Albirru menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sang istri.
"Dih, emang Zizi mau sama Mas Birru?" tanya Jazira kembali yang membuat Albirru mati kutu. Tawa Jingga pecah seketika saat melihat wajah masam sang kakak ketika mendengar jawaban Jazira.
"Kak Zizi emang paling the best! Sekali kali Kak Albi kudu digituin. Kalo enggak, nanti kebiasaan." ujar Jingga sembari duduk di seberang Jazira.
"Loh kok kamu udah rapi? Mau kemana, Ngga?" tanya Jazira karena heran dengan melihat penampilan adiknya.
"Mau balik ke rumah sakit lagi. Lihat keadaan Kak Marcel." jawab Jingga sembari menyendok kan nasi menuju piringnya. Albirru yang mendengar perkataan sang adik pun menghentikan aktivitasnya.
"Marcel? Marcel anaknya Marco di gangster itu?" beo Albirru sembari menatap tajam kepada adiknya. Jazira hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hooh Kak Marcel, yang kamu kira selingkuhan aku itu." imbuh Jazira tanpa melihat wajah suaminya. Jingga menahan tawanya melihat tingkah kedua kakaknya.
"Ngapain deket deket sama dia hah?! Kak Albi nggak setuju kalo kamu deket deket sama dia, paham?!" ujar Albirru tegas yang mengembalikan sifatnya ke awal. Dia menatap Jingga yang hanya diam menundukkan kepalanya dengan tatapan dinginnya.
"Jingga mau ker-" ucapan Jingga terpotong karena kedatangan wanita dengan pakaian minimnya. Tanpa ba bi bu, Larina segera mencium pipi sang suami. Sontak Jazira yang melihat hal tersebut pun menyemburkan air minum hangat yang keluar dari mulutnya.
Larina yang disembur pagi pagi pun tak terima. Dia hendak menampar Jazira namun terkurung karena deheman dari Albirru. Albirru menatap Larina tajam seolah olah mengatakan bahwa dia telah mengetahui bagaimana sifat asli dirinya.
Jazira pun segera menutup mulutnya takut jika airnya kembali tumpah. Dia berjalan maju namun dia sengaja menabrakkan dirinya dengan Larina sehingga air minumnya tumpah di baju milik Larina.
"Arghhh! Jazira!" bentak Larina dengan suara tegas nya yang membuat semua orang terperanjat kaget. Bagaimana bisa dibalik penampilan anggunnya terdapat sifat arogan.
"Stop! Ngapain Lo teriak teriak di rumah gue hah?! Lo manusia atau Tarzan? Sono pergi ke hutan terus teriak teriak. Temen Lo pasti banyak tuh ada uu' aa'. Tau kan? Monyet tuh!" seru Jingga sembari menirukan gerakan monyet.
Setelah itu dia pun pergi meninggalkan rumahnya tanpa sarapan. 'Kamvrett emang si negay, baru mau sarapan eh udah diganggu.' batin Jingga sembari menyebut Larina dengan sebutan nenek gayung.
Sementara Jazira menahan tawanya saat melihat wajah Larina. Dia berjalan melewati Larina dan ber tos ria dengan sang suami dibawah meja. Jazira masih sesekali mengintip sang suami dan Larina dari kaca dapur.
"Mukanya persis kek banyolan." lirih Jazira lalu tertawa kencang tanpa suara.
***********
Sementara Jingga yang telah tiba di rumah sakit pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar rawat milik Marcel.
__ADS_1
Setelah membuka pintunya, Jingga pun melangkahkan kakinya hendak mendekati ranjang Marcel. Saat dia mengalihkan pandangannya, seketika langkahnya terhenti. Dia hampir tak mengedipkan matanya melihat sesuatu yang berada di depannya.