
Di sebuah perusahaan besar tepatnya di London, terdapat seorang wanita dengan perut yang mulai membesar masih memimpin jalannya rapat dadakan siang ini.
Sesekali wanita tersebut akan duduk di kursi yang ada di urutan paling depan dari kursi-kursi yang lain, lalu meminum air mineral yang telah disiapkan. Tak jarang wanita itu akan mengelap keringat yang keluar dengan sapu tangan yang selalu dia bawa.
Entahlah sejak hamil ini, dirinya tak dapat terlalu banyak berdiri atau melakukan aktivitas berat lainnya. Mungkin salah satu faktor penyebabnya karena berat badannya yang naik serta dirinya yang harus menjaga kandungannya yang lemah.
Wanita yang masih mengenakan dress longgar serta jas hitam yang melekat di tubuhnya itu mulai bangkit dari duduknya karena merasakan bahwa perutnya kurang nyaman. Dia menyudahi rapatnya dan menyerahkan semuanya kepada Jingga yang tak lain adalah asisten pribadinya.
"Kamu lanjutkan rapatnya ya, Ngga? Perut Kak Zizi nggak enak banget," bisik Jazira kepada Jingga yang membuat Jingga terkejut. Jingga pun hanya menganggukkan kepalanya sembari menatap wanita yang perutnya telah membesar itu keluar dari ruangannya.
Dirinya benar-benar cukup khawatir kepada Jazira yang benar-benar menjaga kandungannya yang lemah selama 8 bulan lamanya dan itu pun sendirian.
Ya, tujuh bulan kemudian setelah mereka semua dibuat bahagia dengan kabar bahwa Jazira tengah mengandung, kini Marcel, Jingga, serta Veno bertambah bangga lagi kepada Jazira karena selagi dirinya mengandung, Jazira masih bisa menghandle semua urusan kantor tanpa bantuan dari Marcel lagi.
Jazira berjalan keluar dari ruangan rapat dengan tangan kanan yang menyangga bagian bawah perutnya. Dia merasakan kram yang hebat menyerang perut bagian bawah nya. Jazira berjalan serata melipat bibirnya ke dalam dan segera kembali ke ruangannya.
Jingga yang memang takut terjadi sesuatu hal kepada Jazira pun segera mempersingkat acara rapatnya dan mungkin hendak dia adakan lagi setelah beberapa hari kedepan setelah memastikan bahwa kondisi Jazira baik-baik saja.
"Saya rasa rapat hari ini kita sudahi saja hingga disini. Kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing dan melanjutkan pekerjaan kalian," ucap Jingga lalu segera berjalan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Jingga terus berjalan dengan cepat menuju ruangan milik Jazira. Betapa beruntungnya dia karena dirinya bertemu dengan Veno yang baru saja memasuki lobi kantor nya. Dengan cepat Jingga segera menggandeng lengan kekar milik Veno dan mengajaknya naik ke ruangan milik Jazira.
Veno yang terkejut pun masih mengikuti Jingga yang menarik lengannya dengan kuat.
"Lo ngapain tarik-tarik gue sih, Ngga? Gue mau ketemu sampai Jazira," ujar Veno dengan rasa kesalnya sembari menggeplak perlahan bahu memiliki Jingga. Jingga yang tak terima karena Veno menggeplak bahunya pun membelalakan matanya dengan kedua tangan yang dia angkat ke pinggang.
"Gue nggak akan mungkin narik-narik lo tanpa alasan yg jelas. Gue cuman mau ngajak lo cepat-cepat ke ruangan Kak Zizi karena Kak Zizi bilang perutnya sakit. Gue takut terjadi apa-apa sama dia dan anaknya," jawab Jingga dengan nada yang tak santai.
Veno yang mendengar hal tersebut pun terkejut. Setelah pintu lift terbuka, keduanya pun segera berlari kecil menuju ruangan Jazira. Mereka benar-benar takut jika terjadi apa-apa pada Jazira dan anaknya.
Benar saja, ketika mereka berdua membuka pintu ruangan milik Jazira mereka berdua terkejut karena melihat Jazira yang tengah mengerang kesakitan. Jingga dan Veno semakin ketakutan karena sebuah darah segar keluar dari bagian bawah milik Jazira.
Mereka berdua yang melihat hal tersebut pun sontak berlari cepat mendekati Jazira dan segera membopong tubuh milik Jazira. Jingga yang melihat hal tersebut pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu segera meminta Veno agar mengantar Jazira ke rumah sakit.
Veno yang melihat dua wanita yang selama ini dia dan Marcel jaga menangis pun bergerak cepat untuk keluar dari ruangan milik Jazira. Tak tertinggal, Jingga pun ikut berlari keluar dari ruangan Jazira dan segera mengikuti Veno yang berjalan ke arah parkiran.
Sesampainya mereka di basement perusahaan, Jingga pun segera membukakan pintu belakang di mobil Veno yang memudahkan Veno untuk memasukkan Jazira. Setelahnya Jingga pun duduk di sebelah Jazira dengan tangan yang menahan bagian bawah perut milik Jazira.
Jingga melakukan hal tersebut karena bukan hanya sekali ini terjadi, tetapi sudah berkali-kali selama kehamilan Jazira yang menginjak usia delapan bulan ini.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun segera melajukan mobilnya menjauhi perusahaan dan segera membawa Jazira ke rumah sakit agar Jazira semakin cepat tertolong.
Selama perjalanan, tak henti-hentinya Jingga terus mengusap air mata yang membasahi pipi Jazira serta mencoba menenangkan Jazira agar tak terlalu panik. Melihat dua wanita tersebut khawatir, Veno pun segera menekan laju kendaraannya karena mendengar tangisan dua wanita tersebut.
"Bersabarlah, Zi. Sebentar lagi kita akan sampai," ujar Veno dengan nada takutnya sembari menekan ponsel digitalnya yang ada di layar kemudi untuk menghubungi Marcel.
Setelah panggilan keduanya tersambung, Veno pun segera mengatakan kepada Marcell jika mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Marcel yang mendengar hal tersebut pun segera meninggalkan pekerjaannya dan menyusul ketiganya ke rumah sakit.
Beberapa saat, akhirnya mereka bertiga pun segera tiba di rumah sakit. Veno segera menggendong tubuh Jazira yang bagian bawahnya sudah dipenuhi oleh bercak darah yang keluar dari bagian inti milik Jazira. Para perawat yang memang sudah beberapa kali menangani Jazira tersebut pun segera mendorong brangkar mendekati Jazira, lalu segera membawa Jazira ke dokter spesialis yang biasa menangani Jazira.
"Does it reappear?" tanya seorang perawat yang telah mendorong brangkar milik Jazira sembari menolehkan kepalanya. Jingga pun segera menganggukan kepalanya ketika sang perawat menanyakan apakah penyakit Jazira kumat lagi.
Sang perawat pun segera membawa masuk Jazira ke ruangan dokter pribadi Jazira, meninggalkan Veno dan Jingga yang berdiri dengan khawatir di luar ruangan. Jazira yang telah berada di dalam pun segera di periksa keadaannya oleh seorang dokter perempuan yang mungkin saja telah menjadi sahabatnya selama 8 bulan terakhir ini.
Setelah menunggu beberapa saat, Marcel yang baru saja tiba segera mendekati Jingga dan Veno, bertepatan dengan pintu ruangan tadi yang terbuka menampilkan seorang dokter perempuan yang selalu memeriksa keadaan Jazira.
"How is Jazira doing? Is it getting worse?" tanya Marcel langsung to the point yang menanyakan bagaimana keadaan Jazira kepada sang dokter. Dokter tersebut pun menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis di wajah cantiknya tersebut.
"Nothing to worry about. She is fine. He was just late for his medicine and rest." Sang dokter mengatakan bahwa tak terjadi apa-apa pada Jazirah, dirinya hanya terlambat minum obat dan istirahat.
__ADS_1
Jadi mereka tidak perlu khawatir yang membuat ketiganya menghembuskan nafasnya lega. Marcel yang mengingat apa rencana awalnya pun segera bertanya kepada sang dokter yang membuat Jingga serta Veno terkejut bukan main.
Mohon komen nya untuk memberi Kayenna kitik atau saran ya Mam😁