ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 66


__ADS_3

Albirru yang tak sengaja menabrak seseorang pun segera menolehkan kepalanya ke belakang. Namun sesuatu yang jatuh tepat di samping kakinya membuat atensinya teralih dan segera membungkuk untuk mengambil sebuah dompet kulit berwarna coklat tua yang kemungkinan milik orang yang tadi dia tabrak.


Albirru yang tengah membungkukkan badannya hendak mengambil dompet tersebut, tetapi sebuah foto yang terselip di dompet milik wanita tersebut keluar dari tempatnya, yang membuat Albirru segera mengulurkan tangannya untuk mengambil foto tersebut.


Setelah membalik foto tersebut, jantung Albirru berhenti berdetak sejenak dengan nafas yang tercekat. Apakah dirinya tak salah melihat? Dengan jelas sebuah potret pernikahan antara dirinya dan Jazira keluar dari dompet tersebut.


Ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya ketika melihat foto tersebut. Entah dorongan dari mana, Albirru membuka dompet te rsebut dan melihat sebuah kartu berwarna biru muda yang tak lain adalah baru tanda pengenal milik wanita tersebut.


Deg!


Jantung Albirru berdegub dengan kencang ketika melihat sebuah nama yang tercetak jelas di kartu tersebut. Jazira Altamaira, wanita yang tak lain adalah istri yang sangat dia rindukan.


Dengan cepat Albirru pun mendongakkan kepalanya dan melihat wanita yang tak lain adalah Jazira itu mulai berjalan menjauhi dirinya.


Albirru pun segera bangun setengah jongkoknya lalu segera berjalan cepat mendekati wanita dengan dress hingga lututnya serta kepala yang tertutup oleh penutup hoddie nya.


"Nona Maira! Dompetmu terjatuh!" tegur Albirru dengan nada tingginya yang membuat Jazira seketika menghentikan langkah kakinya. Suara itu, bukankah itu suara yang selama ini ingin dia dengar?


Hampir selama delapan bulan lebih ini, dirinya selalu duduk di sebelah Marcel ketika rapat agar dirinya dapat mendengar suara sang suami.


Air matanya pun selalu menetes ketika mendengar suara yang menyapa pendengarannya, meskipun hanya melalui teleconference saja.

__ADS_1


Jazira sama sekali tak bergerak. Tangan mungilnya bergerak untuk mengelus perutnya yang mulai membuncit. Dia berusaha untuk menutupi bentuk tubuhnya dari laki-laki yang dia rasa adalah sang suami.


Albirru yang melihat wanita tersebut berhenti berjalan pun segera mendekatinya dengan perasaan yang campur aduk. Albirru berdiri di samping belakang Jazira, tangan besarnya terulur untuk memberikan dompet milik Jazira.


"Aku senang kau kembali. Kau tak melupakan suamimu ini bukan?" bisik Albirru di telinga Jazira yang membuat Jazira meneteskan air matanya. Hatinya terasa sangat sakit saat mendengar suara Albirru.


Dari mulut yang sama itulah pernah terlontar perkataan menyakitkan yang sampai saat ini masih Jazira ingat. Jazira semakin menundukkan kepalanya yang sama sekali tak terlihat wajahnya.


Sedangkan Albirru yang tak mendapat respon dari Jazira pun memajukan badannya dan mengecup puncak kepala milik Jazira. Hal itu lah yang membuat tangis Jazira turun semakin deras.


"Aku selalu mencintaimu sampai kapan pun itu. Maafkan aku, Ra," bisik Albirru lagi yang hendak membuka penutup kepala milik Jazira, tetapi sebelum hal tersebut digagalkan oleh Jazira yang langsung mengambil dompetnya dan segera meninggalkan Albirru.


"Maaf, tapi kau salah orang!" sentak Jazira dengan nada beredarnya lalu berjalan cepat meninggalkan Albirru yang tersenyum kecil.


Albirru mengernyitkan dahinya bingung saat melihat wanita tadi memasuki poli kandungan. Lagi-lagi Albirru terkejut dengan apa yang di lakukan oleh orang yang dia kira Jazira tersebut.


Sedangkan Jazira yang sudah bisa terlolos dari Albirru pun menghembuskan nafasnya perlahan. Dia berjalan mendekati seorang dokter yang tengah terduduk dengan tatapan terkejut pada dirinya.


"Maaf dok, saya tiba-tiba masuk. Tadi saya sedikit khawatir, maka dari itu saya langsung masuk." Jazira mengatakan hal tersebut dengan nada malunya seraya membuka bagian penutup hoddie nya.


"Baiklah Nyonya, tidak masalah," jawab dokter wanita tersebut yang membuat Jazira menganggukkan kepalanya perlahan. Dokter perempuan tersebut pun mempersilahkan Jazira agar duduk di hadapannya.

__ADS_1


Dengan patuh, Jazira pun segera duduk di hadapan sang dokter lalu mulai menjawab setiap pertanyaan dokter yang yang diberikan untuk dirinya.


"Baiklah jika memang Anda hanya ingin mengecek bagaimana keadaan janin Anda, silakan Anda berbaring di brangjar tersebut. Saya akan mencoba membantu anda untuk memastikan keadaan janin Anda," jawab sang dokter yang langsung di angguki oleh Jazira.


Jazirah pun segera berjalan mendekati brangkar tersebut dan berbaring di atasnya. Setelah melakukan beberapa persiapan dokter tersebut pun membuka hoodie besar milik Jazira dan membuka beberapa kancing baju yang ada di dress Jazira.


Entah sudah keberapa kalinya Jazira melakukan hal tersebut, dokter itu mengoleskan gel transparans di atas perutnya dan mulai membawa alat USG ke sekeliling perutnya. Jazira menolehkan kepalanya pada sebuah layar hitam yang berada di sampingnya untuk melihat bagaimana kondisi sang buah hati.


Setelah beberapa saat dokter tersebut memeriksa kandungan memiliki Vira melihat wajah terkejut serta khawatir dari dokter tersebut yang membuat Jazeera tersenyum tipis


"Bukankah dia bayi yang kuat? Setelah di beritahu oleh dokterku yang ada di London, dia mengatakan bahwa kandunganku lemah. Tetapi dengan kuasa Tuhan, dia masih bisa bertahan hingga sekarang. Aku sangat bangga padanya," ujar Jazira sembari mendengar detkan jantung milik buah hatinya yang terdengar sangat lemah.


Hal tersebut pun membuat sang dokter tersenyum bangga.


"Setelah kedatangan ke rumah sakit beberapa bulan yang lalu, aku bahagia karena dokter yang menanganiku mengatakan bahwa aku telah mengandung satu bulan. Tapi tak berselang lama setelah itu, dokter tersebut pun mengatakan sebuah fakta yang membuatku duniaku runtuh. Bagaimana tidak? Dia mengatakan bahwa kandunganku sangat lemah, bahkan sang dokter mengatakan potensi untuk keguguran sangatlah besar," imbuh Jazira dengan nada lirihnya.


"Anda benar-benar wanita yang luar biasa Nyonya Alexander. Anda bahkan kuat membesarkan bayi ini sendirian tanpa Tuan Albirru. Sebuah kehormatan bagi diriku ketika saya bisa membantu Anda untuk memeriksa calon penerus keluarga Alexander ini," ucap sang dokter tiba-tiba yang membuat Jazira terkejut.


"Bagaimana kau bisa tahu jika membesarkan putriku ini tanpa Papanya? Dan bagaimana kau juga tahu jika aku adalah istri dari Tuan Albirru?" tanya Jazira dengan bingungnya yang membuat sang dokter menganggukkan kepalanya.


"Skandal tentang kehamilan Nona Larina dengan Tuan Albirru itu telah menyebar. Bahkan kabar ketika Anda pergi meninggalkan suami Anda itu juga terpublish beberapa minggu setelahnya. Anda tahu? Perusahaan milik Tuan Albirru hampir saja bangkrut jika bukan Tuan Marco yang membantunya," jawab dokter itu sembari menghilangkan gel di perut Jazira, meninggalkan Jazira yang masih terkejut.

__ADS_1


"Perusahaan suamiku hampir bangkrut? Bagaimana bisa?" tanya Jazira sembari menerima bantuan sang dokter untuk bangun dari posisinya. Dokter tersebut pun menganggukkan kepalanya lalu menuntun Jazira untuk kembali ke meja kerjanya.


"Hampir semua rekan bisnis Tuqn Albirru merasa kecewa dengan perlakuan Tuan Albirru. Tapi apakah Anda tahu? Tuan Albirru lebih memilih kehilangan banyak relasi bisnisnya daripada relasinya menetap dengan syarat dirinya harus menikahi Larina. Bukankah dia laki-laki yang hebat?" ujar dokter itu lagi yang membuat Jazira benar-benar terkejut.


__ADS_2