
"Everything will end," lirih Jazira dengan senyum lebar seolah semua masalah yang tengah dia pikul menguap begitu saja. Wanita itu mulai melangkahkan kakinya ke ruang hampa yang hanya diisi udara kota itu. Belum semua bobotnya bertumpu pada kakinya, Jazira mematung saat mendengar suara seseorang.
"Maira! Jangan lakuin itu, Ra!" teriak seseorang di bawah sana yang membuat Jazira terdiam mematung.
Wanita yang tengah berdiri di atas pembatas roof top itu menolehkan kepalanya ke samping dan menatap laki-laki tadi dengan ekor matanya. Sejenak wanita yang baru saja kehilangan sang anak itu memejamkan matanya sembari menghirup napasnya dengan panjang.
"Aku minta maaf sama kamu, Ra. Aku tahu apa yang kamu rasa. Nggak cuma kamu yang merasa kehilangan Arasa, Ra. Arasa anak kita berdua. Aku juga kehilangan dia!" Laki-laki itu berjalan mendekati Jazira yang masih menangis saat mendengar ucapan sang suami.
"Aku nggak mau anak kita meninggal, Ra. Tapi Tuhan lebih menyayanginya. Kita nggak akan pernah bisa melawan takdir, Ra!" Ucapan laki-laki yang tak lain adalah suami Jazira itu berhasil membuat wanita rapuh yang hendak mengakhiri hidupnya itu membalikkan tubuhnya.
"Tapi ini semua terjadi karena kau! Andai kau tak menyalahi apa yang sudah tertera di surat kontrak kita, anakku tidak akan pergi! Kau yang membunuh anakku!" Jazira berteriak dengan tatapan tajam yang menghunus langsung ke Albirru.
Albirru, laki-laki itu mengeratkan kepalan tangannya saat mendengar ucapan sang istri. Hatinya berdesir hebat tatkala mendengar sang istri yang sangat dia cintai, menyebut dirinya sebagai seorang pembunuh.
"Andai kau tak menghamili kekasihmu itu, mungkin Arasa masih ada di sisiku! Kau tak tahu, betapa hancurnya aku saat anak yang aku kandung meninggal! Kau jahat, Albirru!" Jazira semakin tak bisa mengontrol amarahnya saat menatap wajah tampan milik sang suami yang kini menjadi sumber lukanya.
"Maafkan aku, Sayang. Kau tahu bukan bahwa anak yang dikandung oleh wanita itu bukan anakku? Aku tidak sekeji itu, Ra. Tolong kamu turun ya? Dengan kamu melompat dari atas sana, tidak akan membuat Arasa kita hidup kembali. Masalah antara kita berdua pun tak akan selesai dengan begitu saja." Albirru mencoba membujuk sang istri agar tak melompat dengan tatapan penuh harapnya.
"Apa pedulimu padaku, hah? Biarkan saja wanita ini terjun bebas ke bawah. Bukankah dengan begitu kau tak akan menjumpai aku lagi di dunia ini? Kenapa kau terlihat sangat khawatir jika aku melompat dari sini?" Jazira mengepalkan tangannya erat saat merasakan nyeri di dadanya saat menatap sang suami.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu, Ra!" ungkap Albirru dengan nada tingginya, sembari berdiri tepat beberapa langkah tak jauh dari posisi berdiri sang istri.
Jazira mematung mendengar ucapan sang suami. Hal itulah yang Jazira tunggu selama 10 bulan bersama. Tapi, kenapa baru sekarang sang suami mengatakan hal demikian pada dirinya? Apakah hal itu hanya tipuan semata agar dirinya mengurungkan niat untuk mengakhiri hidup? Jazira kebingungan akan hal itu.
"Aku benar-benar tidak ingin kau sampai terjerumus ke hal yang salah, Ra! Apakah kau berpikir, dengan kau mengakhiri hidupmu, kau akan bertemu dengan putri kita? Hal itu tidak akan mungkin terjadi. Aku mohon jangan gegabah, Sayang. Jangan ikuti kata hatimu, tetapi ikutilah logikamu. Apa yang kamu lakukan sekarang ini salah, Ra!" Angin yang berhembus kencang itu membuat Albirru meninggikan suaranya.
Jazira masih terdiam saat mendengar ucapan sang suami. Apa yang suaminya katakan memang benar. Dirinya tak bisa mengakhiri hidupnya untuk bertemu dengan sang putri. Hal itu akan mustahil terjadi.
Albirru yang melihat sang istri tengah terdiam pun tanpa aba-aba segera menarik tangan Jazira. Jazira yang tangannya ditarik oleh Albirru pun langsung terkejut bukan main.
Seketika tubuh kecil Jazira langsung limbung dan jatuh ke atas tubuh kekar milik Albirru. Wanita yang merasa kesakitan karena bekas jahitannya terbentur pun mengerang kesakitan.
Sontak Albirru yang tubuhnya tergeletak di atas lantai roof top pun segera bangkit dan memeriksa tubuh sang istri. Laki-laki itu menyentuh perlahan bekas operasi caesar milik sang istri dengan halus.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu! Menjauhlah dariku!" teriak Jazira sembari memundurkan tubuhnya agar menjauh dari tempat Albirru duduk sekarang.
Albirru yang melihat penolakan dari sang istri pun semakin merasa bersalah. Laki-laki itu mencoba mendekati sang istri yang terlihat sangat ketakutan dengan hati yang terasa sangat sakit.
"Maafkan aku, Ra. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, Sayang." Jazira menggelengkan kepalanya dengan erat sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya.
__ADS_1
Wanita itu terus mundur hingga tubuhnya telah terpojok ke tembok pembatas roof top. Wanita itu menundukkan kepalanya dengan tangis yang tak kunjung reda. Tangisan pilu yang bercampur dengan ketakutan itu semakin menambah luka yang belum kering di hati Albirru.
Albirru berdiam sejenak. Dirinya tahu bahwa sang istri membutuhkan waktu untuk kembali sadar sepenuhnya. Laki-laki itu merekam setiap tangisan yang keluar dari bibir sang istri, agar dirinya tak mengulangi hal yang sama di kemudian hari. Dirinya berjanji akan mempertahankan pernikahannya bersama sang istri.
"Tanganmu berdarah. Kita kembali turun ya, Ra? Kita obati tangan kamu dulu. Besok kita ziarah ke makam Arasa sama-sama." Albirru mengecup perlahan kening milik Jazira yang masih menundukkan kepalanya dan dengan tangis yang mulai mereda.
Jazira tak menjawab. Wanita itu memejamkan matanya sembari mendengarkan suara yang sangat dia hafal di pikirannya. Suara itulah yang selalu dia rindukan semasa mengandung almarhum putrinya.
"Jangan ulangi lagi ya, Ra? Kamu nggak mau anak kita sedih, bukan? Arasa pasti sedih liat mamanya begini. Aku nggak mau kamu menyesal nantinya. Kamu dengar?" Albirru mengelus puncak kepala milik wanita yang telah dia hancurkan hidupnya itu.
Jazira tak menjawab. Wanita itu hanya berdiam sampai akhirnya Albirru menghembuskan napasnya dengan perlahan. Laki-laki itu mendekap erat sang istri dan mencium bahu milik Jazira yang masih bergetar.
"Aku mencintaimu, Ra. Jangan pernah mencoba buat menjauh dariku. Maafkan aku yang dulu karena sempat mengecewakan kamu dan Arasa. Kita mulai semua dari awal," bisik Albirru yang lagi-lagi membuat Jazira diam membisu.
Albirru pun segera menggendong tubuh sang istri lalu membawanya keluar dari roof top rumah sakit. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya kepada Jazira sembari menghujani puncak kepala Jazira dengan kecupan hangatnya.
Selama Albirru berjalan menuju ruang rawat milik Jazira, wanita yang berada di gendongan Albirru itu hanya bisa terdiam. Jazira menyesali tindakan bodohnya, yang mungkin saja akan terjadi jika sang suami tidak datang dengan cepat.
"Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di roof top?" tanya Jazira dengan tatapan kosongnya seraya menjadikan dada bidang milik sang suami sebagai sandarannya.
__ADS_1
Albirru menundukkan kepalanya dan menatap sang istri yang tak membalas tatapannya. Laki-laki itu mengulum senyumnya perlahan sembari menekan tombol di lift.
"Entahlah. Naluriku meminta agar aku segera bangun, tadi. Lalu benar saja, ternyata kau sudah pergi dari ruang rawatmu dan pergi ke roof top." Albirru segera membawa masuk dirinya dan juga sang istri ke dalam lift.