ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 32


__ADS_3

Dengan ragu, dia mencoba menelepon suaminya. Setelah menunggu beberapa menit, panggilannya telah dijawab oleh Albirru.


"Jingga sakit?" tanya Jazira langsung to the point.


"Hmm, dia sedang marah padaku. So, aku tak bisa merawatnya. Bisakah kau pulang untuk merawatnya?" ujar Albirru yang membuat Jazira tak percaya. Bagaimana bisa seorang Albirru Geano Alexander meminta tolong pada orang lain?


"Dimana Mbok Sum? Kenapa tidak simbok yang mengurusnya?" tanya Jazira lagi karena dia takut Albirru berbohong. Sebenarnya dia tak ingin menginjakkan kakinya dirumah tersebut, tapi Albirru mengatakan bahwa Jingga sedang sakit.


"Mbok Sum pulang kampung. Orang tuanya sedang sakit." jawab Albirru dengan nada khawatirnya karena adiknya tak keluar dari kamar. Sesaat setelah kepergian Mbok Sum tadi, Jingga turun kebawah untuk mengambil air.


Albirru yang melihat wajah pucat dari sang adik pun bergerak maju untuk memegang dahinya. Namun betapa terkejutnya dia saat mengetahui suhu tubuh sang adik sangat tinggi.


"Bisa kau berikan ponselmu pada Jingga?" pinta Jazira kepada suaminya. Benar suaminya bukan? Pasalnya mereka belum bercerai.


Albirru yang sedari tadi berdiri di depan kamar Jingga pun segera mengetuk pintunya.


"Jingga, mau ngomong sama Kak Zizi nggak? Ini lagi telepon." teriak Albirru sambil mencoba membuka pintu kamar Jingga yang terkunci dari dalam.


Lama mengetuk pintu, Albirru tersenyum saat terdengar kunci pintu diputar. Jingga sama sekali tak menampakkan dirinya, dia hanya mengeluarkan tangan kanannya dan meminta ponsel milik Albirru.


Albirru pun membarikan ponselnya yang masih menyambung dengan Jazira.


"Kak Zi!" rengek Jingga setelah kembali masuk ke kamarnya. Albirru sengaja tak kembali ke kamarnya, dia ikut masuk ke kamar Jingga karena Jingga tak mengunci pintu kamarnya.


"Jingga sakit? Mau ke dokter sama Kak Birru ya?" bujuk Jazira dengan nada khawatir. Apakah salah jika dia khawatir dengan adik iparnya, yang mungkin sebentar lagi menjadi mantan calon adik iparnya.


"Nggak mau! Jingga cuma mau Kak Zizi! Kenapa coba Kak Zizi pergi nggak bilang-bilang ke Jingga?!" ucap Jingga manja yang membuat Albirru menatap Jingga datar.


Sepertinya anak ini memang sedang mencari masalah denganku. Kenapa dia mencari Kakak iparnya? Sedangkan dia masih memiliki Kakak? Andai dia bukan adikku, sudah kupukul kepalanya. Batin Albirru sambil menatap adiknya.


"Kamu minum obat aja ya? Kak Zizi nggak bisa dateng." ujar Jazira mencoba membujuk Jingga agar dirinya tak datang ke rumah Albirru lagi. Namun Jingga masih tak mau, dia hanya menginginkan Jazira.


"Jingga nggak mau! Jingga cuma mau Kak Zizi!" bentak Jingga yang membuat Jazira mengelus dadanya. Jingga kembali menangis, kali ini dengan suara parau nya. Mungkin efek terlalu lama menangis, Jingga sampai terbatuk-batuk.


Jazira menghela nafasnya panjang sambil menatap keluar jendela. Hujan masih setia turun membasahi bumi. Entahlah, dia ingin sekali merawat adik iparnya tersebut.


"Baiklah, Kak Zizi akan pulang. Tapi dengan satu syarat." ucap Jazira yang akhirnya menyerah dengan perasaannya.


"Benarkah? Apapun syaratnya, Jingga akan penuhi." jawab Jingga antusias karena tahu kakak iparnya akan segera pulang.

__ADS_1


"Kau janji akan menuruti semua perkataan Kak Zizi?" tanya Jazira memastikan bahwa kedatangannya tak akan sia-sia.


"Janji! Baiklah Jingga tunggu kedatangan Kak Zizi." ucap Jingga berjanji pada kakak iparnya.


"Oke, kau bisa kembalikan ponsel kakakmu." ujar Jazira yang langsung dituruti oleh Jingga.


Albirru pun menerima ponselnya dan segera keluar dari kamar sang adik.


"Kau akan kemari, hmm?" tanya Albirru sambil menuruni tangga. Jazira yang mengira jika panggilannya telah terputus pun terkejut.


"Eh, iya. Aku akan pergi menggunakan taksi nanti." jawab Jazira sambil berjalan mendekati ponselnya yang telah terongok diatas kasur.


"Tidak perlu, aku akan menjemputmu. Kau tunggu saja aku disana. Kau hanya perlu mengirimkan lokasimu saat ini.


"Kau tak perlu repot-repot. Aku akan memesan taksi online. Kau jaga Jingga saja." tolak Jazira halus karena tak ingin merepotkan sang suami.


"Aku tak menerima penolakan. Cepat kirimkan alamatmu. Jangan pergi sebelum aku datang." ujar Albirru yang membuat Jazira kalah telak.


"Kenapa kau mulai menghangat setelah kita memutuskan untuk bercerai? Jangan ubah sikapmu padaku, aku tak ingin menyesal dengan keputusanku." cicit Jazira lirih sambil mengepalkan tangannya.


"Because I don't want to lose you." ucap Albirru tulus dari hatinya.


Jazira merasakan gataran hebat didadanya. Apa? Albirru mengatakan jika dia tak ingin kehilangan dirinya? Rasanya Jazira ingin berteriak sekarang.


"Ku pastikan aku tak akan terlambat lagi. Cepatlah bersiap, aku akan datang." ujar Albirru sambil berjalan keluar dari kamarnya, lengkap dengan jaket serta kunci mobilnya.


"Hmm, baiklah ku tutup panggilannya." ujar Jazira lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Kenapa kau berubah setelah keadaan menjadi rumit seperti ini? Kau pasti bisa Zi." gumam Zizi sambil menghapus air matanya.


Dengan segera, Jazira berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi, dia segera berganti pakaian. Tak lupa dia memoleskan sedikit make up diwajahnya.


Bukan masalah ingin tampil cantik dihadapan suaminya, tapi matanya yang sedikit membengkak karena menangis dikamar mandilah penyebabnya.


Setelah siap, dia berjalan keluar dari apartemennya dengan tas selempang dibahunya. Dia berjalan seorang diri melewati koridor sepi hingga lobby.


Jazira pun heran mengapa dia tak menjumpai satu orangpun selama perjalanan menuju lobby.


Setelah keluar dari lift, baru beberapa langkah dia melangkah, Jazira berteriak karena listrik padam.

__ADS_1


Jazira yang memang memiliki trauma akan kegelapan pun hanya bisa menangis. Badannya bergetar hebat, dia hanya bisa menekuk lututnya sambil menenggelamkan kepalanya diantara lututnya.


Lama Jazira menangis dengan posisi seperti itu, Jazira dikejutkan oleh tangan seseorang yang menyentuh kepalanya.


"Jangan bunuh Zizi! Cukup kalian ambil Ibuku, jangan aku!" teriak Jazira ketakutan sambil menutup kedua telinganya dengan tangan. Jazira tak tahu siapa yang menyentuhnya, matanya masih terpejam dengan air mata yang terus menetes.


Jazira bertambah terkejut tatkala orang tersebut menggendongnya ala bridal style. Jazira yang hendak berteriak pun dia urungkan ketika mendengar bisikan di telinganya.


"Kau tak perlu takut, Ra. Ada suamimu disini." ujar orang tersebut yang tak lain adalah suaminya sendiri. Jazira pun membuka matanya namun dia tak dapat melihat apapun.


Tangan mungilnya terangkat untuk meraba wajah lelaki kekar yang sedang menggendongnya keluar dari lantai dasar apertemennya. Tangan Jazira masih meraba wajah Albirru, mulai dari dahi, kelopak mata, pipi, hidung mancung milik Albirru, hingga bibir Albirru.


Jazira terkejut saat Albirru menggigit jarinya. Matanya terbelalak lebar karena kaget dengan perlakuan Albirru.


"Ini bener Mas Birru kan?" tanya Albirru sambil meraba rambut milik Albirru. Albirru terkekeh pelan lalu melepaskan jari-jari mungil milik Jazira dari mulutnya.


"Kau kira siapa lagi? Apakah selingkuhanmu itu?" jawab Albirru dengan nada tak suka nya. Jazira pun memukul pelan dada bidang milik suaminya.


"Iya, selingkuhanku! Kau mau apa?!" ucap Jazira dengan nada tak suka yang membuat Albirru menatap tajam istrinya itu.


"Jangan berbicara yang tidak-tidak!" sergah Albirru setelah berhasil keluar dari dalam apartemen. Wajah tampannya tersorot oleh cahaya bulan yang kali ini berbentuk bulat sempurna.


"Makannya nih bibir kalo ngomong di rem!" sindir Jazira sambil memukul pelan bibir Albirru. Albirru tersenyum tipis lalu mengeratkan gendongannya kepada sang istri.


"Pegangan dulu, aku mau lari kemobil!" ujar Albirru sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari. Sontak Jazira pun memeluk leher sang suami erat sambil menundukkan sedikit kepalanya.


Setelah itu, Albirru pun berlari sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk melindungi kepala Jazira dari hujan.


Setelah mendudukkan Jazira dengan aman, Albirru pun bergegas masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi.


Albirru pun mulai menjalankan mobilnya untuk meninggalkan apartemen Jazira. Tak ada yang berbicara selama perjalanan. Hanya terdengar suara air hujan yang beramai-ramai menjatuhkan diri di kaca mobil.


Jazira hanya menatap ke luar, menatap pinggiran jalan yang seolah-olah mulai tertinggal oleh kepergiannya.


"Ra..." panggil Albirru setelah sekian lama sunyi senyap tak ada suara. Jazira yang sedari tadi asyik menatap pemandangan luar pun menolehdimana sang suami berada.


"Hmm..." jawab Jazira hanya dengan deheman. Netranya menatap sang suami yang masih fokus mengemudi.


"Aku sudah mengajukan gugatan perceraian kita ke pengadilan. Mungkin suratnya akan diantar besok." ucap Albirru yang membuat badan Jazira menegang seketika. Jazira merasakan bahwa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat.

__ADS_1


*******


Jazakumullahu kharian katsiran buat Mam Mam semua yang masih menunggu cerita ini up🙏. Kayenna minta maaf karena sering telat up😁.


__ADS_2