ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 28


__ADS_3

Jangan lupa like dan komennya di bab sebelumnya all❤.


Setelah duduk didalam mobil Zizi pun segera melepaskan tawanya yang sedari tadi dia tahan. Jingga pun ikut tertewa ketika mendengar tawa dari kakak iparnya.


"Kau lihat mukanya, Ngga? Dia seperti kepiting rebus! Seharusnya kita tak mengganggunya tadi. Mereka seperti terciduk melakukan hal yang tidak senonoh." ujar Jazira disela tawanya. Jingga hanya menganggukkan kepalanya setuju.


"Seharusnya tadi kita bawa security aja, biar lebih memuaskan grebeknya. Kan kalo cuma keluarin sumpah serapah, nggak lucu Kak. Nanti seolah-olah dia berbuat mesum di rumah kita." timpal Jingga yang langsung membuat Jazira tertawa terbahak-bahak.


Mereka berdua masih bercanda soal tadi, sampai Johan yang sedang mengendarai mobil pun ikut tersenyum mendengar suara tawa dua majikannya.


"Maaf Non, kenapa dari tadi tertawa terus? Denger suara ketawanya Non Maira sama Non Jingga nih, bikin penasaran ketawa gara-gara apa." Tanya Johan sambil menatap keduanya melalui spion tengah.


"Masalah Larina sama tuan Albirru, Paman. Jika Paman ikut menyaksikannya, pasti Paman pun akan tertawa." ucap Jazira sama sekali tak menutupi apapun dari asisten suaminya itu.


"Tunggu tunggu, pasti jika saat ini bukan aku dan Kak Zizi yang berada disini. Pasti jawabannya seperti ini, Paman." ujar Jingga mencoba membuat drama baru.


"Heh kau supir tua! Kau hanyalah seorang supir! Jangan berusaha untum ikut campur dengan urusan orang kaya! Kau fokus saja mencari uang! Seperti itu, benar bukan?" tanya Jingga setelah beruasaha menirukan gaya bicara orang kaya pada umumnya.


Sesuai tebakan lagi, mereka bertiga berakhir dengan tertawa terbahak-bahak. Jingga yang tertawa sampai sakit perut pun mengeluarkan air matanya. Johan yang sangat geli dengan lawakan Jingga pun sampai menepikan mobilnya terlebih dahulu, takut terjadi sesuatu.


"Sudah sudah jangan tertawa terus. Kita harus segera sampai di rumah sakit kota. Paman takut Nona Maira akan terlambat." Ujar Johan mencoba membuat dua majikan nya berhanti tertawa.


"Tidak apa-apa Paman, Zizi tidak terlalu terburu-buru. Aku bukanlah majikan yang akan menyalahkan supir jika datang terlambat datang ke acara. Aku tidak akan memecatmu Paman." Ujar Jazira yang lagi-lagi membuat mereka bertiga tertawa lagi.


Johan mencoba menghentikan tertawanya, dia pun dengan segera membawa dua majikannya menuju rumah sakit kota.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka bertiga telah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Terimakasih supir tampanku. Lebih baik ayang beb ku ini pulang terlebih dahulu. Bukan begitu kakak ipar?" Ujar Jingga lagi yang membuat ketiganya tertawa lagi.


"Sudahlah Non Jingga, jangan membuat Paman sakit perut terus-terusan." Sela Johan sambil memegangi perutnya.


"Ya sudah, Paman pulang saja dulu. Nanti Zizi pulang naik taksi aja, sekalian jalan-jalan sama Jingga. Zizi males, ada kuntilanak lintah darat dirumah." Jawab Jazira sambil keluar dari mobil diikuti oleh Jingga.


"Bye, pacar dadakan!" Ujar Jingga sebelum keluar dari mobil. Johan hanya menggelengkan kepalanya mendapat perilaku dari si wiro sableng, Jingga.


Mereka berdua pun segera berjalan mendekati resepsionis. Jazira layaknya emak-emak yang membawa anaknya. Jingga hanya berdiri polos dengan tangan yang dipegang erat oleh Jazira.


Jingga sampai tak mendengar, ruangan siapa yang sedang Jazira tanyakan kepada resepsionis karena melihat sekilas orang yang dia kenal. Ya, dia melihat Veno. Laki-laki yang mengantarkannya pulang ke apartemen.


"Loh bukannya itu Kak Veno? Kok bisa ada disini? Berarti orang yang nyelametin aku juga ada disini?" Gumamnya lantas berusaha hendak mengejar Veno. Namun karena tangannya masih digenggam oleh Jazira, dia tak dapat menyapa Veno.


"Jingga mau kemana? Jangan lari-larian ya, Kak Zizi nggak mau kalo cari-cari kamu." Larang Jazira sambil berjalan menuju lift diujung koridor. Dalam lift, Jingga masih memikirkan dimana orang yang menyelamatkannya.


Mereka berdua pun tiba diruang vvip. Dengan hati-hati, Jazira membuka pintu ruang rawatnya dan berjalan masuk kedalam. Sepi, tak ada orang lain selain seorang laki-laki yang sedang tertidur miring dengan infus yang melekat ditangannya.


Setelah mendekat, Jazira pun melepaskan genggaman tangannya dari Jingga lalu berpindah kedepan lelaki tersebut.


"Kak Marcel? Kak Marcel baik-baik aja?" Sapa Jazira yang membuat Marcel menggeliatkan badannya. Setelah matanya terbuka, betapa senangnya Marcel karena melihat Jazira ada di ruangannya.


"Udah mendingan. Tapi susah digerakin lengan kirinya. Dateng sama siapa, Zi?" Jawab Marcel dengan nada seraknya sambil menatap Zizi.


"Syukurlah kalau udah mendingan. Oh ini Zizi dateng sama adik iparnya Zizi, sini Ngga." Jawab Jazira sambil mengajak Jingga untuk mendekat. Marcel yang mengira bahwa adik ipar Jazira laki-laki pun terkejut.


Begitu pula dengan Jingga, natranya langsung terkunci oleh iris mata berwarna coklat tua kehitaman yang juga sedang menatapnya. Ada rasa nyaman yang menyeruak dihati keduanya ketika menatap netra masing-masing.

__ADS_1


Jazira yang tahu arti tatapan aneh dari Jingga dan Marcel pun dengan segera ingin menghindar.


"Kak Marcel belum makan, kan? Zizi beliin makanan dulu ya? Jingga mau makan lagi?" Tanya Zizi sambil memegang bahu Jingga. Jingga sama sekali tak menoleh, dia hanya menganggukkan kepalanya kaku.


Jazira pun tersenyum lalu berjalan keluar dari ruangan Marcel. Lama dengan posisi tersebut, akhirnya Marcel mengalihkan pandangannya karena lengannya kembali merasa sakit.


Jingga yang tersadar pun segera membuang pandangannya lalu berdehem untuk menetralkan irama jantungnya. Dia berjalan kebelakamg tubuh Marcel dan duduk disana.


Jingga merasa bahwa jam berjalan begitu lama. Jazira pun tak kunjung kembali dari kantin. Hawa mencekam semakin menambah bayang-bayang Jingga, dia menempatkan dirinya berada di film horor kesukaannya.


Sampai tubuhnya tiba-tiba terkejut ketika Marcel yang mulai mengeluarkan suara.


"Apakah kau bisa membantuku ke kamar mandi?" Tanya Marcel tanpa menolehkan kepalanya kepada Jingga. Sontak Jingga pun berdiri dari duduknya lalu berjalan kedepan Marcel.


"Kemarikan tanganmu." Ujar Jingga sambil menyerahkan telapak tangan mungilnya dihadapan Marcel. Antara yakin dan tidak yakin, Marcel pin mengulurkan lengan kananya lalu membiarkan Jingga membantunya berdiri.


Dengan telaten, Jingga memapah Marcel dengan hati-hati. Marcel sama sekali tak bereaksi atas bantuan Jingga. Dia masih memikirkan kemana perginya Zizi. Marcel tak tahu bahwa jantung Jingga sudah tak aman sejak pertama kali menatap Marcel.


Memang seperti itulah hukum alam. Ketika kita menyukai seseorang entah apa halangannya pasti orang tersebut akan suka dengan orang terdekat kita. Dan ya, pada akhirnya ketika kita menyerah barulah cinta kita mulai terbalaskan.


Setelah mendudukkan Marcel di toilet, Jingga segera keluar dari kamar mandi. Saat akan melangkah, dia terkejut karena seseorang menahan dress nya. Dia masih mencoba melangkah namun masih tak dapat berjalan.


"Tolong lepaskan aku!" Ucap Jingga tanpa menoleh yang bebarengan dengan kedatangan Jazira. Zizi yang bingung dengan tingkah Jingga pun mulai menyimak. Hingga akhirnya dia paham akan apa yang terjadi pada adik iparnya, tak lama setelah itu Zizi pun tetawa.


******


Maaf jika bab ini kurang berkenan di hati kakak kakak semua. Mohon maaf juga jika banyak typo. Kayenna ucapkan terimakasih sudah menunggu cerita ini up🙏❤😘

__ADS_1


__ADS_2