ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 15


__ADS_3

Bagaimana Jazira tak terkejut? Ada tiga perempuan yang sedang berjalan kesana kemari didalam kamarnya. Eh ralat, bukan kamarnya. Tapi entah kamar milik siapa ini.


Salah seorang dari wanita tersebut pun menoleh kepada Jazira dan terkejut karena Jazira telah terbangun.


"Eh, selamat pagi Nona. Maaf jika Nona terkejut dengan kedatangan kami di kamar Nona." Ucap wanita tersebut yang membuat kedua temannya berhenti beraktifitas dan menatapnya.


"Selamat pagi juga, Bi. Maaf ada apa ya? Apakah ada yang salah dengan Zizi?" Ucap Jazira perlahan sambil menurunkan kakinya dari ranjang. Salah satu dari wanita tersebut pun menggeleng perlahan lalu berjalan mendekati Jazira.


"Tidak ada yang salah dengan Anda, Nona. Sebaiknya jika Anda segera bersiap-siap karena waktu akad nya sebentar lagi akan dimulai." Ucap wanita yang telah dihinggapi kerutan diwajahnya.


Sontak Jazira pun membelalakkan matanya dan segera berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati seorang wanita yang tadi mengajaknya bicara untuk memastikan pendengarannya.


"Bibi bilang akad? Siapa yang akad, Bi?" Tanya Jazira bingung dengan wajah yang takut. Wanita tersebut pun tersenyum lembut lalu mengelus tangan Jazira perlahan.


"Apakah Nona lupa bahwa hari ini adalah hari pernikahan Nona?" Ucap wanita tersebut yang langsung membuat Jazira tersentak kaget.


"Pe... pernikahan? Hari pernikahan Zizi?" Ucap Jazira gagap sambil menatap ketiga wanita yang berada didepannya. Mereka semua pun menganggukkan kepalanya dan meyakinkan bahwa apa yang Jazira dengar adalah benar adanya.


"Baiklah, sebaiknya Nona mandi terlebih dahulu dan kami akan menyiapkan semua perlengkapan Nona." Ucap wanita yang sedari tadi berbicara dengan Jazira, sambil mengantarkan Jazira menuju kamar mandi.


Jazira yang masih terkejut pun hanya berjalan kaku menuju kamar mandi karena dorongan dari wanita tersebut.


"Apakah Nona perlua bantuan untuk mandi? Saya bisa membantu Nona unt-"

__ADS_1


"Tidak perlu, Bi. Aku bisa sendiri. Bibi bisa tunggu Jazira untuk beberapa saat." Ucap Jazira lembut memotong perkataan wanita tersebut. Dengan segera Jazira pun memasuki kamar mandi dan mempercepat acara mandinya.


Di dalam kamar mandi pun Jazira masih berpikir, apakah semua ini benar-benar terjadi atau hanya khayalannya saja. Setelah menyelesaikan mandinya, Jazira pun segera keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi berwarna putihnya.


Ketiga wanita yang melihat Jazira keluar dari kamar mandi pun dengan cepat membawa Jazira mendekati gaun yang telah mereka siapkan. Seketika mata Jazira pun dibuat takjub oleh gaun indah berwarna putih yang telah terpampang jelas di depan matanya.


Wanita yang tadi menyambutnya ketika bangun tidur pun membawanya ke meja rias dan mulai memoles wajahnya dengan berbagai alat make up.


Tak butuh waktu lama, setelah 1 jam wanita tersebut selesai membuat Jazira terlihat cantik alami dengan sanggul bawah disertai mahkota cantik diatas kepalanya. Tak lupa gaun mewah berwarna putih yang sangat kontras dengan kulit Jazira yang putih bersih.


Jazira yang menatap wajahnya melalui cermin pun tersenyum manis. Dia tak menyangka jika Albirru benar-benar menepati perkataannya untuk menikahi dirinya. Lebih tepatnya lagi menikahi kontrak dirinya.


Jazira pun memejamkan matanya sekejap dan menghirup nafas nya dalam-dalam. Dia memantapkan hatinya bahwa apa yang telah dia pilih adalah pilihan yang tepat. Karena apa? Karena dengan ini dia dapat menghindari kakak tirinya dan berlindung dari Mantan suami ibu tirinya.


"Kenapa Bibi-Bibi ini menatap Jazira dengan tatapan seperti itu?" Tanya Jazira karena sedari tadi kedua wanita tersebut menatapnya tanpa berkedip.


"Tuan muda memang tepat memilih calon istri. Pagi ini Nona Jazira sangatlah cantik, sedari tadi kami menatap Nona Jazira dengan tatapan kagum. Bukan karena apa-apa." Ucap wanita yang terlihat masih muda sambil berjalan mendekati Jazira.


"Baiklah Nona Jazira, mari kita turun. Tuan muda dan yang lainnya sudah menunggu di bawah sejak tadi pagi." Ucap wanita tersebut yang sopan yang membuat Jazira menganggukkan kepalanya. Dengam perlahan, Jazira mulai memberikan tangannya kepada dua wanita tersebut.


Dengan senang hati kedua wanita tersebut menerima uluran tangan dari Jazira dan membawanya keluar dari kamar. Dengan perlahan, Jazira pun mulai menuruni tangga. Semua orang yang berada di lantai bawah diam mematung melihat kedatangan Jazira dan 2 orang yang sedang menuntun Jazira.


Karena terlalu fokus dengan gaun yang menutupi anak tangga, Jazira pun sampai tak sadar bahwa banyak pasang mata yang menatapnya kagum. Begitu sampai di tangga paling dasar Jazira lalu mendongakkan kepalanya. Jazira pun terkejut mendapati banyak orang yang sedang menatapnya.

__ADS_1


Jazira hanya menganggukkan kepalanya perlahan sambil menatap semua orang yang juga sedang menatapnya. Matanya terhenti kepada sosok lelaki yang sedang berdiri di ujung ruangan. Lelaki tersebut sedang menatapnya tajam.


Dengan perlahan Jazira mendekati Albirru yang berdiri disebelah Johan dan Larina. Larina yang bermaksud datang untuk mengolok penampilan Jazira pun seketika lupa akan tujuan awalnya.


Larina saja terpesona dengan penampilan natural dari Jazira apalagi Albirru. Albirru masih menatap intens netra Jazira sampai Jazira berdiri didepannya. Larina yang mengarti arti dari tatapan Albirru pun berjalan maju sehingga menutupi pandangan Albirru kepada Jazira.


"Sayang, jaga pandangamu itu! Bukankah kau sudah berjanji agar tetap setia padaku bukan? Kau harus ingat janjimu padaku!" Ucap Larina dengan penekanan disetiap katanya. Albirru hanya memutar bola matanya jengah lalu kembali menatap Jazira.


"Jazira?" Panggil seseorang yang membuat Jazira yang sedari tadi hanya menunduk. Mata Jazira pun seketika melotot melihat kedatangan orang tersebut.


"K... Kak Marcel?" Ucap Jazira lirih sambil menatap lelaki yang beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa dia menyukai dirinya. Marcel pun mendekatkan dirinya kepada Jazira. Jazira yang melihat hal tersebut pun memundurkan langkahnya.


Albirru yang melihat hal tersebut pun seketika mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya erat-erat. Saat Albirru handak maju mendekati mereka berdua, Larina mencegah Albirru dengan menarik lengannya.


"Mengapa kau mundur, Zi? Apakah kau tak ingin memberiku pelukan perpisahan?" Ucap Marcel dengan senyum miringnya yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.


Sementara Albirru yang sudah ingin memukul Marcel pun berjalan meju tanpa menghiraukan gelengan kepala dari Larina.


"Apakah kau tak melihat bahwa ada calon suaminya disini?" Ucap Albirru dengan nada yang terdengar sedang menahan amarahnya. Marcel pun dengan sengaja ingin membuat Albirru bertambah marah.


"Lalu mengapa? Bukankah aku kakaknya juga? Apa masalahnya denganmu hah?! Kami dekatpun sekedar kakak dan adik. Bukan begitu, Zi?" Ucap Marcel smabil mendekati Jazira yang sedang menatap Albirru dan Marcel secara bergantian.


"Tentu saja itu menjadi urusanku! Dia adalah calon istriku! Kau dengar? CALON ISTRKU!" Ucap Albirru menekankan kata 'calon istriku' dihadapan Marcel.

__ADS_1


"Kau salah bicara Tuan Albirru. Jazira hanya Calon Istri Bayaranmu! ISTRI BAYARAN!" Balas Marcel kepada Albirru.


__ADS_2