ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 24


__ADS_3

Jingga masih terus berjalan dan mengusap air matanya dengan kasar. Tepat lima langkah setelah itu, suara peluru yang baru saja keluar dari pistolnya menyapa pendengaran Jingga.


Karena Jingga tak memiliki persiapan suatu apapun, dia pun memejamkan matanya ketakutan. Namun tak lama setelah itu, tubuhnya dipeluk oleh seseorang yang menyababkan keduanya jatuh ke tanah.


Netra Jingga menatap sebuah iris mata berwarna cokelat tua yang berada tepat didepannya. Belum sempat dia menatap wajah orang tersebut, seseorang dibelakangnya langsung mengangkat tubuhnya.


"Cepat bawa pergi!" teriak seseorang yang menyelamatkan nyawa Jingga. Terdengar tembakan pistol selama beberapa kali yang memekikkan telinga siapapun yang mendengarnya.


Jingga hanya bisa menutup matanya rapat-rapat sambil menutup dua telinganya. Entahlah, dia merasa de javu dengan ini semua. Lelaki yang tak lain adalah asisten lelaki tadi pun dengan segera membawa Jingga kedalam mobil.


Setelah mendudukkan Jingga dijok belakang, laki-laki tersebut pun mencoba menyadarkan Jingga yang sedang menangis.


"Nona, kau sudah aman disini. Bagaimana jika saya antar pulang?" Ucap asisten tersebut lembut, yang membuat Jingga membuka netranya dengan perlahan. Jingga sempat terpana ketika menatap ketampanan lelaki yang ada didepannya.


"Nona? Apakah kau baik-baik saja?" tanya laki-laki tersebut sekali lagi yang membuat Jingga tersadar dari lamunanya. Dengan kaku, Jingga pun menganggukkan kepalanya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, lelaki tersebut membawa pergi mobil mewah berwarna hitam tersebut menjauhi pelataran cafe yang sudah ramai oleh banyak orang.


Didalam mobil, tak ada diantara mereka yang mengatakan apapun. Bahkan hanya satu kata atau batuk pun tak terdengar disana. Karena Jingga adalah orang yang paling membenci kesepian, dia memberanikan dirinya untuk bertanya kepada lelaki yang duduk dibelakang kemudi.


"Emm, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Jingga lirih yang membuat lelaki didepannya menatap dirinya melalui spion tengah.


"Apa yang sebenarnya terjadi, tadi? Mengapa laki-laki tadi menyelamatkanku? Apakah ada urusannya denganku?" cecar Jingga dengan nada yang sedikit lirih. Namun laki-laki tersebut sama sekali tak menjawab satupun pertanyaannya.


Jingga yang sama sekali tak di respon pun hanya memutar matanya. Setalah itu, keheningan kembali menemani mereka berdua.


"Dimana tempat tinggal Anda, Nona?" tanya lelaki tersebut yang akhirnya kembali bersuara. Jingga menghela nafasnya perlahan lalu menatap tajam lelaki yang berada didepannya.


"Apartemen kota, didekat universitas kota!" jawab Jingga dengan ketus sambil menyenderkan badannya kembali. Lelaki tersebut pun hanya mengenggukkan kepalanya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka telah tiba di apartemen Jingga. Jingga pun segera turun dari mobil yang masih terdapat asisten Marcel. Ya, laki-laki yang tadi menyelamatkan Jazira adalah Marcel.

__ADS_1


'Dasar wanita tidak tahu sopan santun. Bahkan mengucapkan terimakasih saja tidak! Jika ini bukan perintah dari Tuan Marcel, maka aku tak akan repot-repot untuk mengantar gadis ini!' gumam lelaki itu dalam hati.


Saat asisten Marcel sibuk membatin tentang Jingga, terdengar ketukan keca tepat disebelahnya. Dengan segera, ia pun menurunkan kaca mobilnya lalu menatap Jingga dengan muka masamnya.


"Terimakasih karena telah mengantarku pulang dengan selamat. Sampaikan salam dan terimakasihku juga kepada laki-laki yang tadi menyelamatkanku. Apakah kau ingin berkujung kerumahku?" ucap Jingga diluar ekspetasi Veno, ya nama lelaki tampan tersebut adalah Veno.


"Tidak, terimakasih. Aku harus segera kembali untuk melihat kondisi tuan mudaku. Kau segeralah masuk, jika terjadi apa-apa kau bisa menghubungiku dengan nomor ini." Ucap Veno sambil menyerahkan kartu namanya.


Jingga hanya menganggukkan kepalanya dan menerima kartu nama milik Veno. Setelah itu, Veno pun menutup kacanya lalu mulai menjalankan mobilnya. Jingga masih menatap mobil mewah tersebut, tatapannya teralih ketika mobil tersebut sudah mulai menjauh dari pandangannya.


Dengan langkah cepat, dia berjalan menuju lobby apartemen. Dia berjalan dengan cepat, ia takut jika ada orang yang masih menguntitnya.


Setelah sampai didalam kamar apartemennya, Jingga pun segera mengunci pintu serta menutup semua jendela kamarnya. Setelah semua selesai, Jingga pun mengambil ponsel yang sedari tadi dia matikan daya nya.


Terdapat puluhan pesan dari orang yang sangat dia sayangi. Dia tersenyum manis lalu menekan tombol ponsel berwarna hijau untuk menghubungi orang tersebut.


Jingga masih menunggu agar panggilannya dijawab oleh lelaki yang sangat dia sayangi.


"Apakah kau merindukanku? Mengapa baru meneleponku sekarang, hah?!" jawab Jingga sadis sambil menahan senyumnya.


"Apakah kau sudah tidak waras? Siapa lagi yang harus ku khawatirkan selain dirimu, hah?!" bentak laki-laki diseberang sana yang langsung disahuti oleh tawa Jingga.


"Aku bercanda. Jangan dimasukkan ke ginjal. Masukkan saja ke perutmu, supaya kau kenyang," canda Jingga yang sama sekali tak digubris oleh lelaki itu.


"Aku akan pulang besok! Tunggu kedatanganku ya? Sampai jumpa besok, sayangkuu." Ucap Jingga mengakhiri panggilannya dan segera menutup panggilannya. Setelah mematikan panggilannya, dia segera mematikan data selulernya. Ia tahu, pasti lelaki tersebut akan meneleponnya lagi.


**********


Sementara Jazira yang baru pulang dari kost an Tasya pun mulai memasuki rumah dengan beberapa makanan yang dia bawa. Jazira tersenyum senang ketika melihat Mbok Sum.


"Baru pulang, Non? Non Maira dari mana? Tadi Johan hanya mengatakan kalau Nona pergi bersama temannya. Saya khawatir, Non," sapa Mbok Sum yang langsung disambut oleh senyum merekah dibibir Jazira.

__ADS_1


"Iya, Mbok. Maafin Zizi nggak pamit ke Simbok. Eh iya Mbok, nih Zizi bawain makanan. Dimakan ya, Mbok?" ujar Jazira sambil menyerahkan beberapa plastik kepada Mbok Sum.


Mbok Sum pun menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum.


"Non Maira mau makan? Biar Simbok panaskan kalau mau makan lagi." Tanya Mbok Sum yang langsung disambut gelengan oleh Jazira.


"Enggak, Mbok. Zizi mau langsung keatas ya? Zizi juga udah mandi dirumah Tasya, mau langsung istirahat aja. Selamat malam Mbok." Ucar Jazira menolak secara halus lalu memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai Ibunya.


Setelah itu, Jazira pun segera melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Baru beberapa langkah menapaki anak tangga, Albirru pun keluar dari kamarnya. Dia terkejut karena sang istri telah sampai dirumah.


Dengan langkah pastinya, Albirru mengekori Jazira dari belakang. Jazira masih belum sadar jika suaminya mengekorinya.


Setalah menutup pintu kamarnya, Jazira pun segera meletakkan tas serta perlengkapan nya. Ia segera berjalan memasuki kamar mandi untuk mencuci tangan serta kakinya. Setelah itu dia kembali kekamarnya.


Dia terkejut menatap sang suami yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Dia menatap sengit laki-laki yang sedang menyenderkan badannya di pintu kamarnya.


Jazira sama sekali tak memiliki niat untuk berbicara kepada suaminya. Dia berjalan menuju ranjang dan mulai merebahkan badannya diatas kasur.


Albirru yang sama sekali tak digubris oleh Jazira pun mulai mendekati ranjang Jazira.


"Apakah kau tak ingin berbicara padaku?" tanya Albirru dengan nada datarnya sambil menatap Jazira yang sudah menarik selimut dan tidur membelakanginya.


"Maira! Aku sedang berbicara padamu!" bentak Albirru yang membuat Jazira terkejut. Suaminya memanggilnya dengan panggilan Maira? Sungguh, kali ini Jazira ingin berteriak.


"Aku tahu, tuan. Apakah kau tak tahu pukul berapa sekarang? kita bisa berbicara besok." jawab Jazira dingin sambil memejamkan matanya.


"Kenapa kau pergi tanpa izin? Kau lupa dengan surat kontraknya?" tanya Albirru lagi yang membuat Jazira menghela nafasnya panjang.


"Kita tak memiliki hubungan tuan! Bukankah tadi kekasihmu yang mengatakan bahwa aku hanya istri bayaranmu. Kau juga mendengarnya bukan? Jadi stop ngurus hidup Zizi! Sekarang kau pergilah, aku ingin istirahat." Ucap Jazira mengakhiri perdebatan anatara dirinya dan sang suami.


Setelahnya dia pun mulai memejamkan matanya. Namun kata-kata Albirru membuat dirinya membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2