
Detik berganti menit, membawa jam yang membuat hari hari mulai berlalu. Kini, perlahan cinta mulai tumbuh di hati Albirru.
Terbukti dari Albirru yang tak akan bisa tertidur tanpa Jazira di sisinya. Terhitung, sejak kejadian gagalnya perceraian mereka hingga sekarang tepat dimana pernikahan mereka telah berjalan selama dua minggu.
Seperti pagi ini, Albirru mencari keberadaan sang istri yang telah pergi keluar kamar.
"Ra?" seru Albirru tanpa membuka matanya sama sekali. Dia hanya meraba tempat tidur milik Jazira yang telah kosong.
Jazira yang baru selesai menata masakannya di atas meja pun segera berjalan ke kamar karena sang suami memanggilnya.
"Kenapa, hmm?" tanya Jazira sembari duduk di sebelah sang suami yang masih tengkurap dengan badan kekarnya yang terekspos dengan jelas. Lengan kekar, perut sixpack, serta tato di badan sang suami membuat Jazira harus terbiasa untuk melihat pemandangan yang aduhai tersebut.
Albirru membuka sedikit metanya dan menghela nafasnya perlahan ketika tahu bahwa sang istri telah kembali ke kamar mereka.
Albirru menjadikan paha mungil milik Jazira sebagai bantalan nya dan memeluk pinggang sang istri dengan erat. Albirru pun menenggelamkan wajah tampannya di perut rata sang istri.
"Bukankah sudah ku katakan? Aku tak akan buka mata buat bangun, kalo kamu udah bangun duluan. Kenapa malah bangun dulu?" ucap Albirru yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.
"Ya kan harus bangun pagi buat siapin sarapan sama bantuin Mbok Sum. Si Jingga juga udah berangkat kerja lagi. Kan ini hari Senin. Yuk kamu juga bangun, berangkat kerja." ucap Jazira sambil menggoyangkan badan kekar sang suami.
Albirru pun menganggukkan kepala nya lalu mulai bangun dari tidurnya. Belum beranjak dari duduk nya, Albirru menatap Jazira dengan tatapan seperti biasanya.
Jazira yang telah hafal dengan permintaan sang suami selama beberapa hari ini pun segera mengecup kedua pipi milik sang suami. Benar saja, tanpa di perintah lagi, Albirru pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
Jazira hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala nya perlahan. Jazira pun segera membuka gorden dan membereskan kamar tidur mereka. Tak lupa dia pun menyiapkan kemeja serta jas yang akan dikenakan oleh Albirru.
Selesai semuanya, Jazira pun segera keluar dari kamar nya dan berjalan mendekati Jingga yang tengah sarapan dengan sedikit terburu buru.
__ADS_1
"Ngapain buru buru, Ngga? Orang masih pagi juga." ujar Jingga sembari berjalan mendekati Jingga dan duduk di sebelah adik ipar nya tersebut.
"Jingga lupa kalo hari ini ada rapat. Tapi pas Jingga kabarin dari pihak kantor belum dapet konfirmasi dari Kak Marcel. Jadi, Jingga kira Jingga bakal ke apartemen Kak Marcel deh." ucap Jingga sembari membawa Sling bag nya lalu meminum susu. Dia mencium tangan kakak nya dan tak lupa meminta kecupan pagi di pipi nya oleh Jazira.
"Jingga pergi dulu, Kak Zi. Hati hati di rumah. Mbok, Ingga berangkat dulu ya?" teriak Jingga yang membuat Jazira menatap kepergian sang adik dengan tatapan yang sedikit kasihan.
"Kasian Jingga ya, Mbok? Pagi pagi gini, dia udah berangkat ke kantor. Bahkan ngelebihin Mas Birru." ucap Jazira lirih yang membuat Mbok Sum mengelus punggung milik Jazira.
Albirru yang baru saja keluar dari kamar nya pun mengernyitkan keningnya menatap sang istri yang sedikit murung.
"Kenapa, Ra? Maira kenapa, Mbok?" tanya Albirru kepada sang istri dan Mbok Sum.
"Nggak apa-apa, cuma kasian aja sama Jingga karena dia harus berangkat pagi-pagi buat kerja. Kenapa nggak kamu aja sih, Mas yang biayain kuliah dia? Uang kamu nggak akan habis kalau buat kuliah si Jingga." jawab Jazira sambil menatap heran kepada suaminya.
"Bukan masalah uang atau apapun itu, Ra. Aku tahu, uang yang aku punya pun bahkan bisa buat diriin kampus baru. Tapi aku nggak mau buat Jingga maja dengan kekayaan. Kita nggak akan ada yang tahu, gimana masa depan kita nanti. Biarin dia terbiasa buat mandiri dan kerja keras. Semuanya masih aku pantau juga, Ra." imbuh Albirru sembari duduk di kursi nya.
Akhirnya mereka bertiga sarapan tanpa suara sama sekali.
Setibanya dia di depan pintu unit apartemen milik Marcel, Jingga pun segera menekan password rumah milik Marcel dan segera masuk.
Ya, dia hafal karena beberapa kali dirinya mengantar berkas penting dan mengharuskan dirinya untuk keluar masuk rumah milik atasannya tersebut.
Baru selangkah dia masuk ke apartemen milik Marcel, indera penciuman nya langsung menangkap bau alkohol yang menyengat. Jingga juga membelalakkan matanya melihat apartemen milik Marcel yang seperti kapal pecah.
"Astaga, pasti semalam dia minum. Tapi kenapa berantakan sekali?" ujar Jingga sembari meletakkan tas Selempangnya lalu melepas outer kerja nya.
Entahlah, darimana niatan dirinya untuk membersihkan unit milik Marcel. Dia mengikat rambutnya dengan ikat rambut yang ada di tas nya lalu menggulung kemeja putihnya yang sedikit longgar hingga ke siku.
__ADS_1
Dia mulai membersihkan ruang tamu dan juga dapur yang sangat berantakan. Hampir 30 menit Jingga membersihkan semuanya. Keringat membanjiri seluruh badannya dan juga pelipisnya.
Karena dia tak menemukan masakan sama sekali di meja makan, Jingga pun membuka kulkas dan menemukan bubur ayam instan. Sontak Jingga pun mengeluarkan bubur tersebut dan segera membuatkannya untuk Marcel.
Dengan penampilan yang lebih mirip dengan seorang maid, membuat Marcel yang baru keluar kamar sedikit terkejut. Namun ketika tahu bahwa hanya dirinya dan Jingga lah uang mengetahui password rumahnya membuat Marcel sedikit tenang.
Marcel berdehem sebentar untuk mengalihkan perhatian Jingga. Gadis cantik yang rambutnya sedikit tertutup oleh rambut basahnya itu pun menolehkan kepalanya.
Jingga sempat terkejut, namun tak lama setelah itu senyum manis terbit di bibir mungilnya. Jingga pun berjalan mendekati Marcel serta membawa mangkuk berisi bubur di tangannya.
Setelah meletakkan bubur buatannya, Jingga berjalan mendekati Marcel dan berdiri di depan lelaki tersebut. Tangan mungilnya terangkat untuk mengecek suhu tubuh milik Marcel yang tengah bertelanjang dada.
Jingga tak lagi kaget dengan pemandangan seperti ini. Pemandangan yang pertama kali dia lihat ketika memasuki ruang rawat milik Marcel tanpa mengetuk pintu.
"Nggak panas." ucap Jingga setelah menarik tangannya kembali dari kening milik Marcel. Marcel hanya menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan apa yang dilakukan oleh Jingga.
"Ngapain liat-liat? Sana mandi, keburu siang." ucap Jingga sembari duduk di meja makan. Marcel tak menjawab, dia berjalan menuju sofa depan tv yang telah bersih. Dan hal tersebut membuat Marcel sedikit terkejut.
"Gue lagi nggak enak badan. Jadi libur aja dulu." ucap Marcel sambil menidurkan dirinya diatas sofa lalu memejamkan matanya. Jingga pun membawa bubur buatannya menuju Marcel dan segera duduk dihadapan lelaki tersebut.
"Lagian kalaupun Lo minta buat berangkat, gue bakal ambil ijin. Yakali baju gue dah kek gini tapi tetep ke kantor. Bau semua seisi kantor." ucap Jingga sambil menurunkan lengan kekar bertato milik Marcel.
Marcel pun membuka matanya karena perbuatan Jingga. Jingga pun meletakkan bantal besar dibalik tubuh kekar milik Marcel. Setelah itu dia kembali duduk dan mulai menyuapi Marcel.
Marcel hanya menuruti apa yang Jingga lakukan padanya. Dia sama sekali tak protes atau melakukan penolakan terhadap perlakuan Jingga. Toh dia juga sedang butuh perawatan kali ini.
Lama Jingga menyuapi Marcel yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Jingga. Sampai di suapan terakhir, Marcel pun berucap,
__ADS_1
"Ngga, gue suka sama Jazira." ungkap Marcel yang membuat Jingga menghentikan suapannya di depan mulut Marcel. Tatapan Jingga pun beralih pada sendok yang berisi bubur terakhir yang perlu ditelan oleh Marcel.
Seketika diam menyapa keduanya. Tak ada lagi pergerakan entah dari Marcel atau Jingga. Hanya terdengar deru nafas tak beraturan yang keluar dari hidung Jingga.