
Albirru yang baru saja menerima telepon dari salah satu rekan kerjanya pun bingung karena pihak penjaga di perusahaannya meneleponnya.
"Ya, ada apa?" tanya Albirru santai sembari keluar dari ruangan rapatnya dan hendak berjalan menuju lift.
"Nyonya Jazira berada di atas roof top bersama Nona Larina, Tuan! Sepertinya Nona Larina hendak menjatuhkan Nyonya Jazira!" seru sang penjaga cctv yang masih memantau pergerakan Larina yang semakin menyudutkan Jazira ke pinggir pembatas rooftop.
Albirru yang mendengar hal itu pun segera mematikan teleponnya dan bergegas menuju lift. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat ketika dirinya mendengar kabar bahwa sang istri tengah berada di rooftop dalam keadaan hamil besar.
Dengan segera, Albirru pun langsung menekan tombol paling tinggi yang ada di gedungnya sembari mengepalkan tangannya erat. Dirinya berjanji pada dirinya sendiri, jika terjadi sesuatu hal kepada sang istri maupun bayi yang yengah dikandung oleh istrinya, dia tidak akan pernah memaafkan Larina.
"Gue bersumpah nggak akan ada maaf buat jal*ng seperti lo, Larina!" seru Albirru dengan nada marahnya sembari memukul dinding lift dengan perasaan campur aduk. Dirinya tak ingin kehilangan perempuan yang sangat dia cintai beserta anak yang Jazira kandung.
Entahlah ketika Albirru mengingat bayi yang tengah Jazira kandung, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang bergetar hebat di dadanya. Ada perasaan tak ingin kehilangan mereka berdua.
Jantung Albirru kembali berdegup dengan kencang ketika lift tersebut terbuka. Laki-laki dengan pakaian formal itu segera keluar dari lift dan berjalan menuju sebuah pintu besi yang besar dan berharap Jazira masih baik-baik saja di luaran sana.
Betapa terkejutnya Albirru setelah dirinya berdiri di depan pintu tersebut dan melihat Larina yang hendak mendorong Jazira keluar pembatas rooftop. Dengan cepat dirinya pun berlari secepat mungkin seraya meneriakkan nama Jazira.
"Maira!" teriak Albirru terkejut karena melihat banyak darah yang keluar dari tubuh bagian bawah milik sang istri. Teriakan dari Albirru tersebut membuat Larina menolehkan kepalanya dan terkejut bukan main karena melihat Albirru yang memergoki dirinya.
__ADS_1
Dengan cepat Larina pun mendorong tubuh ke belakang dengan keras yang membuat Jazira terjatuh keluar dari pembatas rooftop.
"Aakh!"pekik Jazira dengan teriakan paniknya lalu mencekal erat pagar pembatas. Albirru yang melihat hal tersebut pun segera mendorong keras tubuh Larina ke samping yang membuat Larina jatuh terlentang
"Berikan tanganmu, Ra!" pinta Albirru dengan teriakannya lalu segera menarik tangan Jazira yang masih memegang erat pagar pembatas rooftop.
"Tolong anakku!" pinta Jazira dengan air matanya sembari mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami. Entah sadar atau tidak, setetes air mata turun dari mata indah milik Albirru.
Albirru pun segera mengangkat tubuh milik Jazira, meskipun kulit sikunya terkelupas lebar dan perut Jazira yang sempat tertekan karena berbenturan dengan pagar pembatas, tapi akhirnya Jazira berhasil ada di depannya. Jazira menangis histeris karena dirinya masih bisa selamat serta dirinya yang merasa sakit di bagian perutnya.
Albirru yang melihat hal tersebut akan segera mengangkat tubuh Jazira dan hendak membawanya kembali ke turun ke bawah. Dia berniat untuk membawa Jazira ke rumah sakit. Meninggalkan Larina yang telah mengeluarkan banyak darah dari bagian intinya dengan air mata yang terus mengucur.
Namun belum mereka berdua sampai di pintu besi tadi, tiba-tiba beberapa orang muncul dari pintu tersebut. Termasuk Veno yang kaget karena baru tiba dan digemparkan oleh penuturan karyawan di bawah yang menatap kelakuan brutal dari Larina melalui cctv.
Jazira yang melihat Veno datang pun segera mengulurkan tangannya kepada Veno, yang langsung ditanggapi Veno. Sahabat Jazira tersebut segera mengambil paksa Jazira dari gendongan Albirru, yang membuat Albirru terdiam mematung.
Jazira yang masih menangis disertai banyak darah yang keluar pun beralih ke dalam rengkuhan Veno dan segera masuk ke dalam gedung. Albirru merasakan banyak belati tajam yang menusuk perasaannya kali ini. Ketika sang istri lebih memilih orang lain untuk membantunya.
"Angkat wanita itu! Polisi akan segera datang kemari!" seru salah satu petugas sembari berjalan cepat mendekati Larina dan segera menangkap Larina yang telah ketakutan setengah mati.
__ADS_1
Salah seorang petugas berjalan mendekati Albirru yang masih berdiri mematung akan apa yang baru saja terjadi. Petugas tersebut bertanya pada Albirru, apakah ada yang terluka atau semacamnya. Namun Albirru sama sekali tak memperhatikannya, dirinya menghirup nafasnya panjang sembari menikmati terpaan angin yang membuat rambut indahnya bergerak.
Albirru berjalan meninggalkan Larina yang menatapnya dengan tatapan tajamnya kepada laki-laki yang tengah berjalan meninggalkan dirinya. Dirinya bersumpah untuk tak akan membiarkan hidup Jazira dan Albirru tenang setelah ini.
Albirru berjalan dengan tatapan kosongnya. Seketika darah segar merembes ke kemeja serta jas miliknya. Gesekan yang terjadi pada sikunya ke bagian pagar pembatas roof top itu sama sekali tak membuat Albirru merasa kesakitan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya polisi yang dihubungi oleh petugas tadi telah datang. Para petugas itu pun menarik paksa tangan milik Larina yang membuat Larina berteriak kesakitan.
Dia memohon kepada para petugas serta polisi yang ada untuk membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu. Pada awalnya mereka semua tak percaya dengan tipu muslihat dari Larina. Tetapi karena banyaknya darah yang keluar membuat mereka semua membawa Larina ke rumah sakit dengan borgol yang menjadi gelang untuk Larina kali ini.
Mereka semua pergi ke rumah sakit untuk memberikan pertolongan kepada ibu hamil itu. Sedangkan beberapa polisi yang lain berjalan menuju ruangan milik Albirru untuk memintai keterangan akan peristiwa percobaan pembunuhan yang Larina lakukan kepada Jazira.
...*****...
Setelah tiba di rumah sakit, salah seorang polisi wanita menemani Larina masuk ke ruangan poli kandungan. Sementara para petugas dan polisi yang lain berjaga-jaga di luar ruangan.
Sang dokter yang melihat seorang polisi datang ke ruangannya dengan salah satu wanita kontroversial terkenal yang membuat sang dokter sedikit ketakutan.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya dokter itu yang tak lain adalah dokter yang kemarin menangani Jazira. Polisi wanita itu menggelengkan kepalanya sembari menempatkan Larina ke brangkar pasien yang tengah berteriak histeris dengan air mata yang tak kunjung reda.
__ADS_1
Dokter tersebut berjalan mendekati polisi wanita itu dan bertanya mengenai apa yang terjadi pada Larina. Akhirnya polisi tersebut pun mengatakan hal keji apa yang telah Larina lakukan dan ingin memeriksakan bagaimana kondisi kandungan dari Larina.
"Benarkah apa yang Anda katakan, Bu? Mungkin saja itu merupakan efek gangguan mentalnya, karena beberapa hari yang lalu saya memvonis bahwa anak yang tengah Nona Larina kandung itu telah meninggal dalam kandungan," ujar sang dokter yang membuat polisi tersebut terkejut.