
Dorr!
Satu tembakan peluru melesat tepat mengenai punggung dari Jessica yang membuat wanita tersebut memekik kesakitan.
"Oh God!" teriak Jessica dengan badan yang tersungkur ke lantai. Wajah Jessica seketika memerah karena dirinya merasakan sakit yang begitu mendera di bagian punggungnya. Dapat Jessica lihat dengan jelas bagaimana Jazira yang telah menutup mata dengan keadaan tragis karena ulahnya.
'Aku berharap, semoga kalian berdua mati!' batin Jessica dalam hatinya dengan perasaan amarahnya karena ada orang yang memergoki aksinya. Namun meski begitu, dirinya sangat puas karena sebelum dirinya tertembak, dirinya telah lebih dulu meminjamkan racun kepada Jazira.
"Jangan bergerak!" perintah salah seorang polisi seraya menodongkan pistolnya kepada Jessica yang yang masih tengkurap di lantai kotor gedung itu.
"Jingga!"
"Maira!"
Pekik Marcel dan Albirru bersamaan setelah Jessica dilumpuhkan oleh polisi yang mereka berdua panggil. Dengan cepat, Albirru pun segera bergegas mendekati Jazira yang telah tak sadarkan diri dengan tubuh yang telah terjengkang di atas kursi tadi.
"Maira! Bangun, Ra!" seru Albirru sembari melepaskan tali yang mengikat tubuh Jazira. Jantung Albirru berdegub sangat kencang melihat kondisi sang istri sekarang ini. Tangannya yang mulai dingin karena mengeluarkan keringat gugup pun berhasil melepas tali itu.
"Bertahan, Ra. Kita akan pergi dari sini," ujar Albirru sembari mengusap busa yang keluar dari mulut sang istri dengan tangan bergetar. Albirru segera mengangkat tubuh Jazira yang sedikit lebih berat dari sebelumnya lalu segera keluar dari gedung, meninggalkan para polisi yang tengah mengurus Jessica dan barang bukti yang lain.
Jessica yang mendengar penuturan Albirru pada Jazira yang tergeletak diatas kursi. Ada dendam yang kembali menyala dalam dirinya mengingat bagaimana dulu masalahnya bersama Albirru. Seketika perasaan cemburu menguasai hati Jessica tatkala melihat dua laki-laki yang dahulu pernah menjalin kasih dengannya telah berbahagia dengan wanita lain.
Sementara Marcel, dia segera menggendong tubuh Jingga dan mengikuti langkah Albirru untuk keluar dari gedung tua itu. Ya, setelah beberapa menit mencari jejak Jingga dan Jazira, akhirnya mereka pun terkejut karena mengetahui bahwa orang yang menculik Jazira serta Jingga membawa kedua wanita itu ke sebuah desa terpencil yang ada di pinggir kota.
Belum sempat Albirru berhasil keluar dari gedung itu, sebuah suara yang berasal dari seorang wanita menghentikan jalannya.
__ADS_1
"Gue nggak akan pernah biarin hidup lo dan isrri tenang! Tunggu pembalasan gue!" bentak Jessica yang membuat kedua laki-laki itu menolehkan kepalanya ke belakang. Betapa terkejutnya kedua laki-laki itu saat tahu bahwa wanita yang telah mengepalai Jazira dan Jingga dalah Jessica, mantan sahabat mereka.
"****! Ternyata lo dalang dari semua ini?!" seru Marcel dengan nada berapi yang hendak mengembalikan langkah kakinya untuk menghampiri Jessica pun dihalangi oleh Albirru yang juga tengah terkejut.
"Jingga lebih butuh lo, Cel! Biar wanita itu Polisi yang urus!" ujar Albirru segera keluar dari gedung itu dan mendekati mobilnya yang masih ada Johan di samping mobilnya.
Johan yang melihat Albirru berjalan mendekati dirinya dengan Jazira di gendongannya pun segera membukakan pintu mobil bagian belakangnya agar Albirru dapat segera masuk ke dalam mobil.
"Paman Jo, cari rumah sakit terdekat. Aku tak ingin Maira dan anakku kenapa-napa!" ujar Albirru sebelum dirinya masuk ke dalam mobil. han pun hanya menganggukan kepalanya dan gerak berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil.
Johan yang telah masuk ke dalam mobil pun segera membawa mobil milik Albirru menuju rumah sakit terdekat yang tadi tempat mereka lewati. Johan berharap besar supaya majikan perempuannya tersebut bisa baik-baik saja beserta anak dari tuan mudanya.
"Mas yakin kamu kuat, Ra. Bertahan dulu," ucap Albirru dengan nada takutnya dan tak terasa air matanya mulai menetes. Laki-laki tersebut benar-benar merasa menyesal dengan apa yang terjadi pada istri serta anaknya.
Sementara Marcel dan Jingga yang berada di mobilnya pun juga ikut panik, takut jika terjadi apa-apa pada gadisnya.
"Kita sampai sebentar lagi, Ngga. Jangan tutup mata kamu dulu," ujar Marcel sembari memeluk erat Jingga Jingga yang masih memiliki sedikit kesadaran pun hanya menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Marcel. Air matanya kembali menetes saat merasakan perih yang menyerang kepala serta hidungnya.
"Sakit," lirih Jingga yang langsung diangguki oleh Marcel. Laki-laki itu mengelus kepala milik Jingga sembari mengeratkan pelukannya pada sang kekasih hati.
"Sebentar lagi kita sampai, Ngga." Marcel menghujani puncak kepala milik Jingga dengan perasaan bersalahnya. Dirinya benar-benar merasa lalai karena telah menyerahkan Jazira serta Jingga ke sopirnya begitu saja.
Jingga yang terpikirkan bagaimana keadaan sang kakak yang tengah mengandung. Jingga pun mendongakkan kepalanya dengan menahan sakit yang menghampiri kepalanya untuk bertanya kepada Marcel.
"Kak Zizi?" tanya Jingga sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Marcel. Marcel tersenyum tipis lalu mengusap darah yang masih keluar dari hidung Jingga dengan jarak besarnya.
__ADS_1
Meski dalam keadaan seperti ini pun Jingga masih memikirkan bagaimana keadaan sang kakak.
"She's will be okay," jawab Marcel sembari menutupi keadaan Jazira yang sesungguhnya. Marcel pun kembali memeluk Jingga dengan erat hingga mereka semua tiba di rumah sakit besar setelah beberapa saat melewati jalanan sepi khas pedesaan.
Albirru yang mengetahui bahwa mereka semua telah tiba di rumah sakit pun segera keluar dari mobil dan langsung membawa sang istri masuk ke dalam rumah sakit. Meninggalkan Marcel dan Jingga yang tengah keluar dari mobil mereka.
"Siapapun tolong istri saya!" seru Albirru yang membuat beberapa orang yang ada di lobi rumah Slsakit tersebut menolehkan kepalanya. Sang suster yang melihat bahwa ada pasien gawat darurat pun segera membawa brankar besar mendekati Albirru. Albirru yang melihat pelayanan tersebut pun segera meletakkan sang istri dengan cepat dan meminta agar para perawat tersebut segera menindak lanjuti keadaan sang istri.
Begitu pula dengan Marcel. Marcel pun segera menidurkan Jingga di atas brangkar dan mengikuti para perawat yang akan membawa Jingga ke unit gawat darurat.
Setelah Jazira dan Jingga masuk ke dalam ruang UGD itu, Albirru dan Marcel pun duduk di bangku tunggu yang ada di ruang UGD tersebut. Menunggu hasil pemeriksaan wanita mereka sembari berdoa agar tak terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka berdua.
Hingga beberapa waktu berlalu, namun sama sekali tak ada info lebih lanjut mengenai Jazira dan Jingga yang membuat Marcel serta Albirru sedikit ketakutan. Laki-laki tersebut mengeratkan tangannya masing-masing sembari menunggu dengan harap-harap cemas.
Hingga suara pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan seorang suster dengan wajah sedikit panik nya.
"Bisa saya bicara dengan suami dari Nyonya Jazira?" tanya perawat tersebut yang membuat Albirru langsung berdiri dan mendekati suster tersebut.
"Saya suaminya, apakah ada info mengenai istri saya?" ujar Albirru dengan jantung yang berdegub tak kalah kencangnya daripada yang tadi.
"Mohon maaf, kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari keduanya. Bisakah anda menandatangani form ini dan memilih siapa yang bisa kami selamatkan?"
Bagai tersambar petir di siang bolong, seketika Albirru merasakan getaran hebat di seluruh tubuhnya dan merasakan bahwa lututnya mulai melemas.
Terimakasih Kayenna ucapkan untuk Mam yang selalu support cerita ini. Terimakasih untuk Mam yang telah memberi Kayenna like, komen, poin, dan vote. Kayenna akan selalu ingat nama Mam semua...
__ADS_1