
Sore harinya setelah pemakaman ayah dari Marcel, mereka berempat pun sedang berada dalam perjalanan untuk kembali ke rumah milik Marcel. Meskipun pada awalnya Jazira meminta kepada Marcel agar dibolehkan tinggal di apartemen milik orang tuanya, tetapi laki-laki keras kepala itu itu membuat Jazira tak dapat berkutik akan perintahnya.
Jazira yang merasa sedikit kesal dengan larangan Marcel pun membuang pandangannya ke arah luar sembari mengelus perutnya yang sudah sangat besar. Jingga yang melihat hal tersebut pun mendekatkan tubuhnya kepada Jazira lalu ikut mengelus perut besar milik Jazira.
"Gimana kata dokternya, Kak?" tanya Jingga mencoba mengalihkan pembicaraan agar Jazira tak bersedih. Jazira yang mendnegar pertanyaan dari sang adik pun menolehkan kepalanya kepada sang adik. Lantas setelah itu Jazira pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak terjadi apa-apa pada si kecil. Mungkin Kak Zizi hanya perlu rutin minum obat dan tidak terlambat makan lagi," ujar Jazira yang membuat sang adik menghembuskan nafasnya perlahan sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan diulangi lagi, Kak. Jangan terlalu fokus sama pekerjaan. Sampai sampai Kak Zizi lupa sama si kecil. Ingat bahwa yang paling terpenting saat ini adalah si kecil. Jika sampai Kak Marcel tahu masalah ini pasti dia akan menyuruh Kak Zizi untuk berhenti dari pekerjaannya, sekarang," ujar Jingga dengan nada tak sukanya yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak bisa gitu, Ngga. Kak Zizi harus tetap kerja sekaligus sama jaga si kecil. Kak Zizi cuman mau buktiin sama kakakmu kalau Kak Zizi bisa sukses. Kak Zizi bukan wanita murahan dan wanita sampah yang pernah dia pungut," ujar Jazira kembali mengingat hari itu yang membuat Jingga menganggukan kepalanya. Jingga tahu bagaimana marahnya sang kakak ipar kepada kakaknya.
Akhirnya mereka berempat pun terus melakukan perjalanan kembali ke rumah milik Marcel sembari berbicara santai. Namun tidak dengan Marcel yang masih memejamkan matanya sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya.
Entah dorongan dari mana, Jingga pun menempelkan punggung tangannya ke kening milik Marcel. Dan seketika ia terkejut karena ternyata Marcel demam.
"Astaga, ternyata Kak Marcel demam?!" tanya Jingga dengan nada terkejutnya yang membuat Jazirra serta Veno menatap ke Marcel.
Jingga meminta kepada Veno untuk membawa Marcel kembali ke rumah sakit. Namun gelengan kepala dari Marcel membuat ketiganya tak dapat memaksa laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Kak Marcel cuman butuh istirahat, jadi nggak perlu ke dokter," tolak Marcel singkat lalu kembali memejamkan matanya, yang membuat ketiganya laki-laki tak dapat berkutik.
Jingga tahu bagaimana syok nya Marcel ketika ditinggal oleh ayahnya secara dadakan. Terlebih lagi kali ini Marcel bener-bener sebatang kara tanpa kedua orang tua dan adik yang telah pergi meninggalkan dirinya.
Setelah beberapa saat melakukan perjalanan akhirnya mereka berempat pun telah tiba di rumah milik Marcel. Tanpa mengucapkan sepatag kata apa pun, Marcel segera turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata apapun yang membuat ketiganya bingung.
Jingga pun menganggukkan kepalanya menghadap Jazira serta Veno yang menatap kepergian Marcel.
"Kak Marcel pasti sedikit terkejut karena kepergian ayahnya tiba-tiba. Terlebih lagi badanya yang sedikit demam membuat emosinya jadi naik," ujar Jingga sambil keluar dari mobil setelah di angguki oleh Jazira. Gadis itu berjalan cepat menyusul laki-laki bertubuh atletis yang mulai menghilang di balik pintu rumahnya itu.
"Bantu Jazira keluar dong Kak Pen. Susah ini," ujar Jazira yang membuat Veno melirikkan matanya kepada sahabat kecilnya itu. Veno pun segera turun dari mobilnya dan segera menggandeng tangan Jazira untuk masuk ke dalam rumah milik Marcel.
Jingga segera berjalan mendekati kamar yang ditunjukan oleh pelayan tadi. Setelah tiba di depan kamar milik Marcel, perlahan-lahan Jingga mulai membuka pintu kamar tersebut. Marcel yang mendengar suara pintu terbuka pun sedikit membuka matanya dan menatap Jingga yang tengah berjalan mendekati ranjangnya setelah menutup pintu kamarnya.
"Mau dikompres aja atau mau minum obat?" Tanya Jingga sembari duduk disebelah Marcel. Marcel pun menggelengkan kepalanya lalu menatap wajah cantik milik Jingga yang terlihat khawatir.
"Mau tidur aja tapi, badannya nggak enak," jawab Marcel dengan ada lirihnya yang membuat Jingga semakin hawatir. Tangan gadis itu terangkat untuk menyentuh kepala milik Marcel dan mulai memijatnya secara perlahan. Terbukti Marcel mulai menikmati pijatan dari Jingga dan memiringkan badannya untuk memeluk perut Jingga.
Jingga sedikit senang karena akhirnya Marcel dapat merasa nyaman. Jingga terus memijit kepala milik Marcel sampai laki-laki tersebut benar-benar tertidur.
__ADS_1
*****
Malam harinya setelah semua berkumpul di meja makan, ucapan dari Jingga membuat Jazira sedikit terkejut.
"Maaf Kak Zi, ini barusan dapat info dari bagian sekertaris. Dia bilang kalau besok ada rapat dadakan di salah satu perusahaan yang akan tanam saham di perusahaan kita. Awalnya Jingga pikir kalau Jingga aja yang wakilin Kak Zizi. Tapi karena Kak Marcel lagi sakit, jadinya Jingga nggak bisa ikut. Tapi coba besok kalau Kak Marcel udah baikan," ucap Jingga kepada Jazira yang baru saja duduk di meja makan. Jazira yang mengerti bagaimana kondisi Marcell pun hanya menganggukan kepalanya.
"Kalau kamu emang lagi jaga Kak Marcel, nggak papa santai aja. Besok mungkin Kak Zizi akan berangkat sendiri aja. Perusahaan Indonesia kan? Bisa Ngga, kamu jaga Kak Marcel aja." Jazira menjawab dengan santai sembari mengelus perlahan punggungnya yang sedikit pegal.
"Tapi Jingga takut kalau Kak Zizi," Ucapan Jingga terpotong karena pertanyaan dari Jazira.
"Takut kenapa sih, Ngga? Kak Zizi bisa kalau cuman presentasi. Buat gimana caranya supaya nanti penanam saham itu tertarik tanam saham ke perusahaan kita kan? Kak Zizi pernah ngelakuin itu berkali-kali cantikku, santai aja." Jazira mencoba meyakinkan sang adik agar tak khawatir.
"Masalahnya, perusahaan itu adalah perusahaan milik Kak Albi," ucap Jingga yang membuat Jazira sedikit mematung.
"Maka dari itu biar Jingga kirimin perwakilan kita aja ya. Jingga takut Kak Zizi diapa apain sama Kak Albi atau mungkin malah Kak Zizi yang belum siap buat bertemu," ujar Jingga khawatir yang langsung disambut oleh gelengan kepala dari Jazira.
"Enggak apa-apa. Kak Zizi pasti bisa ngelakuin semua ini. Ini semua juga buat perusahaan kita. Mungkin Kak Zizi akan mencoba untuk menguatkan hati ini supaya kuat menghadapi hari esok. Mungkin juga Kak Zizi bakalan ajak Kak Veno, takut jika terjadi apa-apa mau kan Kak Veno?" tanya Jazira kepada Veno yang langsung angguki oleh Veno.
"Baiklah nanti Jingga akan siapkan semuanya dan Kak Zizi tinggal berangkat. Atau kalau perlu, nanti Kak Marcel udah baikan Jingga akan langsung nyusul ke sana," ucap Jingga yang diangguki oleh Jazira.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi, Mas."