ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 45


__ADS_3

"Bagus, Tuan Muda Albirru Geano Alexander! Apa ini?! Kau melakukan hal menjijikan ini di rumah peninggalan kedua orang tua kita?! Sungguh baru kali ini aku melihat lelaki tak tahu malu seperti dirimu!" seru Jingga dengan nada tinggi sambil bertepuk tangan.


Jazira masih menatap kepada sang adik yang tengah berjalan mendekati Albirru dan Larina yang nampak terkejut. Jingga tersenyum miring lalu menoleh sejenak kepada sang kakak ipar.


"Aku ingin tahu, apa keunggulan wanita murahan ini daripada kakak iparku? Apakah karena fisik? Tentu saja tidak, karena dilihat dari bentuknya saja lebih menarik Kak Zizi. Bahkan jika orang rabun yang diminta untuk menilainya pun, aku yakin mereka akan memilih Jazira daripada wanita menjijikan itu!" cecar Jingga sambil menatap Larina dan Albirru yang mulai duduk.


"Baiklah, mungkin kemarin-kemarin aku masih belum percaya dengan apa yang menimpa pada kedua kakakku tapi tidak kali ini. Aku melihat pengkhianatan itu dengan mata kepalaku sendiri. Ck, aku yakin kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan kakak iparku ini." Jingga mengatakan hal demikian sembari berjalan mendekati Jazira.


"Cepat kemasi semua baranf-barang Kak Zizi sekarang. Kita akan pergi dari sini," ujar Jingga yang langsung diangguki oleh Jazira. Air mata yang masih berada di pipi milik Jazira pun terhapus karena usapan lembut dari Jingga.


"I'am with you. Always and forever," ungkap Jingga yang kembali membuat Jazira menangis. Jazira memeluk erat sang adik ipar dan kembali menangis dipelukan sang adik ipar yang telah dia anggap sebagai adik kandungnya.


"Stop crying, let's parepare now." Jingga melepas pelukan keduanya yang langsung diangguki oleh Jazira. Jazira sedikit menatap sang suami serta Larina yang tengah menatap dirinya dengan tatapan tajam mereka.


Jazira pun segera keluar dari kamar yang telah ternoda oleh perbuatan hina Albirru. Meskipun hanya sebatas kissing, tetapi untuk Jazira hal itu telah melewati batas. Karena pengakuan Albirru yang tak akan mendekati Larina sebelum terbukti bahwa anak yang tengah dikandung oleh Larina bukanlah anaknya.


"Jika kau pergi selangkah saja dari rumah ini, jangan harap kau bisa memasuki rumah ini lagi!" seru Albirru dengan nada tingginya, berharap agar sang adik menciut dan membatalkan niatnya untuk pergi.


Namun apa yang dia lakukan tersebut sama sekali tak membuahkan hasil, terlihat dari Jingga yang meninggalkan ruangan milik Albirru tanpa pamit atau mengatakan sesuatu.


Jingga segera melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Dirinya segera menyiapkan semua perlengkapannya yang akan dia bawa. Kali ini Jingga benar-benar marah dengan apa yang dilakukan oleh sang kakak.


Sementara itu, Jazira yang sudah meyelesaikan semua persiapannya pun menghapus air mata yang sedari tadi masih keluar. Dirinya menatap sebuah bingkai kecil berwarna putih yang berada di atas malas kamar tidurnya.


Jazira mengelus potret dua orang yang tengah tersenyum walaupun dengan paksaan itu. Tak terasa air matanya kembali menetes. Jazira menggelengkan kepalanya sambil mencengkeram erat pinggiran bingkai berwarna putih yang berisi foto ketika hari pernikahan dirinya dan Albirru.

__ADS_1


Seketika bayangan ketika Albirru mencium Larina membuat wanita cantik itu membanting bingkai kaca itu ke lantai yang menimbulkan suara pecahan kaca yang sangat nyaring.


Jingga yang mendengar hal tersebut pun segera menyeret kopernya keluar kamar dan bergegas menuju kamar kakak iparnya. Jingga sedikit terkejut melihat kekacauan yang terjadi di kamar sang kakak.


"Ada apa, Kak? Kau baik-baik saja bukan?" tanya Jingga dengan nada paniknya yang membuat Jazira mendongakkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya dengan tatapan tajam. Dia tersenyum miring lalu kembali menatap potret dirinya dan juga Albirru.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya mencoba menghilangkan kenangan bajuku bersama lelaki tak tahu malu itu! Bahkan jika aku bisa memutar waktu, lebih baik aku mati karena tewas terbunuh daripada harus mati secara perlahan seperti ini," jawab Jazira sambil menundukkan kepalanya.


"Lupakan pria bod*h itu, biarkan dia menyesal dengan apa yang dia pilih! Kita harus pergi sekarang!" ujar Jingga sambil menginjak foto pernikahan milik kedua kakaknya. Jazira sempat terkejut dengan apa yang Jingga lakukan.


"Anggap saja beberapa minggu yang telah berlalu sebagai mimpi buruk Kak Zizi. Kita berangkat sekarang?" ucap Jingga yang membuat Jazira menganggukkan kepalanya dan menghapus air matanya.


"Let's go," jawab Jazira sambil menyambut uluran tangan milik sang adik. Jingga pun tersenyum sembari menatap sang kakak lalu mulai berjalan dengan tangan kiri yang menggandeng tangan Jazira serta taman kanan yang menarik kopernya.


Mereka berdua tiba di lantai bawah dan disambut dengan tatapan tajam dari Albirru serta Larina. Jingga dan Jazira sama sekali tak menghiraukan Albirru dan Larina yang hendak menegurnya. Jingga berjalan menuju dapur dan mencari Mbok Sum.


Mereka berdua pun berpamitan dengan Mbok Sum, meski sempat diwarnai dengan tangisan tetapi akhirnya mereka keluar dari dapur. Jingga yang hendak menarik Jazira untuk segera keluar dari rumah pun terhenti karena seruan dari Albirru.


"Berhenti atau kalian akan menyesal!" bentak Albirru dengan nada marahnya yang membuat kedua gadis beserta dua kopernya itu berhenti dari jalannya. Jingga merotasikan matanya karena teguran dari sang kakak. Tanpa rasa takut, Jingga pun membalikkan badannya dan menatap penuh dendam kepada sang kakak.


"Kau tak bisa membawa seorang istri untuk meninggalkan rumah suaminya! Maira istriku! Dan akulah yang berhak untuk mengatur dirinya!" bentak Albirru sambil berjalan cepat mendekati sang istri dan hendak mencekalnya.


Jazira yang hendak menghindar, Albirru lebih dulu menarik lengan milik Jazira dan membawa Jazira menuju pelukannya. Jingga yang melihat hal tersebut pun berusaha untuk merebut Jazira.


"Apakah kau tak tahu malu, hah?! Setelah kau mengkhianatinya di depan matamu secara langsung, kini kau menginginkannya lagi? Dasar laki-laki tak berprinsip!" seru Jingga dengan kemarahannya ketika Albirru berusaha menjauhkan Jazira dari dirinya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tak menginginkan wanita yang tak lagi suci ini! Aku hanya menuntut akan kontrak yang telah dia tandatangani! Aku sama sekali tak mau rugi setelah membayar banyak untuk wanita murahan seperti ini!" tukas Albirru yang kembali membuat Jazira berdiri mematung.


"Wanita murahan kau bilang?! Bahkan dia hanya gadis berusia dua pulih tahun yang rela menyerahkan hidupnya untuk menjadi istri bayaranmu! Kau tahu? Bahkan Kak Zizi bisa mendapatkan laki-laki lain selain dirimu yang akan memperlakukan Kak Zizi bagaikan ratu! Lalu dari segi mana kau bisa mengatakan jika Kak Zizi murahan dan tak suci lagi?!" jawab Jingga dengan nada bentakannya.


Larina benar-benar hanya bisa diam membisu. Baru kali ini dia menyaksikan gadis seperti jingga marah dan berani menentang kakak kandung satu-satunya.


"She's not virgin! Dirinya telah dijamah oleh kakak tirinya!" bentak Albirru menjawab pertanyaan sang adik yang membuat Jingga diam membisu. Jazira menggelengkan kepalanya perlahan dengan air mata yang kembali menetes.


"Bukankah kau sudah tahu bahwa Kak Marcel hampir melecehkanku? Bukan benar-benar melecehkan aku. Tapi apa tanggapanmu sebagai seorang suami? Kau lebih mempercayai perkataan orang lain serta asumsimu sendiri," Jazira mencoba mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami.


Albirru melonggarkan sedikit genggamannya kepada Jazira. Lelaki tampan itu mendundukkan kepalanya dan menatap wajah cantik sang istri yang telah sembab. Tak dapat dia pungkiri, dirinya memang sangat mencintai sang istri dan tak ingin kehilangan istrinya itu. Namun bukan Albirru namanya jika dirinya tak merasa gengsi dan harus menang sendiri, sehingga membuatnya kehilangan apa yang selama ini dia jaga.


"Baiklah, terimakasih atas kebaikanmu padaku selama ini. Dengarkan aku, uang yang kau berikan sama sekali belum ku pakai bahkan sepeser pun. Aku akan mengembalikan semuanya kepadamu, dan kumohon padamu untuk menalakku secepatnya. Aku benar-benar sudah menyerah." Albirru terkejut mendengar perkataan Jazira.


Lelaki yang kini berdiri dihadapan Jazira itu menggelengkan kepalanya dengan mata yang sedikit memanas.


"Nggak, Ra! Kau istriku, dan kau harus mengikuti semua yang aku katakan." Albirru mencoba menahan agar sang istri tak pergi. Namun semua itu tak dihiraukan oleh Jazira.


"Biarkan sampah yang pernah kau pungut ini pergi. Biarkan seonggok sampah ini mundur dengan penuh hormat, daripada harus pergi dengan penuh penghinaan karena usiranmu,"


Mampir ke cerita punya kembaran Kayenna yuk, Mam semua. Dijamin ceritanya bikin betah dan ketagihan buat baca. Buktiin deh kalau nggak percaya. Kayen juga udah baca gimana serunya Mas Duda yang punya dua anak laki-laki, nikah sama gadis yang baru aja diselingkuhin sama tunangannya.


Gimana? Seru kan? Yuk mampir ke cerita 'Dua Jagoan Kecil Mas Duda' punya Karita Ta.


__ADS_1


__ADS_2