ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 55


__ADS_3

Jangan lupa like bab dua dua nya ya. Kasian sama Authornya yang rela lembur sampai malam, dan nggak dihargai😉


"Seseorang siapa, Ngga?" tanya Jazira sembari mengernyitkan dahinya bingung. Namun Jingga tak menjawab pertanyaan dari Jazira. Dia hanya menggelengkan kepalanya sembari mengendikkan bahunya.


"Nggak tahu juga, mendingan Kak Zizi mandi aja. Jingga bersihin tempat tidurnya Kak Zizi dulu," ujar Jingga yang membuat Jazira tersentuh. Dia tersenyum lebar sembari menatap adiknya yang tengah menata bantal serta melipat selimut bekas dia tidur tadi.


"Makasih banyak ya, Ngga. Kamu baik banget sama Kak Zizi," ucap Jazira yang membuat Jingga mengerutkan dahinya bingung dengan perkataan sang kakak. Jingga pun mengangkat kedua tangannya ke pinggang lalu menggelengkan kepalanya.


"Ngapain terima kasih segala? Jingga nih adiknya Kak Zizi loh," tukas Jingga dengan nada tak suka lalu melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan tempat tidur Jazira. Sementara Jazira, dia tersenyum tipis lalu berjalan masuk kamar mandi.


Setelah selesai membereskan tempat tidur milik Jazira, Jingga pun berjalan keluar dari kamar sang kakak. Sembari menunggu sang kakak keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian Jingga pun berjalan menuju dapur di apartemen yang diberikan oleh Marcel dan segera memasak makanan untuk sarapan dirinya, Jazira, serta Kak Marcel.


Ya semalam tadi, Marcel memberikan satu permintaan kepada Jingga untuk mengurus dirinya setiap harinya. Jingga yang mengetahui hal tersebut pun sama sekali tak menolak, dia hanya menganggukan kepalanya dan menyetujui permintaan dari laki-laki yang mungkin telah merebut hatinya itu.


Tak berselang lama setelah itu, Jazira yang baru saja keluar dari kamar untuk menyusul sang adik pun menolehkan kepalanya ke arah pintu Apartement miliknya, lantaran bel di unit apartemennya berbunyi.


Jingga yang juga mendengar bel berbunyi pun mendongakkan kepalanya dan menganggukkan kepalanya ketika melihat Jazira yang memberi isyarat bahwa dirinyalah yang akan membuka pintunya. Jingga pun melanjutkan kembali acara masaknya dan membiarkan Jazira membuka pintu apartemennya.


Jazira yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk yang menempel di kepalanya pun berjalan mendekati pintu dan membukanya dengan perlahan. Jazira yang mengira bahwa itu Marcel pun segera membuka pintunya lebar-lebar, sehingga dirinya dapat melihat siapa orang yang bertamu ke apartemennya sepagi ini.


Jazira sedikit terkejut melihat siapa yang datang, lantaran bukan Marcel yang datang. Namun dirinya menjumpai seorang pria dengan pakaian formal dan juga ponsel mewah di genggamannya. Jazira mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat reaksi orang tersebut, yang menatapnya dengan tatapan terkejut.


Yang lebih membuat Jazira terkejut adalah karena laki-laki tersebut tiba-tiba memeluknya. Jazira pun membelalakkan matanya dan mencoba untuk keluar dari pelukan laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Siapa kau! Dan kenapa kau tiba-tiba memelukku?!" sentak Jazira mencoba untuk berontak, tetapi laki-laki tersebut sama sekali tak menghiraukan ucapan Jazira ingin memberontak pun tenaganya tak sebanding dengan tenaga laki-laki bertubuh kekar tersebut.


Entah mengapa suasana hati lelaki tersebut terasa sangat berbunga-bunga ketika memeluk wanita yang sedang berada di pelukannya itu. Berbeda dengan Jazira yang ketakutan ketika laki-laki tersebut memeluknya erat.


"Tolong lepaskan aku!" bentak Jazira sambil mendorong keras tubuh laki-laki tersebut yang membuat laki-laki tersebut mundur beberapa langkah karena dorongan Jazira. Jazira pun mengatur nafasnya yang tersengal-sengal sembari menatap tajam laki-laki yang berani memeluknya tersebut.


"Kenapa kau mendorongku?" tanya laki-laki tersebut sembari menatap bingung pada Jazira. Jazira membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau memelukku sembarangan?" tanya Jazra dengan tegas yang membuat laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya.


"Apakah kau lupa padaku Ar? Apa kau benar-benar tidak mengingat wajah tampanku ini?!" tanya laki-laki tersebut yang membuat Jazira mengernyitkan dahinya.


"Sebenarnya siapa kau?! Tinggal kau katakan saja tanpa berbelit-belit seperti ini!" ucap Jazira sinis yang membuat laki-laki tersebut menatap gemas pada wanita yang ada di hadapannya.


"Jazirah Arab? Apakah kau Kak Veno?" tanya Jazira ragu-ragu sembari menatap lebih intens wajah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Laki-laki tersebut pun tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari Jazira. Laki-laki tersebut langsung menganggukan kepalanya yang membuat Jazira terkejut.


"Kak Peno?!" pekik Jazira heboh lalu segera memeluk lelaki yang tadi sempat dia dorong. Veno yang di peluk dadakan oleh Jazira sempat terkejut. Namun akhirnya dirinya berhasil menopang tubuhnya agar tak terhuyung ke belakang saat Jazira memeluknya erat.


"Kenapa Kak Veno nggak pernah kabarin Jazira lagi? Kenapa pergi tanpa pamit sama Jazira?!" tanya Jazira dengan nada menggebu-gebunya yang membuat terkekeh geli. Veno pun segera mengangkat tangannya untuk mengelus punggung mungil milik.


"Kak Veno minta maaf karena dulu pergi tanpa pamit sama Jazira. Dan apa yang kau katakan? Aku tak pernah mengabarimu? Bahkan aku tak tahu apakah kau memiliki nomor ponsel atau tidak," ejek Veno yang membuat Jazira membelalakkan matanya.


"Iya, ngejek terus sampai puas!" sinder Jazira sembari memukul dada bidang milik Veno yang membuat lelaki tersebut tertawa geli melihat reaksi dari Jazira. Jazira pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemennya, di ikuti dengan Veno yang masuk apa izin dan Jazira.

__ADS_1


"Heh, ngapain ikut masuk?! Belum di izinin juga!" sindir Jazira ketika melihat Veno yang berjalan mendahului dirinya dan duduk di depan televisi.


"Oh jadi itu kau yang dimaksud sama Marcel?" tanya Veno yang membuat Jazira mengernyitkan dahinya bingung. Apakah Veno mengenal kakak tirinya? Batin Jazira di dalam hatinya sembari duduk di hadapan Veno.


"Kak Marcel? Emang Kak Peno kenal sama Kak Marcel?" tanya Jazira sembari melipat sebelah kakinya dan menopang dagu dengan satu tangannya.


"Lah kan Kak Veno asisten pribadinya Kak Marcel. Kak Veno emang lagi tugas di sini, dan tiba-tiba dapat kabar dari Marcel kalau dia mau pindah ke sini. Sekalian dengan dua gadis yang yang akan tinggal sama dia." Jazira pun menganggukkan kepalanya paham lalu sedikit menolehkan kepalanya karena panggilan dari Jingga.


"Siapa yang datang Kak?" tanya Jingga sembari melepas apronnya lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap Jazia dan Veno yang tengah menatap dirinya.


"Oh, kenalin ini namanya Kak Veno. Dia asisten pribadinya Kak Marcel yang lagi ditugasin di sini juga," ujar Jazira antusias tanpa menatap wajah terkejut dari Jingga yang tengah menatap Veno.


"Kau?!" ucap Veno dan Jingga secara bersamaan sembari menunjuk satu sama lain, yang membuat Jazira kebingungan. Jingga yang terkejut dengan kedatangan Veno pun segera meletakkan apronnya sembarangan lalu berjalan mendekati keduanya.


"Bukankah kau yang menyelamatkanku ketika aku ditembak waktu itu?" tanya Jingga dengan nada terkejutnya yang membuat Veno tak berkedip. Laki-laki tersebut pun baru mengingat bahwa Jingga lah yang pernah dia bawa ke rumah sakit ketika tragedi penembakan kepada Marcel tempo lalu.


"Oh, ternyata kau gadis yang pernah aku bawa ke rumah sakit waktu itu? Apa kabar dirimu?" tanya Veno dengan antusias yang langsung diangguki oleh Jingga dengan cepat.


"Ya, aku baik-baik saja. Aku mengucapkan terima kasih karena kau telah menyelamatkanku waktu itu," ujar Jingga dengan antusias yang membuat Jazira kebingungan. Sedangkan Veno, lelaki menggelengkan kepalanya dan cepat mendengar penuturan Jingga.


"Kau salah sangka, bukan aku yang menolongmu tapi atasanku yang tak lain adalah Pak Marcel," ucap Veno yang membuat Jingga membelalakkan matanya. Dia terkejut bukan main dengan penuturan Veno baru saja.


Gimana? Mulai bosan sama ceritanya ya? Kayenna minta maaf ya semua.

__ADS_1


__ADS_2