ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 11


__ADS_3

Sebelumnya,


Albirru yang sedari tadi asyik mendengarkan perdebatan antara karyawan dan sang tersangka pun seketika teringat dengan Jazira. Dengan segera dia berdiri dari duduknya dan membuat semua orang berhenti berbicara dan menatapnya.


"Aku sudah muak dengan alasan-alasan mu itu! Jo, kau pastikan bahwa mulai besok dia tidak berada di kantor ini. Pertemuan berakhir disini, semua orang bisa kembali ke tempat masing-masing." Ucap Albirru tegas lalu pergi meninggalkan semua orang yang masih terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Albirru.


Dengan cepat Albirru pun berjalan memasuki lift khususnya. Entah mengapa dia memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Jazira. Setelah pintu lift terbuka, Albirru pun berjalan menyusuri lorong sepi yang menghubungkan antara lift dan ruangan pribadinya.


Sampai di depan pintu ruangannya, Albirru menarik nafasnya dalam-dalam dan membuka pintu ruangan nya. Betapa terkejutnya Albirru ketika melihat seorang perempuan berkemeja berwarna biru laut yang sedang membelakanginya.


Albirru pun berjalan mendekati perempuan tersebut dan dia terkejut karena melihat Jazira lah perempuan tersebut. Albirru mengernyit heran melihat Jazira memakai kemeja miliknya. Ya, dapat Albirru pastikan bahwa kemeja tersebut miliknya.


Disaat dia melihat bahwa Jazira hendak membalikkan badannya, Albirru pun berniat untuk bertanya kepada Jazira. Apa yang sedang dia lakukan disini? Bikankah dirinya sedang sakit? Batin Albirru dalam hatinya.


"Apa yang kau lakukan disini?!" Ucap Albirru kepada Jazira yang membuat Jazira terkejut dan menjatuhkankan bingkai yang sedari tadi dia bawa. Jazira yang terkejut pun hanya menuntup mulutnya kaget dan segera berjongkok untuk memungut pecahan kaca yang jatuh karena ulah nya.


Sontak Jazira yang terkejut pun mendongakkan kepalanya saat mengetahui keberadaan Albirru diruangan tersebut. Albirru berjongkok didepan Jazira yang masih terkejut. Seketika Albirru menelan salivanya dengan susah payah karena melihat paha putih milik Jazira yang terpampang jelas.


"Apakah kau sengaja ingin terluka hah?! Bangun segera!" Ucap Albirru sambil memegang bahu milik Jazira erat. Dia melakukan hal tersebut karena takut tak bisa menguasai dirinya sendiri. Sontak Jazira yang merasa kesakitan pun meringis.


"Akh! Tolong lepaskan tanganmu." Ucap Jazira dengan pekikan sambil menurunkan tangan besar milik Albirru dari bahunya. Karena merasakan sakit yang sangat mendera bagian bahunya, Jazira pun mengeluarkan air mata sambil melipat bibirnya kedalam.


Albirru yang melihat darah merembes di kemeja bagian bahu milik Jazira pun mendekatinya. Albirru juga terkejut karena melihat Jazira menangis. Dengan cepat Albirru membopong tubuh mungil Jazira.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Ucap Albirru khawatir sambil berjalan cepat menuju pintu keluar di ruangannya. Jazira pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, Tuan. Mungkin ini darah yang keluar dari bekas jahitannya. Aku bisa mengobatinya sendiri. Bukankah jaraknya sangat jauh jika kita harus ke rumah sakit terlebih dahulu? Kau bawa aku duduk di sofa saja." Ucap Jazira yang membuat Albirru menghentikan langkahnya.


"Tapi ini sangat berbahaya untukmu! Atau perlu ku panggilkan dokter saja?" Ucap Albirru penuh perhatian yang membuat hati Jazira tiba-tiba menghangat. Lagi-lagi Jazira hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini. Kau tenang saja." Ucap Jazira lirih sambil menghapus air matanya. Entah mengapa, Albirru tak dapat menolak permintaan gadis yang berada di gendongannya ini.


Dia berjalan menuju sofa, lalu menudukkan dirinya ke sofa. Albirru sama sekali tak menurunkan Jazira dari gendongannya. Dia mengambil bantal yang berada disebelahnya lalu meletakkan bantal tersebut dipangkuan Jazira.


"Eh, Tuan. Apa yang kau lakukan? Aku bisa duduk sendiri. Yang terluka adalah bahuku, bukan pantatku." Ucap Jazira sambil mencoba untuk turun dari pangkuan Albirru. Namun Albirru selalu mengatakan bahwa Jazira akan menggodanya jika terus bergerak.


"Apakah kau ingin menggodaku?! Kau hanya perlu diam dan jangan banyak bergerak!" Ucap Albirru dengan nada yang sedikit tinggi sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. Jazira pun hanya menyebikkan bibirnya dan duduk diam seperti manekin.


Lama kelamaan, Jazira pun bosan. Dia mencoba untuk bangun dari duduknya. Namun tak Jazira sangka, gerakan Jazira tadi membuat Albirru sedikit bergerak dalam tidurnya lalu...


Grep!


Albirru memeluk pinggang milik Jazira erat, yang membuat Jazira menempel di dada milik Albirru. Jazira hanya membelalakkan matanya dan menatap bagian bawah dari wajah Albirru. Jazira menghembuskan nafasnya perlahan dan menggelengkan kepalanya.


"Apakah dia terlalu lelah sehingga dia bisa tertidur dalam posisi ini?" Gumamnya lalu mulai mencari posisi yang nyaman untuk dirinya bersandar. Setelah mandapat posisi yang nyaman, Jazira pun hanya menatap jam yang terus berdetak.


Seiringan dengan detakan jam, mata Jazira pun mulai menutup sedikit demi sedikit. Dan ya, mereka berdua sudah tertidur dengan posisi yang sangat tidak comfortable.

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat. Tepat pukul tiga sore, Johan yang sedang terburu-buru karena urusan pribadinya pun mengetuk berulang kali di ruangan milik Albirru. Namun tak ada satu jawaban pun atas ketukan dan panggilannya.


Karena saking terdesaknya, Johan pun dengan lancang membuka pintu ruang kerja milik sang atasan. Betapa terkejutnya Johan ketika melihat kedua atasannya yang tertidur di sofa. Tak ingin membuang suatu momen langka ini, Johan pun mengeluarkan ponselnya dan membidik potret mesra keduanya.


Potret dimana Albirru yang masih memeluk erat pinggang Jazira serta tangan kiri milik Jazira yang memeluk tubuh kekar Albirru. Johan tersenyum lebar dan kembali keluar dari ruangan sang atasan.


Setelah keluar, Johan pun mengirimkan pesan kepada Albirru mengapa dia pergi terlebih dahulu. Tak lupa dia juga mengirimkan potret keduanya yang menurutnya sangatlah mesra. Johan selalu berdo'a dalam hatinya agar sang atasan dapat menerima Jazira dengan sepenuh hati tanpa ada status kontrak diantara keduanya.


Dan benar saja, pukul lima sore keduanya baru saja bangun. Dimulai dari Albirru yang terbangun. Albirru terkejut karena ada seseorang yang menindihnya. Baru saja dia hendak berdiri dan memarahi orang tersebut, pikirannya kembali ke beberapa waktu yang lalu.


Albirru tersenyum tipis dan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik milik Jazira. Albirru terkekeh perlahan ketika melihat bahwa Jazira membuat pulau keci di jas nya. Entah hawa dari mana, Albirru mencium dahi Jazira yang baru saja dia usap keringatnya.


Jazira yang mendengar kekehan seseorang pun mulai mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah mata Jazira membulat sempurna, dia terkejut karena melihat wajah tampan yang berada tepat didepannya.


"Aaaa! Apakah kau sengaja mengagetkanku?!" Pekik Jazira sambil mengelus dadanya. Albirru pun langsung berdiri dan membuat Jazira mencengkeram erat jas milik Albirru. Dia membawa Jazira ke kamar istirahatnya.


Jazira yang merasa de javu seperti kenangan 4 tahun yang lalu pun seketika melotot dan menggelengkan kepalanya. Setelah berhasil membuka pintu kamar istirahatnya, Albirru pun berjalan mendekati ranjang.


Dengan perlahan Albirru merebahkan tubuh kecil Jazira di atas kasur. Jazira yang sudah panik pun bertanya dengan nada takutnya.


"Apa yang akan kau lakukan, Tu-"


"Aku akan membuatmu menjadi miliku untuk selamanya." Ucap Albirru datar yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya kuat.

__ADS_1


__ADS_2