
Hening, seketika tak ada suara selain aktivitas lain yang terjadi di ujung lorong sana yang berlawanan arah dengan koridor yang menjadi tempat bersimpuhnya kedua orang tua yang baru saja kehilangan putri pertama mereka itu.
Hingga tiba dimana pintu ruang mayat yang sedari tadi mereka berdua tunggu itu terbuka. Jazira yang melihat bahwa salah seorang suster yang merawat putri kecilnya keluar dari ruang mayat pun hendak berdiri, tetapi rasa nyeri yang kembali muncul di perut bagian bawahnya membuat Jazira mencengkeram erat lengan kekar milik sang suami.
"Jangan banyak bergerak, Ra. Kamu belum pulih," bisik Albirru sembari mulai bergerak untuk bangkit dari posisi awalnya dan membantu sang istri untuk berdiri. Jazira hanya mengikuti apa yang sang suami lakukan. Dirinya berdiri di samping sang suami sembari menatap satu sang perawat yang menatap dirinya dengan tatapan yang Jazira sendiri tak tahu apa arti dari tatapan tersebut.
"Jenazah Nona Muda telah selesai dimandikan dan siap untuk dimakamkan. Kami dari pihak rumah sakit sekali lagi mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya putri pertama Tuan Albirru dan Nyonya Jazira. Untuk proses pemakamannya, apakah Tuan Albirru akan serahkan ke pihak rumah sakit?" ujar sang perawat yang langsung di sambut oleh gelengan kepala dari Albirru.
"Saya yang akan memakamkan putri saya sendiri," jawab Albirru yang langsung diangguki oleh sang perawat. Terlihat Jazira yang tengah menundukkan kepalanya dengan air mata yang telah berada di ujung.
"Paman Jo!" panggil Albirru sembari menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Johan yang berjalan dengan sedikit tergesa untuk mendekatinya. Albirru pun menolehkan kepalanya kepada sang tangan kanan yang telah berdiri di samping dirinya sembari mengeratkan pelukannya kepada sang istri.
__ADS_1
"Siapkan mobil untuk membawa Arasa dan rombongan kita ke pemakaman. Apakah persiapan disana sudah siap?" ujar Albirru kepada Johan yang langsung diangguki oleh Johan.
"Semuanya telah siap, Tuan Muda. Orang kita telah mempersiapkan semuanya disana," jawab Johan yang langsung membuat Albirru menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu pun mulai mengendurkan pelukannya kepada sang istri dan memberi isyarat kepada sang perawat agar mengikuti dirinya untuk masuk ke dalam ruang mayat.
Sang perawat yang mengetahui maksud dari Albirru pun segera mengikuti langkah besar milik Albirru yang lebih dulu masuk ke dalam ruang mayat itu. Sementara Jazira, wanita itu menatap kosong pada pintu ruang mayat yang kembali tertutup.
Wajah sayu Jazira bergerak ke samping tatkala merasakan seseorang yang memeluknya dari samping. Terlihat wajah cantik dari sang adik yang kini menganggukkan kepalanya seolah mengatakan bahwa Jazira harus lebih kuat.
"Jingga yakin, Kak Zizi bisa kuat. Kakak harus bertahan buat Arasa," ujar Jingga kepada sang kakak yang kini berada dalam pelukannya itu. Marcel yang juga berada di samping Jazira pun ikut mengelus puncak kepala milik adik tirinya itu.
Sementara seorang laki-laki tampan dengan kacamata yang bertengger indah di atas hidung mancungnya itu berjalan mendekati ketiga orang yang telah dia anggap sebagai keluarganya itu. Jazira menolehkan kepalanya karena atensi nya teralihkan oleh kedatangan laki-laki itu.
__ADS_1
Kini Jazira menatap laki-laki yang tempo sempat bertengkar dengan sang suami. Ya, Jazira mengetahui hal tersebut karena Jingga yang pernah bercerita padanya. Veno, laki-laki itu dengan penuh wibawa nya berjalan mendekati ketiga sahabatnya yang tengah berdiri di depan ruang mayat.
"Yang sabar ya, Zi. Kak Veno tau kalau kamu orang yang kuat. Jadikan kepergian Arasa sebagai penyemangat untuk mu. Kamu harus bangkit dan buktikan kepada putri kecilku bahwa kamu bisa ikhlas," ujar Veno memberi pengertian kepada sahabat kecilnya.
Veno benar-benar menyayangi Jazira layaknya sayang seorang kakak kepada adiknya. Tak pernah ada perasaan lebih dari Veno untuk Jazira selain rasa sayang keluarga.
Jazira hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya menatap ketiga orang yang selalu menjaga dirinya selama mengandung sang putri. Tak terhitung berapa kali dirinya mengalami pendarahan dan selalu merepotkan ketiganya.
Air mata Jazira kembali menetes saat mengingat bahwa apa yang telah ketiga orang tersebut dan dirinya jaga telah pergi begitu saja. Jazira merasa bahwa apa yang selama ini mereka perjuangkan berakhir sia-sia.
Sebagai seorang kakak yang tak ingin melihat Jazira kembali menangis pun segera memajukan badannya dan memeluk tubuh mungil milik sahabat kecilnya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kenapa Tuhan ambil Arasa, Kak? Arasa selalu kita jaga selama ini, apakah itu masih kurang untuk Tuhan? Apakah Tuhan berpikir bahwa Zizi belum sanggup untuk merawat titipannya?" ujar Jazira saat berada dalam dekapan Veno.
Veno pun menggelengkan kepalanya sembari menatap Marcel serta Jingga yang tengah menggelengkan kepalanya tatkala mendengar tangisan Jazira. Namun belum sempat Veno menjawab ucapan dari Jazira, elusan tangannya di punggung milik Jazira terhenti karena suara posesif milik seseorang yang berdiri di belakangnya.