ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 116


__ADS_3

"Terimakasih Karena telah hadir, Arasa Almaira Alexander." Albirru berbisik di telinga sang putri. Dengan lembutnya laki-laki itu meletakkan jenazah sang putri diatas tanah dan segera menutupinya sesuai dengan ajaran yang ada di dalam agamanya.


Sementara Jazira, wanita itu masih menangis seolah tak terima jika darah dagingnya berada di bawah sana. Ama prosesi itu berjalan, tatapi tak lama setelah itu Jazira pun jatuh tak sadarkan diri. Albirru yang masih membantu bawahannya untuk merapikan tanah di makam milik putrinya pun terkejut karena panggilan dari sang adik.


"Kak Albi! Kak Zizi pingsan!" seru Jingga kepada sang kakak yang membuat Albirru terkejut. Dengan segera, Albirru pun mendekat kepada sang istri dan segera menggendongnya. Johan dan semua orang yang melihat hal tersebut pun ikut terkejut.


"Cel, gue titip sama lo. Gue percaya sama lo," ujar Albirru dengan Jazira yang telah ada di gendongannya. Marcel pun hanya menganggukkan kepalanya dan memilih untuk menyelesaikan acara pemakaman sang keponakan.


Albirru pun bergegas meninggalkan kerumunan dimana tampat pemakaman sang putri dan memberi isyarat kepada Johan. Ketiganya pun berlalu dan segera kembali menuju ke rumah sakit kota.

__ADS_1


Albirru berulang kali meminta kepada Johan agar segera melajukan mobilnya dengan cepat. Dirinya benar-benar merasa takut jika terjadi sesuatu kepada sang istri.


Sementara dibalik pohon besar yang letaknya tak jauh dari pemakaman milik Arasa, ketiga orang yang sedari tadi melihat prosesi pemakaman bayi tak bersalah itu semakin bersorak sorai. Tidak ketiganya, hanya dua orang yang seolah akan mengadakan pesta setelah hal ini.


Sementara satu orang lagi, wanita itu hanya duduk dengan tatapan kosong yang tertuju pada makam milik Arasa. Hingga tak terasa air matanya mengalir tatkala mengingat dirinya yang tak ada saat memakamkan anaknya.


"Mama bener-bener puas, Jess. Anak kurang ajar itu sekarang merasakan kesengsaraan. Berani-berani nya dulu dia memutuskan kamu, bahkan dengan adikmu saja dia masih kembali bersama istrinya yang tak lebih cantik dari kalian." Wanita tua itu tertawa puas sembari menatap beberapa orang yang masih tinggal di makam Arasa.


"Mama merasa puas? Benarkah itu rasa puas atau rasa sakit hati yang tertutup oleh luka? Nenek mana yang senang saat cucu pertamanya meninggal? Albirru itu anak Mama, dia lahir dari rahim Mama. Kenapa seolah-olah Mama sangat benci dengan Albirru?" ungkap Larina dengan tatapan nanarnya.

__ADS_1


"Larina! Berulang kali Mama bilang bukan?! Mama benci dengan Albirru! Bahkan dari kedua anak sial*n itu tidak ada yang mengingat Mama! Kalian adalah anak Mama!" bentak wanita tua itu yang tak lain adalah ibu dari Albirru.


"Kau bukan Mama ku! Kau mengambil Ayahku dari Bunda! Kau tak tahu bukan seberapa menderitanya Bundaku karena tingkah busukmu itu?! Cukup selama ini aku diam sebagai robotmu! Dengan bodohnya aku mau jadi pengganggu di rumah tangga Albirru, dengan anakku yang menjadi tumbalnya!" seru Larina sambil menolehkan kepalanya kepada sang kakak dan ibu sambungnya.


"Larina!" bentak ibu Albirru yang langsung membuat Larina berdiri dari posisi awalnya yang duduk di batang pohon roboh tadi.


"Lebih baik aku hidup miskin bersama Bunda, daripada aku harus hidup bersama Kak Jessi dan Ayah! Larina capek, Kak. Larina ingin hidup damai!" ujar Larina tegas sebelum berlalu begitu saja dari dua orang yang telah mencuci otaknya habis-habisan itu.


"Dasar wanita bodoh! Mau-maunya dia hidup menderita bersama ibunya yang miskin itu! Lebih baik aku tinggal bersama Mama dan Ayah, bukan begitu Ma?" ujar Jessica sembari menatap ibu Albirru. Wanita tua itu pun tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu benar-benar cerdik, Jess. Biarkan saja Larina kembali bersama ibunya, Mama akan menjamin kehidupanmu Sayang," jawab wanita tua itu sembari mengelus puncak kepala milik Jessica.


"Bantu aku mendapatkan Albirru kembali ya, Ma?"


__ADS_2