
"Kau tahu? Sejak kau membiarkan aku pergi dari rumah, beberapa bulan yang lalu, mulai saat itu aku telah berjanji untuk meninggalkanmu juga. Andai dulu kau bisa memilih mana yang tepat dengan waktu yang singkat, mungkin hidupmu tidak akan serumit ini." Jazira menundukkan kepalanya sembari mengingat saat di mana sang suami lebih memilih Larina daripada dirinya.
"Aku sudah memohon padamu, waktu itu. Tapi kau lebih memilih untuk pergi dariku, Ra. Andai saja dulu kau tak gegabah dan pergi dariku begitu saja, kita tidak akan mengalami banyak kesalahpahaman seperti sekarang ini." Albirru menyentuh kedua bahu mungil milik istrinya dan menghadapkan langsung pada dirinya.
"Salah paham kau bilang? Jika kau berada di posisiku, apakah kau akan bertahan ketika tahu pasanganmu ternyata berhubungan dengan orang lain selain dirimu? Tidak bukan?" tanya Jazira seakan tak terima jika suaminya itu menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Aku sudah cukup sabar dalam menghadapi semua tingkahmu. Biarkan aku bebas dan menjalani hidupku dengan tenang, tanpa kehadiranmu. Aku mohon padamu, lepaskan aku dari belenggu pernikahan kontrak ini," mohon Jazira sembari menatap dalam kedua mata indah milik sang suami.
"Tidak, Ra! Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Kita pasti bisa mulai semua ini dari awal, kita akhiri pernikahan kontrak kita itu. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu, Ra." Albirru menggelengkan kepalanya dan terus berharap agar sang istri tak meninggalkan dirinya.
"Terlambat. Kau mau atau tidak, aku akan tetap mengajukan perceraian kita ke pengadilan. Terserah kau akan menerimanya atau tidak, tapi yang terpenting aku sudah berusaha agar aku bisa berpisah darimu!" ujar Jazira dengan tegas sembari melepaskan kedua tangan besar milik sang suami yang ada di bahunya.
__ADS_1
"Kau harus menghindar darinya, Ra. Jangan termakan oleh kata-kata busuknya itu. Mari kita berubah, Ra." Jazira menghela napasnya panjang lalu segera masuk ke pintu samping di rumah sakit itu.
Sementara Albirru, laki-laki itu menatap kepergian sang istri dengan perasaan yang sungguh sangat kecewa. Dua kali dirinya mengalami hal seperti itu. Pertama ketika Jazira pergi dari rumahnya, karena kesalah pahaman yang benar-benar menghancurkan hidupnya, serta sekarang ini. Di mana sang istri yang kukuh dengan pendiriannya untuk bercerai.
Albirru mengusak rambutnya dengan kasar sembari menjadikan pahanya sebagai penumpu kedua sikunya. Laki-laki itu merasa bahwa tak ada yang bisa dia andalkan di dunia ini lagi, jika sang istri benar-benar ingin berpisah dari dirinya.
__ADS_1
"Kau baru merasakan bagaimana sakitnya, bukan? Andai kau tak berkhianat lebih dulu, mungkin kau sudah bahagia dengan istri dan anak kalian. Kau lihat kan, anakmu sangat cantik Al. Mirip sekali dengan papanya." Albirru yang masih menundukkan kepalanya itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya ke samping, dan terkejut saat melihat laki-laki yang tak asing baginya.
"Aku tahu, kau dan Jazira sama-sama menyesal. Coba jalanin sesuai alurnya, dahulu. Kalo memang kau masih ingin berjuang, aku akan mendukungmu. Tapi jika kau sudah mulai lelah karena terus memohon, setujui saja permintaan cerainya. Atau jika kau mau cara instannya, temui istri mu sekarang dan jatuhkan talakmu padanya!"