ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 21


__ADS_3

Udah like bab diatas? Kalau belum, yuk like dulu.


"A... apa?! Bagaimana kau meminta sahabatmu ini menjadi jal*ang, Za?! Kau itu benar-benar sudah gila!" Ucap Jazira sambil menggelengkan kepalanya menatap sang sahabat.


"Bu... bukan itu maksudku, Zi. Begini maksudku." Ujar Zakia sambil memegang bahu dang sahabat dan menghadapkan padanya.


"Kau bisa berusaha menjadi seorang jal*ng dihadapan suamimu. Ingat, hanya didepan SUAMIMU!" Papar Zakia sambil menekankan kata 'suamimu'.


"Apakah kau mau suamimu direbut oleh jal*ng? Tidak bukan?! Jadi kau harus bisa menjadi ja*ang halal untuknya. Setidaknya, dia tak akan mencari ja*ang diluaran sana. Karena apa? Karena dia memiliki ja*ang halal dirumah. Apakah kau sudah paham?" Tanya Zakia setelah menjelaskan kepada Jazira. Jazira hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Okey. Sarting from tommorow, I'm a *****! Memang, aku tak ingin suamiku diambil oleh jal*ng diluaran sana. Tak ada salahnya bukan, jika aku menjadi seorang jal*ng untuk suamiku sendiri? Lebih baik aku menurunkan sedikit harga diriku dihadapan suamiku, daripada aku harus kehilangan suamiku karena wanita diluaran sana. Begitu bukan?" Ucap Jazira mantap yang membuat Zakia tersenyum lebar.


"Kau memang sahabatku yang sangat pandai. Oke, kita mulai rencananya." Ajak Zakia sambil membuka ponselnya. Jazira pun mengernyitkan dahinya, bingung.


"Apa yang akan kau lakukan, Za?" Tanya Jazira sambil mendekatkan badannya kepada Zakia.


"Kita akan beli beberapa lingerie dan perlengkapan untukmu! Kita harus membuat dia tergila-gila padamu, Zi." Ujar Zakia antusias sambil menekan beberapa lingerie yang menurutnya sangat cocok untuk Jazira di online shop.


Sementara Jazira, dia hanya mengenggukkan kepalanya. Entahlah, mengapa dirinya sangat menurut dengan perkataan sahabatnya.


Sementara Albirru yang pulang karena salah satu dokumen pentingnya tertinggal pun mulai keluar kamar. Dia menatap pintu kamar sang istri yang tertutup rapat lalu melempar pandangannya. Dia berjalan keluar rumahnya dan mendekati Johan yang sudah menunggunya sejak tadi.


Mereka berdua pun mulai menjelankan mobilnya menuju perusahaan milik Albirru. Didalam perjalanan, pikiran Albirru masih menerawang dimana dia mengatakan bahwa sang istri adalah wanita murahan.


'Baiklah, kau bilang aku tak perlu menjadi istri yang baik untukmu bukan? Oke, mulai besok nggak usah nyangkut pautin apapun itu sama aku!' Perkataan Jazira tersebut masih berputar dalam benaknya.


'Damn! She's make me crazy!' Teriak Albirru dalam hatinya.


Sesampainya di kantor, Albirru tak dapat memfokuskan dirinya dengan pekerjaan yang sedari tadi telah menunggunya. Wajah marah sang istri lah yang mengganggu benaknya.

__ADS_1


"Kenapa kau seperti ini, Al? Kau bukanlah Albi yang dulu. Sepertinya aku salah karena telah menikahi Maira!" Geram Albirru pada dirinya sendiri. Tak ada yang bisa Albirru lakukan, selain memijat pelipisnya.


Tak lama setelah itu, pintu ruangannya terbuka lebar. Nampaklah seorang wanita berpakaian minim dengan wajah yang telah dipoles sedemikian rupa. Tak lupa air mata buayanya yang telah membasahi pipinya.


"Sayang! Aku benar-benar minta maaf padamu. Aku sama sekali tak ingin membuatmu tersinggung dengan kata-kataku." Ujar Larina manja sambil duduk dipangkuan Albirru.


Albirru hanya menatap Larina tanpa ekspresi. Tangan Larina terangkat menuju rahang tegas milik Albirru, lalu dia mengelusnya perlahan.


"Kau masih marah padaku? Kau marah padaku hanya karena wanita yang tiba-tiba datang ke hidup kita berdua? Kau bukan Albirru ku yang dulu. Kau dulu tak pernah membentakku apapun itu kesalahanku." Ucap Larina manja sambil memeluk tubuh atletis milik Albirru.


"Hmm, maafkan aku." Dua kata serta satu deheman tersebut membuat Larina mendongakkan kepalanya antusias.


"Apakah kau benar-benar memaafkan aku?" Ulang Larina sambil menatap netra Albirru. Albirru hanya menganggukkan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Larina.


Tanpa aba-aba, Larina pun mencium bibir Albirru dengan senang. Tak menolak, Albirru pun dengan senang hati menerima perlakuan dari Larina.


"Kau mau kulayani sekarang?" Ucap Larina sambil menatap Albirru setelah pangutan mereka berdua terlepas. Albirru pun hanya tersenyum tipis.


Dan ya, kalian sudah tahu apa yang akan mereka berdua lakukan didalam kamar tersebut bukan?


*****************


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sedangkan Albirru dan Larina masih bergelung malas dibawah selimut yang sama.


Sementara Jazira yang sedari tadi dirombak habis-habisan oleh Zakia pun hanya bisa berdiri mematung di depan cermin. Dia terkejut menatap perubahan yang ada di dalam dirinya.


"Za, ini beneran aku? Kenapa aku seperti tante-tante Za? Ah, ganti saja pakaian ini. Aku tak ingin memakai baju ini!" Pekik Jazira frustasi sambil mencoba membuka tali bajunya.


"Eh, apa yang kau lakukan Zi? Kau tidak seperti tante-tante yang lain! Bahkan ini saja, dandananmu masih kurang untuk menyamai strata jal*ng-jal*ng diluaran sana. Aku yakin Albirru belum tentu tergoda dengan pakaian ini." Tolak Zakia sambil menilai pakaian Jazira.

__ADS_1


"Kau ganti dengan baju yang ini ya, Zi? Aku rasa ini lebih seksi daripada baju yang kau pilih." Sambung Zakia sambil memberikan pakaian yang lebih parah daripada pakaian yang sedang Jazira pakai.


"Stop! Are you crazy, Za?! Bahkan aku tak pernah memakai pakaian seperti ini. Tapi kau memintaku untuk memakai baju yang kau pilih itu?! Ini, atau tidak sama sekali?!" Putus Jazira sambil menatap tajam netra sahabatnya.


"Okey... okey. You win. Aku antar kamu sekarang ya? Jangan lupa pakai outer kamu. Nanti kamu buka pas di dalam ruangannya. Oke?" Ujar Zakia mengalah sambil membawa tas serta outer kulit berwarna putih milik Jazira.


Jazira lantas memakai outer tersebut. Jazira tersenyum sedikit tenang ketika tahu bahwa outer tersebut menutupi hampir tiga per empat tubuhnya. Dia berjalan mengikuti Zakia sambil membawa tas selempangnya.


Setelah menempuh perjalanan yang sedikit membuat keduanya kebas, sampailah mereka disebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi.


"Aku masuk dulu ya, Za? Makasih banyak loh atas bantuan kamu." Ucqp Jazira tak enak hati sambil menutup pintu mobil Zakia.


"Kamu nggak salah kantor, Zi? Ini udah sepi. Mungkin aja suami kamu sedang dalam perjalanan pulang." Tanya Zakia karena dia sedikit sangsi dengan kantor Albirru yang sudah sepi.


"Enggak kok. Ini emang bener kantor suamiku. Terlihat sepi karena semua karyawan udah pulang, Za. Dia biasa tinggal dikantor sedikit lebih lama sebelum pulang. Yaudah aku masuk ya? Bye, Kia. Thank you a lot, ya?" Papar Jazira yang langsung diangguki oleh Zakia.


Dengan langkah waspada, Jazira pun melangkahkan kakinya memasuki gedung yang mulai sepi tersebut. Tak jarang jika masih ada karyawan yang sedang lembur, Jazira akan menyapanya dengan lembut.


Setelah menaiki lift dan naik menuju lantai dimana ruangan Albirru berada, Jazira pun berjalan gontai menuju satu-satunya ruangan dilantai tersebut.


Setelah berada didepan pintu, Jazira pun menghirip nafanya dalam-dalam lalu mulai mendorong pintunya.


Jazira bingung, pasalnya ruangan Albirru sepi. Tak ada seorangpun disana. Namun Jazira mengurungkan niatnya untuk kembali karena malihat tas mahal milik Larina. Dia pun mendudukkan badannya di sofa sambil menunggu kadatangan sang suami.


Hampir 30 menit Jazira duduk diam menunggu Albirru dan Larina keluar dari ruangan yang ada didepannya.


Albirru yang baru saja bangun dari tidurnya pun mulai berjalan menuju lemari. Dia mengeluarkan satu kemeja berwarna putih lalu memakainya dan berjalan keluar dari kamar pribadinya.


Setelah membuka pintu kamarnya, Albirru terkejut bukan main ketika melihat Jazira yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bersahabat.

__ADS_1


Jazakumullahu khairan katsiran.untuk semua yang sudah setia menunggu up nya Kayenna😘.


__ADS_2