ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 50


__ADS_3

Jingga terkejut karena Marcel mencium perutnya yang rata lalu menempelkan dahinya di perutnya. Tangan mungil milik Jingga terangkat untuk mengelus puncak kepala milik Marcel.


Lelaki bermata hitam legam itu menghembuskan nafasnya perlahan sembari menatap wajah cantik milik Jingga. Senyum tipis terbit di bibir mungil milik Jingga yang kembali membuat Marcel menyembunyikan wajah tampannya di perut rata milik Jingga.


"Jangan pernah marah sama Kak Zizi hanya karena hal kecil, Kak. Kita sendiri tahu gimana susahnya Kak Zizi bertahan sama laki-laki bejat kek Albirru itu. Bukannya tujuan kita buat bawa Kak Zizi pergi itu biar Kak Zizi bahagia dan bebas dari Albirru itu?" ujar Jingga yang langsung diangguki oleh Marcel.


"Ya nggak munafik, Kak. Orang juga kalau tiba tiba dikasih perusahaan besar yang dibesarkan sama orang lain pasti kaget. Itu berarti juga tiba tiba jadi kaya. Terlebih lagi Kak Zizi nggak terlalu materialistis," ujar Jingga yang di angguki oleh Marcel. Memang Jazira bukanlah tipe wanita yang ketika dirinya dilimpahi dengan banyak kayaan, dia akan foya foya dan merasa senang. Tapi dia merupakan gadis sederhana yang tak mengejar materi.


"Kita coba bujuk Kak Zizi dulu yuk? Semoga dia mau, dia juga butuh ini semua buat keberlangsungan hidup dia untuk kedepannya." Jingga mencoba mengajak Marcel untuk kembali membujuk Jazira.


Marcel pun hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai bangkit dari duduknya dan berdiri tegap di hadapan Jingga. Laki laki itu mengelus puncak kepala milik Jingga disertai senyuman tipis yang melekat di wajah tampannya. Jingga yang dielus kepalanya pun mendongakkan kepalanya hingga menatap Marcel yang juga tengah tersenyum menatapnya.


Jingga mengangkat tangan kanannya dan dia jatuhkan di dada bidang milik Marcel. Perlahan, tangannya mengelus dada milik lelaki yang dengan tegas dan penuh bertanggung jawabnya membawanya serta Jazira pergi dari Albirru tanpa memikirkan bagaimana repotnya dirinya jika membawa dua perempuan ke luar negeri.


"Thank you so much," ujar Jingga dengan senyum yang tulus. Marcel pun mengernyitkan dahinya bingung lalu mengelus pipi milik Jingga dengan tatapan penuh cintanya.


"For?" tanya Marcel dengan nada bingungnya. Jingga hanya menggelengkan kepalanya disertai hirupan nafas yang terdengar sedikit berat. Marcel yang paham akan perasaan Jingga pun memeluk erat wanita yang berhasil menggantikan posisi Jazira dihati Marcel.


"Makasih karena Kak Marcel mau ambil risiko dengan bawa Jingga dan Kak Zizi pergi. Jingga bener bener merasa bersyukur punya Kak Marcel dalam hidup Jingga," bisik Jingga dalam pelukan Marcel yang membuat Marcel semakin mengeratkan pelukannya pada Jingga.


"Gue yang lebih bersyukur punya lo dalam hidup gue. Jangan anggap kebaikan gue ke kalian berdua karena gue masih ada rasa sama Zizi. Gue lakuin ini semua demi kebaikan lo dan adik tiri gue, oke?" ujar Marcel yang langsung diangguki oleh Jingga.


"Jingga sayang sama Kak Marcel," ujar Jingga yang membuat Marcel terkejut. Lelaki itu mendongakkan kepala Jingga yang sedikit basah dengan air mata itu.


Tangan besar dengan tato di punggung tangan itu menangkap sebelah pipi milik Jingga lalu mengusap air mata milik Jingga dengan jari jempol nya. Perlahan namun pasti, Marcel mulai mendekatkan wajahnya kepada Jingga.

__ADS_1


Jingga yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Marcel pun sedikit memundurkan wajahnya. Namun tangan besar milik Marcel membawa wajah Jingga maju kedepan lalu mengecup perlahan bibir milik Jingga yang telah dia ambil first kiss nya.


Jingga yang sedikit terkejut pun hanya membelalakkan matanya sambil menatap Marcel dengan jantung yang berdegub dengan kencang. Wajah tampan milik Marcel terlihat sangat mempesona bagi Jingga ketika lelaki itu tengah menciumnya dengan kedua mata yang tertutup, sehingga dapat Jingga lihat dengan detail bagaimana lentiknya bulu mata milik lelaki yang kini mulai sedikit menuntut dengan ciumannya.


*****


Sedangkan di tempat lain, seorang laki laki yang masih bertelanjang dada itu mulai membuka matanya setelah lama mencoba menenangkan pikirannya.


Dibawah sinar rembulan, laki laki yang baru saja selesai menjelajahi surga dunia itu mulai menolehkan kepalanya dan menatap jam yang berada di atas sebuah bingkai besar yang menampilkan potret sepasang pengantin yang tengah berpose formal di depan kamera.


Pikiran yang telah berhasil dia tenangkan tadi, kini kembali muncul di permukaan. Albirru menarik kasar rambutnya dengan sebelah tangan ketika ingat bahwa wanita yang dia cintai telah pergi meninggalkannya.


Tangan kanannya dia gunakan untuk mengambil satu botol minuman yang ada diatas nakas samping ranjangnya. Namun karena kesulitan Albirru pun berniat untuk menarik lengan kirinya.


Namun Albirru baru tersadar bahwa lengan sebelah kirinya digunakan sebagai bantalan untuk wanita yang telah melayaninya selama dia marah tadi. Albirru pun kembali ke posisinya dan menatap wajah Larina yang tengah tertidur lelap.


Ada rasa tak percaya yang menyeruak di hati CEO sukses itu. Tak hanya rasa kurang percaya, tapi rasa menyesal lebih menguasai hatinya karena telah menyakiti hati sang istri dan telah merusak kepercayaan yang telah dua kali Jazira berikan pada dirinya.


Ada rasa rindu yang hadir dalam hati Albirru ketika dia mengingat malam malam dimana dirinya dan Jazira akan bercengkramasebelum tertidur dengan posisi berpelukan. Bahkan sebuah rasa jijik seketika menjalari pikiran Albirru ketika dirinya menyadari apa yang tengah dia lakukan.


Apakah pantas seorang suami tidur bersama wanita lain ketika sang istri menyerah dan lebih memilih untuk meninggalkan suaminya? Kini yang Albirru rasakan hanyalah sebuah penyesalan yang mendalam di dalam lubuk hatinya.


Tatapannya kembali ke wajah cantik Jazira yang mengulas sedikit senyum terpaksanya ketika dirinya memeluk pinggang ramping milik Jazira kala itu. Tanpa sadar, Albirru pun mengusak rambutnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya yang membuat Larina sedikit terkejut karena tarikan tangan Albirru.


"Maafin gue, Zi!" seru Albirru sambil menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Lelaki yang hampir tak pernah meneteskan air matanya kecuali saat bersama dengan wanita yang dia cintai itu mulai merasakan hangat yang berada diujung matanya.

__ADS_1


"Gue sama sekali nggak mau kehilangan lo, Zi! Gue cinta sama lo!" imbuh Albirru tulus dari dalam hatinya yang membuat seorang wanita yang baru saja terbangun karena terkejut itu mulai meneteskan air matanya.


Larina menatap tajam pada lelaki yang telah menggaulinya beberapa kali sejak kepergian Jazira tadi. Larina pun merasakan hal yang sama dengan apa yang Jazira rasakan. Wanita itu menilai bahwa Albirru tak memiliki pendirian, bukankah jika Albirru mengundangnya kemari itu berarti jika Albirru telah memilihnya dan anak yang tengah dia kandung?


Sedangkan Albirru yang masih menahan tangisnya dengan sekuat tenaga pun mulai memejamkan matanya. Bayangan momen momen ketika dirinya bersama dengan wanita sederhana yang menerimanya dirinya apa adanya semakin membuat Albirru merasakan sakit di hatinya.


Dia tak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Jazira ketika dirinya mengatainya dengan perkataan yang tak pantas serta memilih Larina seolah olah wanita itu benar benar tengah mengandung anaknya.


Dirinya benar benar menyesal akan perbuatannya selama ini. Dia memang menyalahkan dirinya yang kurang bersyukur sehingga dirinya kehilangan wanita sebaik dan sesempurna Jazira.


Albirru berusaha mencari cara untuk membawa istrinya kembali ke pelukannya. Hingga sebuah cara terlintas dibenaknya saat mengingat bahwa Larina tengah mengandung.


Albirru pun segera membuka matanya dan terkejut karena melihat Larina yang tengah menatapnya dengan air mata yang mulai membasahi matanya. Albirru yang terkejut pun segera menghadapkan badannya kepada Larina dan bertanya kepada Larina, apa yang terjadi.


"Kenapa Mas Birru jahat sama Larina dan anak kita? Kenapa saat Mas Birru masih berada dalam satu selimut yang sama dengan Larina, kau masih saja mengingat Jazira?! Apakah kau tak percaya bahwa ini anakmu?!" risik Larina dengan air matanya yang membuat Albirru menggelengkan kepalanya.


Tiba tiba Larina pun membawa tangan besar milik Albirru ke perutnya yang masih rata lalu mendongakkan kepalanya menatap Albirru kembali.


"Rasakan, Mas! Dia adalah anak kita!" bentak Larina dengan tangisnya yang membuat Albirru kembali merenung. Dia benar benar merasa dilema kali ini, antara istrinya dan anak yang tengah Larina kandung.


Mam semua tim mana nih?


Albirru & Jazira


Albirru & Larina

__ADS_1


Marcel & Jingga


Atau Jazira dan yang lain?


__ADS_2