ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 92


__ADS_3

Masih ada yang nunggu nggak nih?? Atau malah udah pada kabur pembacanya ya??


Sebuah mobil kesehatan kelas teratas dengan Jazira yang terbaring di dalamnya berjalan membelah jalanan menuju ibu kota. Tak hanya Jazira, terdapat Albirru yang duduk di sebelah brankar sang istri sembari menggenggam erat tangan mungil milik Jazira.


Tatapan laki-laki itu tertuju pada perut Jazira yang belum kembali seperti semula, masih sedikit besar seperti awal-awal seorang wanita hamil muda. Entah dorongan dari mana, Albirru mulai menyingkap pakaian tipis berwarna biru muda yang di kenakan oleh Jazira.


Seketika tatapan Albirru terdiam saat menatap jahitan setelah operasi milik sang istri yang kini terpampang jelas di depan matanya. Tangan besar tersebut mulai terukur untuk menyentuh jahitan yang belum mengering sama sekali itu.

__ADS_1


Seketika Albirru kembali merasakan penyesalan yang begitu besar dalam hatinya. Andai saja dirinya tak mengedepan kan logika nya untuk mempercayai Larina dahulu, mungkin sang istri tak akan mengalami semua ini.


"Maafkan Mas, Ra. Semua ini tak akan terjadi pada mu dan putri kecil kita. Mas janji akan menjaga kamu dan Arasa sampai kapan pun itu. Arasa pasti bisa sehat, kamu juga pasti kuat. Mas sayang kalian, Ra," ujar Albirru sembari mengelus perlahan perut milik sang istri.


Tangan kekar laki-laki itu beralih pada jari-jari sang istri yang tak lagi memakai cincin yang sama dengan dirinya. Ada rasa sesak yang menjalari hati laki-laki tampan tersebut.


"Sebegitu kecewanya kamu sama aku, Ra? Maafin Mas yang bodoh ini ya, Ra," lirih Albirru sembari menatap sang istri yang tengah terpejam damai.

__ADS_1


Dengan tatapan yang masih menatap keponakan kecilnya, Jingga menolehkan kepalanya kepada laki-laki yang tengah memeluknya dari samping tersebut. Marcel yang sedari tadi menatap keluar dari jendela ambulans pun menolehkan kepalanya kepada sang kekasih hatinya.


"Kenapa, hmm? Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Marcel yang membuat Jingga menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Perempuan itu menghembuskan napas nya perlahan sembari menatap kembali sang keponakan yang tengah tertidur.


"Kamu ngerasa kalau Arasa jarang nangis nggak sih? Entah ini karena doktrin Arasa yang lahir prematur atau karena apa Jingga nggak tahu. Tapi, kenapa aku ngerasa kalau Arasa nggak akan bertahan lama ya? Tiba-tiba bayangan seperti Arasa akan pergi jauh dari kita melintas di benak aku," ujar Jingga dengan perasaan tak nyaman yang kini menghinggapi hatinya.


"Huss, kamu nggak boleh ngomong gitu Ngga. Kita semua akan berusaha chord mungkin buat jagain Arasa dan buat dia tumbuh besar. Semua orang punya Jalan takdir masing-masing, Ngga. Mungkin itu cuma perasaan khawatir kamu yang bertemu dengan ketakutan kamu kehilangan Arasa, jadi stop berpikir negatif ya. Kita serahkan semua kepada Tuhan. Kita yakin, Arasa anak yang hebat." Jelas Marcel yang diangguki oleh Jingga.

__ADS_1


"Tapi kalau memang hal itu terjadi dengan Arasa, gimana?" tanya Jingga setelah beberapa saat hening yang membuat Marcel sedikit terkejut.


Mau Kayenna terus up ber bab2 seperti sekarang ini? Yuk komen yang banyak supaya Kayenna semangat ngetikšŸ¤—


__ADS_2