
Jazira berjalan dengan tatapan kosong nya keluar dari rumah sakit itu. Tangan mungil milik wanita yang tengah menggendong tubuh mungil milik sang putri itu bergetar hebat. Belum sempat dirinya menyusui si malaikat kecil, tetapi Tuhan lebih dulu mengambil apa yang menjadi harta berharganya untuk saat ini.
Jingga yang melihat sang kakak berjalan dari ujung koridor pun segera bergegas mendekati sang kakak ipar yang tengah menggendong jenazah sang keponakan. Jingga segera berdiri di hadapan sang kakak yang berjalan sedikit lambat.
"Kak Zizi kuat, Kak Zizi bisa anter Arasa sampai sana." Jingga mengusap kedua pipi sang kakak ipar yang masih dibasahi oleh air mata yang sedari tadi masih setia membasahi pipi chubby milik Jazira.
"Maafin Kak Zizi ya, Ngga. Semua nggak harus seperti ini," lirih Jazira sembari mengalihkan tatapan kosong nya kepada sang adik yang hanya menganggukkan kepalanya. Jingga membawa sang kakak menuju lobi rumah sakit yang di mana terdapat semua orang yang telah menunggu kedatangan Jazira serta bayi mungilnya.
Semua tatapan tertuju pada Jazira dan Jingga, hingga setelah mereka tiba di depan mobil mewah milik Jazira, dengan segera Marcel pun membukakan pintu mobil milik sang adik dan mempersilakan kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya itu.
__ADS_1
Jazira hanya menuruti apa yang Jingga lakukan, wanita rapuh itu duduk di sebelah sang adik dengan tenang. Tetapi air matanya masih belum berhenti membasahi kedua pipi nya.
"Kak Veno bareng sama Paman Jo dan Mbok Sum ya? Kita tinggal nunggu Kak Albi aja," ujar Jingga sembari menoleh ke belakang dan diangguki oleh Veno. Dengan segera Veno mengajak Mbok Sum dan juga Johan menuju mobil miliknya.
Sementara Marcel, laki-laki itu langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk dibalik kemudi. Laki-laki berwajah tampan itu membalikkan tubuhnya dan menatap Jingga yang masih mengelus punggung milik Jazira tang tarus bergetar.
Hingga tak lama seorang laki-laki dengan terbesarnya berjalan mendekati mobil mewah milik dirinya dan berdiri di samping pintu mobilnya yang sedikit tinggi.
Jingga tak menjawab ucapan dari sang kakak, dirinya hanya menganggukkan kepalanya dan memberi isyarat kepada sang kakak agar menopang tubuh milik sang kakak yang tengah memangku jenazah sang keponakan.
__ADS_1
"Maafkan Mama," lirih Jazira dengan tatapan kosong yang tertuju kepada sang putri yang dia pangku. Dengan segera Albirru pun segera duduk di sebelah sang istri setelah Jingga berhasil keluar dari mobil.
Setelah menutup pintu mobil milik sang kakak, Jingga pun segera berjalan memutar dan duduk di sebelah Marcel yang tengah menatap kedua insan yang duduk di bangku belakang.
"Biar Mas yang pangku Arasa ya, Ra?" lirih Albirru sembari menatap wajah cantik sang istri yang terlihat sangat sembab itu. Jazira yang mendengar perkataan sang suami pun segera menolehkan kepalanya dan membalas tatapan hangat dari sang suami.
Jazira sama sekali tak menjawab. Perempuan itu hanya menatap wajah sang suami yang membuat Albirru menyimpulkan bahwa sang istri memperbolehkan dirinya untuk mengambil alih sang putri yang ada di pangkuan wanitanya.
Marcel pun segera menyalakan mesin mobilnya sembari menatap sang kekasih hati yang tengah memakai seat belt nya. Sementara Albirru, laki-laki itu sedikit menghadapkan tubuhnya kepada sang istri hendak mengambil sang putri.
__ADS_1
Namun tatapan Albirru terpaku pada dua aset berharga milik Jazira yang ada di dada. Seketika Albirru pun terkejut, "Ra, itu bocor!"