ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 41


__ADS_3

Albirru kembali mencium dengan kasar bagian leher milik Jazira. Tangan besarnya pun mulai menyelisik kebalik bajunya, mencoba menggapai pangait bra berwarna mocca milik Jazira.


"Zizi mohon sama Mas Birru, jangan langgar janji kontrak kita." ucap Jazira lirih yang sama sekali tak digubris oleh suaminya.


Jazira yang merasakan dejavu kembali pun segera menyentuh tangan Albirru dan menggelengkan kepalanya. Namun kali ini, Albirru yang masih tak sadar pun tak menghiraukan apa yang sang istri minta.


Tangan besar tersebut berhasil menggapai apa yang sedari tadi ia cari. Dalam hitungan detik, penutup bagian atas milik Jazira tersebut telah terlepas dengan sempurna.


Setelah hal tersebut, Albirru pun melakukan apa yang sedari awal menjadi pengecualian dalam pernikahan kontraknya bersama dengan Jazira. Mam semua tahu bukan apa itu?


Albirru mengambil apa yang selama ini Jazira jaga untuk lelakinya kelak. Dan ternyata apa yang dia takutkan benar benar terjadi. Jazira masih terus memohon kepada sang suami agar dirinya menyudahinya. Namun lagi lagi alkohol tersebut membuat Albirru mendadak tuli.


Jazira melewati malam panjang tersebut dengan tangisannya. Dia berpikir untuk berpisah dengan Albirru karena tahu bahwa ada hasil dari perselingkuhan antara suaminya dan kekasih suaminya itu.


Karena bagi Jazira, dalam sebuah pernikahan, dua faktor utama jika kita ingin berpisah dengan pasangan kita. Pertama, bermain tangan dan selingkuh. Pada awalnya Jazira masih menolelir perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya dan Larina.


Karena dirinyalah yang datang ditengah hubungan mereka, tapi setelah tahu bahwa Larina tengah mengandung membuat Jazira mantap untuk berpisah dari suaminya itu.


Tetapi takdir berkata lain, malam ini keperawanan telah direnggut oleh suami kontraknya. Dia hanya takut jika dirinya tag resmi berpisah dengan sang suami, dan disaat itulah dirinya hamil. Bukan perkara nafkah atau biaya hidup, tapi bagaimana anaknya kelak akan tumbuh tanpa figur seorang ayah.


Albirru yang telah tertidur disebelah Jazira pun terganggu karena suara tangisan Jazira. Dia mulai menutup kedua telinganya karena merasa terganggu. Jazira yang merasakan pergerakan Albirru pun segera mengencangkan selimutnya.


"Maira! Stop it! You are annoying!" bentak Albirru yang membuat Jazira semakin terisak. Karena tak tahan mendengar tangisan Jazira, Albirru pun mulai bangun dari tidurnya dan segera memakai celana rumahannya dan segera keluar dari kamarnya.


Jazira menatap kepergian suaminya yang mulai berjalan keluar dari kamar mereka. Jazira kembali menangis. Dia meratapi nasibnya yang menurutnya sangatlah tak berpihak padanya.


"Apa yang harus kau lakukan, Zi?" ucap Jazira dalam dirinya sambil mencoba untuk bangun dari tidurnya. Dirinya melipat bibirnya kedalam untuk meredam rasa sakitnya. Namun air matanya tak dapat ia bendung, luruh sudah air matanya mewakili rasa sakit yang menyerang bagian intinya.


Jazira mencoba dengan susah payah agar dirinya dapat bangun dari posisinya. Ya, adzan subuh telah berkumandang beberapa saat lalu. Jazira ingin segera membereskan semua kekacauan yang terjadi pada dirinya dan kamarnya.

__ADS_1


"Kamu bisa, Zi." ucap Jazira menyemangati dirinya sendiri.


Setelah berusaha dengan susah payah, akhirnya Jazira berhasil bangun dari posisi awalnya. Namun kesulitan menyerangnya saat dirinya hendak berjalan menuju kamar mandi. Meskipun harus berjalan dengan tertatih tatih, Jazira berhasil menaklukan rasa sakitnya.


***********


Pagi harinya, Jingga yang baru saja keluar dari kamarnya dan hendak turun ke lantai bawah untuk sarapan pun terkejut karena melihat sang kakak yang tertidur di sofa panjang di depan kamar kakaknya.


Jingga segera mendekat dan menepuk pelan pipi milik kakaknya.


"Kak Albi! Bangun kak, udah jam delapan loh. Nggak ngantor kah?" tanya Jingga sambil menggoyangkan bahu milik kakaknya. Albirru mulai mengerjapkan matanya saat mendengar suara adik kesayangannya.


Setelah matanya terbuka dengan lebar, Albirru pun mengusap matanya beberapa kali dan terkejut karena dirinya berada di sofa depan kamarnya.


"Kok Kak Albi ada disini, Ngga?" tanya Albirru dengan suara retaknya disertai mata yang masih merah. Jingga mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan sang kakak.


"Ya menaketehe. Semalem setelah Jingga sama Kak Marcel anter, Kak Albi udah di dalam kamar kok. Terus kenapa bisa di luar?" tanya Jingga sambil duduk disebelah kakaknya setelah sang kakak bangun dari duduknya.


"Astaga kak, Jingga baru bangun ini. Malah ditanya kemana bininya Kak Albi. Yang bener aja kak." ucap Jingga dengan nada bingungnya. Seketika ucapan Marcel dan racauan ngawur sang kakak melewati benaknya.


"Eh kak, beneran si ular keket hamil anaknya Kak Albi?" tanya Jingga tiba tiba yang membuat Albirru mengingat kembali masalahnya. Dia menatap lurus ke foto pernikahannya dan Jazira.


"Kak Albi sendiri masih ragu, itu bener anak kak Albi atau bukan." ucap Albirru dengan posnya yang membuat Jingga menjitak kepala sang kakak.


"Ngerasa mroses atau enggak! Udah tau wanita nggak bener bener malah buat bercocok tanam. Bisa jadi anaknya Kak Albi atau bukan. Soalnya Jingga yakin kalau penyumbang bukan cuma Kak Albi aja. Banyak om om lain pasti." ujar Jingga yang membuat Albirru manggut manggut tak jelas.


"Terus reaksi Kak Zizi?" tanya Jingga yang langsungmembuat Albirru menolehkan kepalanya kepada dirinya.


"Dia marah dan kecewa sama Kak Albi. Dia kasih dua pilihan buat Kak Albi. Ceraikan Kak Zizi atau buat Larina sebagai madunya." jawab Albirru yang membuat Jingga membelanjakan matanya. Dia menatap nyalang kepada kakak laki lakinya tersebut.

__ADS_1


"Inget sama perkataan Jingga waktu itu kan? Ini merupakan kesempatan terakhir buat Kak Albi. Jingga akan dukung apapun itu pilihan Kak Zizi. Jingga berharap supaya Kak Zizi lebih milih cerai dan ninggalin kak Albi. Jingga nggak terima kalau Kak Zizi dimadu sama Larina. Banyak laki laki di luaran sana yang pantes buat Kak Zizi." ucap Jingga yang membuat Albirru menggelengkan kepalanya.


"Kak Albi akan buktiin kalau itu bukan anak Kak Albi! Minta Kak Zizi untuk bertahan sampai itu terbukti, bahwa Larina tidak mengandung anak Kak Albi." ucap Albirru yang membuat Jingga tersenyum miring.


"Sorry kak, Jingga nggak bisa. Jingga nggak mau jadi pengecut karena Jingga nggak tepatin janji. Cukup Kak Zizi tersakiti oleh Kak Albi, enggak sama Jingga. Jikapun Kak Zizi lebih milih untuk cerai dari Kak Albi, Jingga akan ikut sama Kak Zizi. Biarin, Kak Albi tinggal sama Larina dan anak kalian. Jingga nggak sudi!" tolak Jingga yang membuat Albirru kalang kabut.


Albirru bertambah panik karena pintu kamarnya terbuka dan menampakan wajah sayu milik istrinya. Saat dia hendak berdiri, Jazira lebih dulu menutup pintunya kembali. Jingga yang melihat hal itu pun segera berlari dan mendorong pintu kamar milik kakaknya.


"Jingga mau ngomong sama Kak Zizi." ucap Jingga yang digelengi oleh Jazira. Namun tatapan mata Jingga membuat Jazira tak dapat menolak permintaan adik iparnya tersebut.


Jingga tersenyum hangat saat kakaknya tersebut membukakan pintu untuk dirinya. Jingga menatap sinis kepada sang kakak dan segera masuk ke dalam kamar keduanya.


Setelah duduk diatas ranjang, Jingga pun duduk berhadapan dengan kakak iparnya tersebut. Pandangan gadis berambut sebahu itu menyapu keseluruh kamar milik kedua kakaknya yang sudah berubah. Mulai dari sprai yang sudah berubah warna dan barang-barang yang telah tertata rapi.


Jingga pun kembali mengalihkan pandangannya ke sang kakak. Dia memegang pundak milik Jazira yang sedang menundukkan kepalanya.


"Jingga tahu, nggak gampang buat Kak Zizi melalui semua ini. Mulai dari ibu Kak Zizi yang meninggal karena menolong Kak Zizi, punya ibu tiri dan kakak tiri perempuan yang jahat, hampir dilecehkan oleh kakak tiri, dikejar dan jadi buronan ayah kak Marcel, sampai diselingkuin sama Kak Albi. Jingga bangga sama Kak Zizi." ungkap Jingga yang membuat Jazira terkejut.


Jingga menatap sang kakak yang tengah menatap dirinya dengan tatapan bingung ya. Jingga pun tersenyum dan menepuk erat sang kakak.


"Kak Marcel yang cerita semuanya. Dia bilang kalau dia menyesal atas semua yang pernah dia lakuin ke kak Zizi. Dia mau minta maaf sama Kak Zizi, tapi dia malu." jawab Jingga yang membuat rasa penasaran Jazira terlunaskan.


Lama Jazira berdiam diri di pelukan sang adik ipar. Hingga tubuhnya mulai bergetar karena air matanya kembali menetes. Dia menangis di pelukan sang adik ipar. Jingga dengan senang hati menjadi sandaran untuk kakak iparnya itu.


"Jingga juga kecewa dengan apa yang kak Albi lakukan. Tapi kali ini Jingga nggak akan belain Kak Albi atau meminta Kak Zizi buat kasih dia kesempatan lagi. Kesalahan kali ini nggak bisa dimaafin kak, ini udah kelewat batas!" ucap Jingga berapi api yang tak disahuti oleh sang kakak.


"Sekarang Jingga tanya sama Kak Zizi, apa pilihan yang Kak Zizi ambil? Bertahan atau pergi?" tanya Jingga sambil berharap agar sang kakak meninggalkan lelaki tak berperasaan itu.


Jazira pun mulai menarik tubuhnya dari Jingga dan mulai menghapus air matanya. Setelah menekankan matanya dan memikirkan apa yang telah dia pikirkan selama semalaman ini, Jazira pun memberikan jawabannya pada Jingga.

__ADS_1


Jingga terkejut dengan gerakan kepala sang kakak. Dia mencoba bertanya kembali untuk memastikan apa yang dia pikirkan.


"Jangan gegabah buat ambil keputusan kak Zi! Jingga akan dukung apapun pilihan Kak Zizi. Jangan sampai pilihan Kak Zizi kali ini jadi bumerang buat Kak Zizi sendiri!" ucap Jingga tak percaya sambil menatap heran kepada sang kakak ipar.


__ADS_2