
Jingga terkejut karena mendengar suara tertawa dari kakaknya. Dengan segera,Jazira pun mendekat dan menggeplak bahu Jingga dengan geli.
"Bawahanmu tersangkut, Ngga. Kenapa seolah-olah kamu ditarik sama orang sih?" ujar Zizi yang langsung menyadarkan Jingga. dengan kebodohannya. Dia segera membalikkan badannya dan ternyata benar, dress bagian bawahnya hanya terjepit.
Dengan muka masamnya, Jingga pun membuka sedikit pintu kamar mandi lalu mengeluarkan bawahan dressnya. Setelahnya, Jazira pun segera beranjak dari tempatnya lalu duduk di sofa besar yang ada di sebelah brangkar milik Marcel.
Sedangkan Jingga yang hendak mengikuti Jazira pun terhenti karena Marcel tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Jingga pun menghela nafasnya lalu berjalan mendekati Marcel. Marcel sama sekali tak menolak dengan apa yang Jingga lakukan pada dirinya.
Jingga memapah Marcel untuk duduk diatas brangkar. Jazira tersenyum tipis melihat interaksi antara Marcel dan Jingga. Jingga yang memang sudah lapar pun segera meninggalkan Marcel dan mengambil makanan yang telah disiapkan oleh Jazira.
"Zi, Kak Marcel mau makan." Ucap Marcel sambil menatap Jazira yang sedang membuka box makanan milik Marcel. Zizi pun hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan mendekati Marcel.
Tanpa diminta oleh Marcel, Zizi pun segera menyuapi Marcel. Hal tersebut bertahan sampai beberapa suapan, hingga tiba di suapan ke lima Zizi segera menghentikan kegiatannya. Dia merasa jika ada seseorang yang mengintainya dari kejauhan.
Zizi memutuskan untuk melihat apakah ada orang diluar. Saat membuka pintu ruangan milik Marcel, dia tak menemukan seorang pun diluar sana. Akhirnya dia berjalan masuk kembali.
"Kenapa Kak Zi?" tanya Jingga karena melihat gelagat aneh kakak iparnya. Zizi hanya tersenyum kaku lalu menggelengkan kepalanya. Saat Zizi hendak mengambil makanan milik Marcel kembali, tetapi hal tersebut ia gagalkan karena dering di ponselnya.
Zizi mengernyit heran karena nomor yang menghubunginya adalah sang suami. Dengan cepat Zizi pun segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, ada apa?" sapa Zizi mencoba berbaik hati pada laki-laki buaya diseberang sana. Hening. Tak ada jawaban dari seberang sana. Zizi pun hanya mampu menatap layar ponsel, memastikan bahwa panggilannya bersama sang suami masih menyambung.
"Cepat pulang sekarang! Jika dalam 20 menit kau tak tiba dirumah, maka kupastikan ketika kau pulang maka barang-barangmu akan ada di luar!" titah Albirru lalu mematikan sambungan teleponnya.
Zizi yang terkejut dengan perkataan sang suami pun segera mengambil tas serta berpamitan kepada Marcel dan Jingga.
__ADS_1
"Kak Marcel, Zizi pamit pulang dulu ya? Kak Marcel masih ada temennya kok, kalau ada apa-apa minta tolong ke adik ipar Zizi aja ya?" pamit Zizi kepada kakaknya. Setelah itu, Zizi beralih menuju sang adik ipar yang sedang asyik dengan makanannya.
"Ngga, Kak Zizi pamit pergi sebentar ya? Nanti kalau udah selesai Kak Zizi segera balik kesini. Kamu bantuin Kak Marcel selesaikan makannya dulu ya? Nggak apa-apa kan?" ujar Zizi tak enak kepada Jingga.
Dengan senang hati Jingga hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa makanannya menuju brangkar milik Marcel. Jazira yang melihat hal tersebut pun segera keluar dari ruangan Marcel lalu berlari kecil keluar rumah sakit.
Ya Tuhan, ada masalah apa lagi ini. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan tadi? Aishh, dasar suami gila! Mana ada sono sini 20 menit, dia kira aku pakai pesawat? Batin Jazira sambil menghentikan ojek online yang baru saja lewat didepannya.
******
Sesampainya Zizi dirumah, dia segera memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Dia takut akan terjadi sesuatu dengan pernikahannya yang masih dapat dihitung dengan hitungan jari.
Dia berjalan memasuki kamar sang suami, dan benar saja ada suaminya disana. Dia mendekati Albirru lalu bertanya menganai apa yang sebenarnya terjadi.
Albirru sama sekali tak menjawab pertanyaan Jazira, dia hanya melemparkan ponselnya kearah Zizi. Mungkin saja jika Zizi tak sigap untuk menangkapnya, hp mahal tersebut akan terjun bebas kelantai.
Zizi hanya mengerutkan keningnya karena melihat potret dimana dirinya sedang menyuapi Marcel. Zizi yang bingung akan maksud sang suami pun mendongakkan kepalanya, menatap sang suami.
"Lalu?" tanya Jazira sekali lagi yang membuat Albirru geram.
"Apakah kau masih tak paham?! Mau dibagaimanakan jika perempuan murahan, akan tetap murahan! Sekalinya jal*ng tetaplah jal*ng!" bentak Albirru dengan netra tajam yang mengarah pada sang istri.
"Wait, apa salahku hah?! Kenapa kau sampai memanggilku dengan sebutan itu lagi?! Jika kau ada masalah biasakan untuk dibicarakan dengan baik-baik, bukan dengan cara bar-bar seperti ini. You not a childern!" jawab Jazira dengan nada yang tak suka.
"Dengan foto itu, sudah jelas jika kau selingkuh dibelakangku!" bentak Albirru tak terima yang membuat Jazira terperangah. Kapan dia selingkuh? Batin Jazira bingung.
__ADS_1
"Wait, answer my question please! Kau mendapat foto ini darimana?" tanya Jazira mencoba ingin tahu siapa orang yang telah menjadi paparazi untuk dirinya. Namun apa yang Zizi lakukan barusan sangatlah salah, dengan bertanya seperti itu seolah-olah Zizi memang selingkuh dibelakang Albirru.
"Nggak penting foto itu dari mana! Yang terpenting adalah kau telah selingkuh dibelakangku! Entahlah bagaimana Johan memilih wanita untuk menjadi istriku. Dari sekian banyak wanita murahan, kenapa kau yang terpilih?!" ujar Albirru yang sangat menyakiti hati Jazira.
"Kau bilang aku selingkuh? Padahal kau sendiri yang dengan terang-terangan memiliki kekasih meskipun kau sudah menikah? Ini ceritanya maling teriak maling, gitu?" jawab Jazira dengan nada yang mulai merendah, dia berusaha untuk tetap tenang didepan buaya darat ini.
"Berbeda lagi jika dengan Larina! Jangan kau samakan Larina dengan dirimu!" sergah Albirru yang tak ingin jika Larina diseret-seret dalam hal ini.
"Oh jelas berbeda! Kau memang tak tahu malu, jadi kau bebas berhubungan atau melakukan apapun dengan kekasihmu itu. Sedangkan aku? Aku hanya seorang istri bayaran yang jika ada kesalahan, tak diberi kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya!" jawab Zizi dengan nada yang mulai bergetar.
"Tidak bisakah kau berpikir? Bagaimana perasaanku sebagai istrimu, saat tahu kau masih memiliki kekasih setelah menikah hah?! Tidak pernah terfikirkan bukan?" lolos sudah air mata yang Zizi tahan sedari tadi.
"Kau boleh melakukan hal tidak senonoh dengan Larina. Tapi dengan satu syarat! Jangan lakukan dirumah ini! Setidaknya hargai aku sebagai istrimu, Mas! Rumah ini adalah rumah keluarga kita, KELUARGA KITA!" ucap Zizi hilang kesabaran.
"Mungkin aku masih bisa bersabar, Mas. Tapi entahlah dua hari atau empat hari kedepan! Aku yakin siapapun wanitanya, jika terus seperti ini pasti dia tidak akan kuat!" lirih Jazira dengan air mata yang masih menetes.
"Setidaknya beri waktu Zizi selama 10 bulan untuk menjadi istri yang layak untukmu, Mas! Hanya 10 bulan saja tanpa kemesraanmu dengan Larina, apakah kau bisa?" pinta Jazira sambil menundukkan kepalanya. Dia marasakan pening yang mendera kepalanya.
"I don't know!" jawab Albirru tegas yang membuat Jazira memejamkan matanya serta menghirup nafasnya dalam-dalam.
"Baiklah, kita bercerai saja!" ujar Jazira damai setelah menguatkan dirinya sendiri agar kata-kata tersebut keluar dari mulutnya.
*****
Alhamdulillah finish, jangan lupa like dan komen ya kak. Iyi Gecerler! All❤.
__ADS_1