ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 93


__ADS_3

Sudah like dan komen bab diatas? Terimakasih jika sudah😘


Sementara di sebuah ruang rawat inap kelas VVIP, seorang perempuan yang telah tertidur selama beberapa jam itu mulai mengerjapkan matanya. Perlahan namun pasti, matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit dan dirinya mulai melihat langit-langit ruangan yang di dominasi warna putih itu.


Jazira pun menolehkan kepalanya ke samping dan dirinya terbatuk, yang mengakibatkan rasa nyeri kembali timbul dari perutnya yang yang baru saja di koperasi. Sontak Jazira pun meletakkan tangannya di bagian bawah bekas jahitan sembari melipat bibirnya ke dalam untuk menahan batuknya.


Namun entah karena faktor apa, dirinya batuk berkali-kali yang membuat rasa sakit itu kembali hadir di perutnya. Jazira yang kesakitan pun meringis dengan suara tertahan sembari menekan bagian bawah perutnya untuk mengurangi rasa nyerinya.


Seseorang yang berada di ruangan tersebut pun mulai terbangun dari tidurnya karena mendengar suara batuk dari Jazira dan menetap terkejut kepada wanita yang tengah melawan rasa sakitnya itu.

__ADS_1


"Maira! Kamu kenapa, Ra?!" pekik Albirru terkejut sembari berjalan cepat mendekati brankar rawat milik sang istri. Jazira yang melihat sang suami berjalan mendekati dirinya pun mengulurkan tangan kanannya kepada sang suami, seolah memberi isyarat bahwa dirinya membutuhkan bantuan sang suami.


"Pegang tangan Mas, Ra," ujar Albirru yang tanggap akan kondisi sang istri. Jazira yang diberi uluran tangan dari sang suami pun langsung menautkan jari-jari mungilnya di tangan besar milik sang suami dan mencengkeram erat jari milik sang suami.


"Akh! Sakit!" pekik Jazira sembari menggelengkan kepalanya karena sakitnya. Setetes air mata pun langsung mengalir tatkala rasa sakitnya tak kunjung hilang.


"Minum dulu, Ra. Mas bantu kamu ya?" usul Albirru yang diangguki oleh Jazira. Albirru pun mengambilkan gelas bening yang berisi air di samping nakas sang istri lalu membawa sedotan yang dapat di tekuk itu ke bibir ranum milik Jazira.


Jazira pun menhela napas nya panjang lalu mulai melepaskan tautan jemari tangannya dari sang suami. Ada rasa tak rela yang datang menghampiri Albirru tatkala Jazira menarik jemarinya dari genggaman tangannya.

__ADS_1


"Makasih," ujar Jazira sekenanya setelah kembali memejamkan matanya sembari menghembuskan napasnya perlahan. Albirru sama sekali tak merespon ucapan terimakasih dari sang istri.


Tangan besar laki-laki itu terangkat untuk mengelus puncak kepala milik sang istri dengan penuh kasih sayang. Albirru juga menyeka keringat yang tadi sempat keluar saat Jazira menahan rasa sakitnya.


"Maafin Mas ya, Ra? Semua yang terjadi sama kamu dan putri kecil kita itu salah Mas Albi. Andai Larina dulu nggak selicik itu dan aku nggak sebodoh itu, mungkin kamu nggak akan kesakitan seperti sekarang ini. Aku cuma minta supaya kamu tetep bertahan sama aku ya, Ra? Kita mulai semua dari awal lagi, kita harus terus bersama untuk Arasa." Albirru mengeluarkan keluh kesahnya pada sang istri yang masih memejamkan matanya.


Perlahan, Jazira mulai membuka kedua matanya yang masih basah akan air mata dan menatap netra indah milik suaminya.


"Kamu baru sadar sekarang Mas? Jangan kan saat kamu lebih milik Larina dan bayi tak bersalah itu, bahkan sejak awal pertama kita menikah aku sudah menderita, Mas. Aku masih bertahan hingga saat sebelum aku pergi karena apa? Karena rasa cinta mulai membutakan Jazira yang dulu. Tapi sekarang? Kau meminta ku untuk bertahan, tetapi keputusanku untuk pergi dariku sudah bulat," jawab Jazira yang membuat Albirru menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Saat dimana Arasa meninggalkan mu sangat jauh, maka disaat itu pula aku pun akan pergi," ujar Jazira seolah mendapat sebuah firasat buruk tentang putri kecilnya.


Jangan lupa tinggalkan Jejak supaya Kayenna cepat up lagi...


__ADS_2