
Selesai menghadiri persidangan milik Larina, semua orang yang berada di ruangan tersebut pun keluar dari ruang sidang secara bergantian. Jazira yang sedari tadi duduk di sebelah Albirru pun mulai bangkit dari duduknya.
Wanita tersebut ingin sekali menuju kamar mandi karena panggilan alam yang mendatanginya. Veno dan marcel yang tiba-tiba mendapat panggilan dari kantor pun langsung meminta kepada Jingga untuk menjaga Jazira.
"Kak Marcel sama Kak Veno pergi dulu ya, Ngga? Nanti kalau pulang naik taksi online ya?Kirim nomor plat nya ke Kak Marcel sebelum naik, oke?" ujar Marcel sambil mencium kening milik Jingga yang langsung diangguki oleh Jingga.
Setelah kepergian Marcel, Jazira pun berjalan Jingga lalu mengatakan bahwa dirinya hendak ke kamar mandi. Jingga pun menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi tunggu yang ada di ruangan tadi sembari menatap Jazira yang telah pergi berjalan menuju kamar mandi .
Sedangkan Albirru yang melihat sang istri pergi sendiri pun berjalan mengikuti istrinya tersebut tanpa sepengetahuan Jazira. Terlebih lagi ketika dirinya melihat orang yang duduk di depannya tadi berjalan mengikuti Jazira.
Setelah Jazira tiba di toilet perempuan yang ada di gedung itu, Jazira pun segera masuk ke toilet tersebut tanpa tahu bahwa wanita yang duduk di sebelah Veno tadi juga ikut masuk ke kamar mandi. Jazira pun segera menuntaskan acara buang hajatnya lalu segera keluar dari kamar mandi setelah selesai.
Betapa terkejutnya Jazira ketika seseorang berpakaian serba hitam yang tangan menundukkan kepalanya itu.
"Permisi. Bisakah kau sedikit? Aku ingin keluar," ujar Jazira sembari mengelus perutnya. Wanita tersebut pun mendongakkan kepalanya dan segera melepas topi hitam yang melekat di kepalanya.
Betapa terkejutnya Jazira ketika melihat orang tersebut memiliki wajah yang mirip dengan Larina. Jazira yang sedikit takut pun sedikit memundurkan langkahnya ke belankang yang membuat wanita itu tersenyum miring. Wanita itu melepaskan topi nya dan segera melemparnya asal.
"Kau puas setelah melihat Larina mendekam di balik jeruji besi? Bukankah ini yang kau mau?" tanya wanita tersebut yang membuat Jazira segera menggelengkan kepalanya. Wanita itu berjalan mendekati dan Jazira dan menyentuh sedikit perut milik Jazira yang membuat ibu hamil itu segera menepis tangan milik Jazira.
__ADS_1
"Jazira Altamaira Alexander, seorang gadis yatim piatu yang Albirru tawarin untuk menikah kontrak dengan dirinya karena sebuah skandal yang menerpa dirinya. Hmm, apakah ini adalah anak sial*n yang Larina katakan padaku?" ucap wanita itu sembari menarik tangan Jazira agar keluar dari dalam toilet.
"Selain kau telah menghancurkan hidup Larina, kau juga telah merebut cintaku!" seru wanita itu yang membuat Jazira mengernyitkan dahinya bingung. Ada masalah apa dirinya dengan wanita tersebut sehingga warna tersebut mengatakan hal itu kepada dirinya.
"Siapa kau? Dan kenapa kau mengatakan hal itu kepada diriku? Bahkan aku sama sekali tidak mengenalmu," ucap Jazira dengan nada yang takut sembari mencengkeram erat pinggiran wastafel yang ada di belakangnya.
Wanita tersebut pun mengeluarkan tawa jahatnya persis seperti Larina ketika berada di ruangan tadi. Jazira semakin mencengkram erat bagian pinggir wastafel itu yang membuat wanita dengan wajah mirip dengan Larina itu tertawa semakin keras.
"Aku bersumpah! Anak yang ada di kandungannya ini tak akan bisa terlahir ke dunia dengan selamat! Tunggulah saat itu tiba! Dan dapat aku pastikan bahwa saat itu datang tak akan lama lagi!" bentak wanita itu yang benar-benar membuat Jazira ketakutan.
"Apakah kini kau tengah mengancamku? Tidak ada makhluk yang dapat memutuskan bagaimana takdir dan kehidupan seseorang, kecuali jika makhluk itu sejenis iblis jahat yang tak memiliki hati!" ujar Jazira tegas sang lagi-lagi membuat wanita itu tertawa keras.
"Kau tak bisa mendahului takdir! Ku bukan Tuhan yang bisa mengetahui bagaimana hidup seseorang kedepannya!" seru Jazira sambil menghempaskan tangan wanita itu yang berada di lengannya.
Setelah berhasil terlepas, Jazira pun segera pergi menjauhi wanita tadi dengan melewatinya begitu saja. Namun belum tangannyaa menyentuh hendel pintu, wanita tersebut menjambak rambutnya dan menariknya ke belakang yang membuat Jazira meringis kesakitan.
"Kau dengar ini baik-baik! Aku tak akan pernah membiarkan kau dan Albirru hidup bahagia bersama anak sial*n ini! Tunggu saja kehadiranku! Dengan kedatanganku, akan ku pastikan jika anakmu akan pergi bersama denganku! Bahkan dengan kau sekalian! Dasar wanita brengs*k!" bentak wanita itu dengan nada tingginya sembari membenturkan kepala Jazira ke tembok yang ada di hadapannya.
"Aakh!" pekik Jazira sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri dengan pandangan yang sedikit mengabur. Terlihat wanita tadi berjalan keluar dari kamar mandi begitu saja, meninggalkan Jazira yang berusaha sekuat mungkin untuk tak tumbang di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Albirru yang melihat wanita misterius tadi keluar dari kamar mandi pun segera masuk ke dalam kamar mandi karena mendengar pekikan dari Jazira. Tak peduli dia yang kini tengah masuk ke kamar mandi perempuan.
Akhirnya setelah melihat Jazira hendak terjatuh pun segera menopang tubuh milik sang istri.
"Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Albirru dengan nada khawatirnya yang membuat Jazira sedikit tenang karena adanya sang suami. Jazira hanya menggelengkan kepalanya sembari menempelkan telapak tangannya ke dahi.
Albirru yang mencium aroma tak baik-baik saja dari sang istri pun segera mengangkat tubuh sang istri untuk keluar dari kamar mandi tersebut.
Jazira yang sedikit takut karena Albirru menggendongnya pun mencoba meminta kepada sang suami untuk menurunkannya. Namun bukan Albirru namanya jika dirinya tak keras kepala. Ya semua sifat Albirru telah berubah, kecuali satu hal. Kekeras kepalaannya sama sekali tak memudar walau hanya satu persen saja.
"Tenanglah. Aku tak akan membiarkan istri serta putri kecilku sampai terjatuh. Kita akan segera keluar dari sini. Aku sedikit merasa was-was dengan wanita yang mengikutimu tadi," ujar Albirru tanpa menatap wajah sang istri.
Albirru pun segera berjalan menuju tempat Jingga duduk. Akhirnya setelah mereka berdua tiba di depan Jingga. Jingga pun mendongakkan kepalanya dan terkejut karena melihat sang kakak ipar yang berada di gedongan kakak kandungnya.
"A ... apa yang terjadi?" tanya Jingga dengan paniknya sembari bangun dari duduknya. Albirru sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Jingga dan berjalan melewati sang adik begitu saja, yang membuat Jingga menatap penuh kesal pada kakaknya tersebut.
"Arah jarum tiga," ujar Albirru setengah berbisik yang membuat Jingga menolehkan kepalanya ke samping kanan yang membuat Jingga sedikit curiga.
Maafkan cerita yang kurang nyambung dan acak-acakan ini ya Mam semua...
__ADS_1