ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 46


__ADS_3

"Biarkan sampah yang pernah kau pungut ini pergi. Biarkan seonggok sampah ini mundur dengan penuh hormat, daripada harus pergi dengan penuh penghinaan karena usiranmu," ucap Jazira yang langsung disambut dengan gelengan kepala dari Albirru.


"Aku bisa menuntutmu karena kau melanggar kesepakatan kontrak kita, dan bisa saja kau dikenai denda perkara hal itu!" cegah Albirru dengan nada tingginya yang sama sekali tak dihiraukan oleh Jazira.


Wanita yang sedari tadi berdiri di hadapan Albirru itu pun menerima uluran tangan dari Jingga dan segera melangkah pergi sebelum Albirru kembali mencegah kepergian mereka.


"Jika perlu kau melakukan hal itu, lakukan saja. Karena hal itu sama sekali tak akan membuatku untuk mengurungkan niatku." Jazira mengatakan hal tersebut sambil terus berjalan mengikuti langkah Jingga.


Albirru yang tak ingin menurunkan harga dirinya karena mengejar seorang wanita pun hanya dapat menatap dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya berjalan menjauh. Tangan besar itu mengepal erat dengan rahang yang telah mengerat.


"Kau tak akan bisa lari dariku, Ra!" lirih Albirru sambil menatap tajam Jazira dan Jingga yang telah menjauh dari pintu rumahnya. Larina yang melihat hal tersebut pun berjalan mendekati Albirru, seolah-olah dirinya mendapat kesempatan untuk menghibur dan menggantikan posisi Jazira.


Sepertinya apa yang dia inginkan tercapai, terlihat dari Albirru yang menatapnya penuh arti. Larina yang telah menemani Albirru selama beberapa tahun pun mengerti apa arti dari tatapan sang kekasih.


"Layani gue sekarang!" ujar Albirru dengan nada beratnya sambil menggendong tubuh Larina yang sedikit membesar. Larina tersenyum penuh kemenangan lalu mengacungkan kedua lengannya di leher milik Albirru.


"Seperti yang kau minta, Sayang!" ujar Larina dengan manja sambil mendekatkan wajahnya menuju wajah tampan milik Albirru yang telah memerah sejak tadi. Benar saja, belum berapa lama bibir mereka telah menempel satu sama lain.


Setelah itu, Albirru pun segera membawa Larina menuju kamar bawah. Mbok Sum serta Johan yang melihat hal tersebut pun hanya menggelengkan kepalanya. Apakah Albirru sama sekali tak merasa bersalah? Seperti itulah yang ada dibenak dua orang ya g tengah berdiri di dekat pintu dapur.


"Sejak dulu tuan muda akan melampiaskan kemarahan ke dua hal. Hanya mabuk dan ****. Tak akan pernah luput dari dua hal itu," ujar Johan tanpa menolehkan kepalanya yang langsung diangguki oleh Mbok Sum yang tengah menatap Johan.


"Hmm, sangat berbeda dengan tuan besar dulu." Mbok Sum menimpali apa yang Johan katakan. Mereka berdua masih menatap Albirru serta Larina yang baru saja telah menghilang dibalik pintu kamar milik Albirru yang selama ini digunakan untuk tidur bersama dengan Jazira.

__ADS_1


Sementara Jazira dan Jingga yang telah berada di luar rumah milik Albirru pun berhenti berjalan sesuai perintah dari Jingga. Jazira menatap sang adik yang tengah mengambil ponselnya dari dalam tas dengan sebelah tangan yang masih menggandeng tangannya.


"Kita mau pergi kemana, Ngga? Daripada kita pusing-pusing, mending kita pakai apartemen punya ayah Kak Zizi aja yuk?" ajak Jazira yang membuat Jingga menolehkan kepalanya setelah menempelkan ponselnya di telinga. Jingga pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Gua sama Kak Zizi udah berhasil keluar dari rumah si bejat itu," ujar Jingga yang membuat Jazira mengernyitkan dahinya bingung. Jazira yang kepo pun mencoba bertanya kepada Jingga dengan menaikkan kedua alisnya.


Namun, gelengan kepala dari Jingga membuat wanita itu kembali menundukkan kepalanya. Dia masih menatap tangan mungilnya yang berada di genggaman tangan sang adik ipar.


Lama Jazira berdiam diri dengan posisi itu, hingga kepalanya kembali mendongak ketika mendengar perkataan Jingga untuk menunggu sebentar sebelum orang yang tadi dia telepon datang. Jazira pun menganggukkan kepalanya kembali menundukkan kepalanya.


Tak lama setelah itu, sebuah mobil mewah dengan warna hitam metalic berhenti di depan keduanya. Jazira menatap Jingga yang tengah menatapnya pula lalu menganggukkan kepalanya. Jingga menggandeng tangan milik Jazira dan berjalan mendekati mobil mewah tersebut.


Belum sampai mereka disana, seorang laki-laki dengan kemeja yang digulung hingga lengan serta rambut yang sedikit berantakan keluar dari mobil yang membuat Jazira sedikit terkejut. Bagaimana Marcel bisa berada di hadapannya dan Jingga kali ini.


"Langusng masuk aja ya? Gue angkatin koper kalian," ujar Marcel dengan singkat sambil membuka bagasi mobilnya dan memasukkan koper milik dua wanita yang ada di hadapannya.


Jazira pun mengikuti apa yang dilakukan sang adik ipar, karena gadis itu masih saja menarik tangannya hingga mereka berdua tiba di dalam mobil mewah milik Marcel. Setelah memakai seatbelt mereka masing-masing, keduanya menunggu Marcel masuk ke dalam mobil.


hingga tiba di mana Marcel masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di belakang kemudi lali memakai seatbeltnya.


"Kita mau kemana? Kalau bisa anter kita berdua ke apartemen punya ayah aja, Kak." Jazira bertanya kepada Marcel setelah melihat sang kakak tiri yang entahlah apakah dia masih bisa menganggapnya sebagai kakak tiri atau tidak.


Marcel yang mendengar pertanyaan dari Jazira pun menolehkan kepalanya dan membalikkan sedikit badannya menghadap dua wanita cantik yang berada di belakangnya. Marcel menggelengkan kepalanya sambil menatap keduanya.

__ADS_1


"Kita akan flight ke London sore ini. Jadi kita langsung berangkat ke bandara sekarang, cause gue udah siapin semuanya," ujar Marcel yang membuat Jingga dan Jazira saling menatap satu sama lain.


"Kenapa jauh banget, Kak? Nggak mending ke apartemen ayah aja? Soalnya apartemen punya ayah juga nggak dipakai," usul Jazira yang kembali membuat Marcel menggelengkan kepalanya.


"Gue tahu, kalau suami lo nggak akan biarin lo pergi gitu aja dari dia. Dia pasti akan cari lo sampai kemanapun dengan bantuan anak buahnya. Bahkan belum sampai sehari, dia akan tahu kalau kalian ada di apartemen milik orang tua lo," jawab Marcel yang membuat Jazira dan Jingga tersadar bahwa Albirru bukanlah orang yang bodoh, yang akan membiarkan wanita yang dia cintai serta adik perempuan satu-satunya pergi meninggalkannya begitu saja.


"Oh ya, paspor kalau kalian udah dibawa?" tanya Marcel yang yang membuat Jazira ingat pasportnya berada di kamar atas. Namun Jingga yang memang sudah mengambil map berisi surat penting miliknya pun hanya menganggukkan kepalanya. Berbeda dengan Jazira yang tengah menggelengkan kepalanya.


"Zizi mau balik ke dalam dulu ya, Kak? Mau ambil pasport dulu, takutnya kalau nggak bawa pasport nggak bisa pergi," ujar Jazira yang langsung diangguki oleh Marcel sedangkan disambut gelengan kepala oleh Jingga.


"Jangan Kak! Jingga yakin, kalau Kak Zizi masuk, pasti ada tuh yang berusaha biar Kak Zizi nggak boleh pergi. Mending Jingga aja ya, atau kita panggil Mbok Sum buat ambilin?" ujar Jingga mencoba memberi usul.


"Nggak usah, Ngga. Lagian cuman ngambil pasport doang kan? Kak Zizi janji bakal langsung balik lagi. So, nggak usah manja lah. Biar Kak Zizi aja yang ambil." Jazira mengatakan hal tersebut sambil melepas seat beltnya lalu berjalan keluar mobil, meninggalkan Marcel dan Jingga yang menatap kepergian Jazira.


"Tapi percuma Kak kalau kita pergi pakai pesawat reguler. Dia juga bakal gampang cari riwayat penerbangan punya Kak Zizi," ujar Jingga setelah melihat Jazira menghilang di balik pintu besar berwarna putih di rumah milik kakaknya. Marcel menolehkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya perlahan dengan bibir yang tersenyum miring.


"Gue nggak sebodoh itu Ngga buat ngelakuin hal yang bisa dikatakan gegaba itu. Gue akan bawa kalian berdua dengan jet pribadi gue, karena emang gue ditugasin sama ayah buat ngurus perusahaan yang di London. Jadi sekalian gue bakal bawa kalian berdua," ucap Marcel yang membuat Jingga menganggukkan kepalanya.


Sementara Jazira yang telah memasuki rumah milik sang suami pun mulai menghela nafasnya lega karena tak melihat sang suami serta Larina lagi. Tak membuang waktu lama, Jazira pun segera berjalan cepat menuju tangga yang akan membawanya ke lantai atas.


Belum genap tiga anak tangga yang Jazira tapaki, seketika langkah Jazira pun terhenti dengan tubuh yang menegang. Ketika samar-samar, pendengarannya menangkap suara yang membuat jantungnya berdegub dengan kencang.


Jazira terkejut ketika dirinya mendengar ******* panas yang berasal dari kamar sang suami.

__ADS_1


...• Jangan Lupa Bersyukur •...


__ADS_2