
Perlahan namun pasti netra milik gadis yang masih terbaring lemas itu mulai terbuka. Dan Jazira sedikit menyipitkan matanya ketika cahaya yang masuk menyapa matanya terlalu terang. Tiba-tiba sebuah tangan mungil menutupi bagian atas matanya agar dapat membuka matanya dengan leluasa.
"Kak Zizi sudah bangun?" tanya Jingga lembut yang membuat Jazira menatap sayu wajah cantik sang adik yang terlihat bersinar. Perlahan, Jazira pun menganggukkan kepalanya. Jazira sama sekali tak bisa banyak bergerak karena dirinya benar-benar tak memiliki tenaga saat ini.
"Kak Zizi ada di mana, Ngga?" tanya Jazira dengan lirihnya yang membuat Jazira tersenyum lebar. Gadis itu mengelus perut rata milik Jazira yang membuat Jazira mengernyitkan dahinya.
"Jaga ponakan Jingga baik-baik ya, Kak? Jingga nggak sabar pengen ketemu sama dia," ujar Jingga yang membuat Jazira diam mematung. Nafasnya sedikit tercekat saat mendengar penuturan dari Jingga.
Jazira pun menatap penuh pertanyaan kepada Jingga, mencoba meminta jawaban kepada Jingga apakah yang dia dengar tersebut benar-benar terjadi atau hanya bercanda.
"Dia benar-benar hadir, Kak. Dia hadir ditengah-tengah kita semua," jawab Jingga yang membuat Jazira benar-benar terkejut. Tak terasa setetes air mata jatuh di kedua mata milik wanita yang masih terkulai lemah tersebut.
"Are you serious, Ngga? Oh my God, i don't believe this," ujar Jazira dengan isak tangisnya sembari mengelus perutnya. Jingga yang melihat sang kakak menangis pun memeluk erat tubuh ringkih milik Jazira.
"Selamat ya Kak Zi, Jingga bener-bener bahagia mendengar kabar ini," ucap Jingga yang langsung diangguki oleh Jazira. Jazira pun memeluk tubuh sang adik yang tengah memeluknya sembari berdiri itu.
"Zizi udah boleh pulang hari ini, Ngga. Tapi setelah habis infusnya dulu, biar dia juga ada nutrisi," ujar Marcel dengan percaya dirinya tanpa melihat adegan mellow yang ada di hadapannya.
Marcel yang datang bersamaan dengan Veno pun membuat Jingga menarik tubuhnya dari Jazira. Marcel yang baru tersadar bahwa Jazira telah siuman pun segera berjalan cepat mendekati keduanya.
__ADS_1
"Lo udah baik-baik aja kan, Zi?" tanya Marcel sambil berdiri di sebelah Jingga. Jazira pun hanya menganggukan kepalanya yang membuat Marcel sedikit tenang.
"Jazirah Arab! Akhirnya kau bunting juga!" seru Veno heboh yang membuat Marcel menggelengkan kepalanya. Veno berjalan mendekati Jazira dan menatap sahabat masa kecilnya yang telah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Akhirnya Veno pun berbicara panjang kali lebar bersama Jazira yang membuat Marcel dan Jingga dapat beristirahat. Dua orang tersebut berjalan menuju sofa yang menghadap langsung ke brankar milik Jazira dan duduk bersebelahan.
Marcel sedikit memejamkan matanya dengan kepala yang yang disandarkan di bagian belakang sofa berwarna coklat tua itu. Jingga yang melihat Marcel kelelahan pun menghadapkan tubuhnya kepada Marcel. Kedua tangan mungilnya terangkat untuk memijat perlahan kepala laki-laki tersebut.
"Sekarang, apa yang kamu rasain, Ar?" tanya Veno kepada sahabat kecilnya tersebut. Jazira pun menghembuskan nafasnya perlahan lalu menatap netra indah milik Veno.
"Aku takut Mas Birru nggak ngakuin kalau ini anaknya," ujar Jazira lirih yang membuat Veno menajamkan pandangannya kepada Jazira.
...*****...
Sedangkan di sebuah rumah mewah, seorang laki-laki yang sedari tadi masih tertidur pun tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena dirinya merasa sangat mual. Laki-laki tersebut pun segera berjalan menuruni ranjangnya dan segera memasuki kamar mandi untuk menyalurkan rasa mualnya.
Kali ini Albirru benar-benar merasakan mual yang menyerang perut serta ulu hatinya. Laki-laki tersebut berdiri di depan wastafel sembari membungkukkan badannya, karena dirinya merasakan mual yang tak kunjung berhenti.
Mbok Sum yang memang baru membersihkan lantai atas pun terkejut keran mendengar suara tuan mudanya mual-mual. Mbok Sum pun segera masuk ke kamar milik Jazira dan berjalan masuk ke kamar mandi, tempat sang tuan muda saat ini.
__ADS_1
"Ya Allah, Den Albi!" seru Mbok Sum saat melihat Albirru yang telah bersandar pada dinding kamar mandi karena merasa sangat lemas. Dengan segera Mbok Sum pun berjalan mendekati Albirru dan berusaha membantu agar Albirru dapat berjalan kembali ke atas kasur.
Setelah tiba di atas kasurnya Albirru pun merebahkan dirinya yang terasa lemas dan membiarkan Mbok Sum menyelimuti dirinya kembali. Albirru pun kembali memejamkan matanya sembari menghirup nafasnya panjang-panjang.
"Den Birru kenapa? Den Birru minum lagi?" tanya Mbok Sum yang membuat Albirru membuka matanya kembali. Albirru pun menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan yang masih tertuju pada wanita yang telah membesarkannya itu.
"Mbok Sum tahu sendiri kan kalo Albi nggak pernah minum lagi sejak sebulan terakhir? Nggak tahu kenapa Mbok, tiba-tiba kebangun dan perut rasanya udah nggak enak dan mual banget," jawab Albirru terus terang yang membuat Mbok Sum menganggukkan kepalanya.
Memang Mbok Sum akui, satu bulan terakhir ini banyak sekali perubahan yang terjadi pada tuan mudanya tersebut. Kini Albirru hidup lebih teratur tanpa melampiaskan amarahnya pada minuman dan terlalu dekat dengan Larina. Kini Albirru benar-benar kembali menjadi sosok Albirru dulu yang terkenal dengan sifat dingin dan datarnya.
"Atau mungkin karen Larina lagi hamil ya, Mbok? Jadi morning sickness nya baru ke Albi sekarang?" tanya Albirru konyol yang langsung membuat Mbok Sum membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya cepat.
"Nggak! Anak yang Larina kandung bukanlah anak Den Albi, ini semua hanya jebakan si wanita ular itu. Percayalah sama Simbok, Den. Den Albi ingat ketika Den Albi lihat Mbok Sum di pintu belakang? Saat itulah Mbok Sum tahu segalanya," ucap Mbok Sum yang membuat Albirru sedikit terkejut.
Jadi selama ini apa yang dia pikirkan ternyata adalah sebuah fakta.
"Albi percaya sama apa yang Simbok katakan. Tapi Albi akan menunggu beberapa bulan lagi sampai Albi bisa tahu siapa bapak dari anak itu. Bukan perkara apapun Mbok, Albi cuma takut jika ternyata anak itu benar-benar anak Albi. Soalnya Albi dulu dengan bodohnya pernah melakukan hal tersebut bersama Larina. Albi takut dia bakal bawa anak Albi pergi nanti," jawab Albirru yang membuat Mbok Sum sedikit kecewa.
Lama mereka berdua saling berdiam diri, akhirnya pertanyaan dari Mbok Sum membuat Albirru terkejut dan memikirkan hal tersebut dua kali.
__ADS_1
"Kalau morning sickness nya datang dari Non Maira, gimana Den?" tanya Mbok Sum yang membuat Albirru terkejut.