ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 82


__ADS_3

"Anak gue, Cel. Dia baru delapan setengah bulan," ujar Albirru sembari menutup wajahnya dengan tangan besarnya. Albirru membenturkan kepala bagian belakangnya dengan tembok pembatas antara dirinya dan Jazira itu dengan tangis yang membasahi pipinya.


"Lo baru nyesel sekarang? Kemana lo selama ini, hah?! Istri lo usaha sendiri buat jaga anak lo yang bahkan detak jantungnya hampir tak terdengar ketika USG. Kemana lo, hah?! Dan sekarang lo baru bingung setelah pilihan yang lo pilih?" ujar Marcel yang duduk di hadapan Albirru.


Albirru pun menjambak rambutnya sendiri dengan penyesalan yang datang bertubi-tubi dalam dirinya. Andai dirinya tak memutuskan hubungannya dengan Jessica secara sepihak dan tak bermain api diatas ikatan suci mungkin semua ini tak akan terjadi.


"Gue nyesel, Cel," bisik Albirru dengan tangisannya yang semakin menjadi. Marcel yang telah menjalin persahabatan lama dengan Albirru pun sedikit merasa iba dengan apa yang menimpa kehidupan rumah tangga sang sahabat dan adik tirinya.


"Tangisan lo nggak akan ngubah segalanya. Cukup lo berdoa sama Tuhan, supaya anak dan istri lo selamat semua. Nggak akan ada yang nggak mungkin di dunia ini jika Tuhan telah berkehendak," ujar Marcel yang sama sekali tak membuat Albirru sedikit tenang.


Laki-laki itu kembali menangisi kebodohannya karena telah menyia-nyiakan Jazira. Wanita sempurna yang telah mengorbankan hidupnya untuk menjadi istri kontraknya.


"Gue emang bodoh! Gue sia-siain Maira buat cewek brengs*ek itu!" seru Albirru sembari meratapi kebodohannya.


...*****...


Akhirnya setelah menunggu beberapa jam lamanya akhirnya beberapa perawat mendorong brankar milik Jingga keluar dari ruangan yang tepat berada di sebelah ruangan Jazira. Marcel yang melihat hal tersebut pun segera beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah para perawat tersebut setelah berpamitan pada Albirru.


Sedangkan Albirru, dirinya masih menunggu informasi tentang sang istri serta anaknya. Dan setelah menunggu beberapa saat lamanya, akhirnya seorang suster keluar dari ruangan tersebut yang membuat Albirru ketakutan.

__ADS_1


Albirru benar-benar merasa takut mendengar apa yang akan perawat tersebut sampaikan padanya.


"Selamat Tuan Albirru, putri Anda lahir dengan selamat dengan bobot 2,05 kg serta istri Anda yang masih berada dalam pengaruh obat bius," ujar sang perawat yang membuat Albirru sangat terkejut. Papa muda masih berdiri mematung mendengar perkataan dari sang suster yang mengatakan bahwa anaknya lahir dengan selamat.


"Putri saya lahir dengan selamat, Sus?" tanya Albirru yang langsung diangguki oleh perawat tersebut.


"Anda dipersilahkan untuk masuk ke ruangan setelah mengganti pakaian Anda ya, Pak. Karena anak bapak yang terlahir prematur dan berat badannya yang kurang dari rata-rata. Kami berusaha untuk memperjuangkan supaya dia bisa tumbuh sehat. Silakan ikut saya Tuan, saya akan membantu Anda untuk melakukan kangaroo care kepada putri Anda," ujar sang perawat yang langsung membuat Albirru bahagia.


Laki-laki tersebut pun segera mengikuti sang perawat untuk mengganti bajunya agar dirinya bisa bertemu dengan sang istri serta putri kecilnya.


Setelah selesai berganti pakaian, Albirru pun berjalan mengikuti sang suster untuk masuk ruangan tadi dengan excited nya. Dirinya sangat ingin berterima kasih kepada sang istri karena telah berjuang dan juga berterimakasih kepada putri kecilnya karena dirinya masih bisa melawan semuanya.


Tangan besarnya terangkat untuk mengelus kening milik sang istri. Albirru pun mendekatkan wajahnya kepada sang istri lalu mengecup singkat kening milik sang istri yang masih tidur dengan damainya.


"Terimakasih," ujar Albirru dengan air mata yang menetes dari kedua bola matanya. Laki-laki itu sangatlah merasa berterimakasih karena Jazira telah berhasil melahirkan buah cinta mereka.


Albirru berulangkali mengecup kening milik istrinya serta mengelus pipi milik Jazira. Dirinya mengalihkan pandangannya kepada sebuah inkubator yang berada tak jauh dari brangkar sang istri.


Albirru mengernyitkan dahinya karena sekilas dirinya tak melihat sang anak berada dalam inkubator tersebut. Hingga Albirru pun melangkahkan kakinya mendekati inkubator tersebut dan terkejut melihat tubuh kecil sang putri.

__ADS_1


Badan Albirru berguncang hebat ketika melihat tubuh sang putri yang sangat kecil. Tangisnya kembali pecah ketika melihat banyak selang serta infus di tubuh sang putri. Nafas laki-laki yang tengah dirundung penyesalan itu tercekat di tenggorokan, seolah alam tak mengizinkannya untuk bernafas.


"Maafkan papa, Nak." Albirru menekuk kedua lututnya dengan air mata yang kembali tumpah. Dirinya benar-benar merasa kasihan dengan bayi kecil yang belum tiba masanya untuk terlahir ke dunia itu menanggung semua akibat dari dosa-dosanya di masa lalu.


"Maafkan Papa. Papa bersalah dengan apa yang terjadi padamu. Maafkan Papa, Nak," tangis Albirru dengan timbunan penyesalannya melihat sang anak yang hanya bisa bernafas melalui tabung oksigen khusus yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Saya yakin Tuan Albirru bisa lebih tabah lagi," ujar sang perawat yang sama sekali tak di gubris oleh Albirru. Suster itu pun membuka tabung inkubator milik putri kecil Albirru dan meminta kepada Albirru untuk duduk di sofa yang berada tepat di samping ranjang milik Jazira.


Albirru pun hanya menganggukan kepalanya dan segera duduk di sofa seperti panduan dari sang suster. Suster tersebut pun meminta kepada Albirru untuk membuka bagian atas pakaiannya agar putri kecilnya dapat melakukan skin to skin kepada dirinya. Lagi-lagi Albirru hanya mematuhi perintah dari suster tersebut. Dirinya menginginkan yang terbaik untuk putri kecilnya.


Darah Albirru berdesir hebat ketika dirinya menyentuh kulit dingin sang putri. Albirru pun buru-buru memeluk tubuh mungil sang putri yang bahkan hanya sebesar sebelah telapak tangannya. Perlahan namun pasti dirinya mengangkat jemari mungil milik anaknya yang bahkan tak bisa menggenggam sempurna satu jemari tangannya.


"You look so beautiful, my girls," ucap Albirru dengan air mata yang hendak terjun bebas membasahi pipinya. Laki-laki tersebut memandangi tubuh kecil sang anak yang ditumbuhi beberapa bulu halus di sepanjang tubuhnya. Albirru benar-benar tidak tega melihat kondisi sang anak kali ini.


"I'm sorry little girl, semua yang terjadi pada kamu itu murni salah papa. Mama mu sangat hebat bukan? Dia berhasil mengantarmu bertemu dengan Papa?" ujar Albirru dengan air mata yang kembali mengalir. Laki-laki itu memeluk erat sang putri yang masih terlelap dengan berlinang air mata.


"Papa berjanji tak akan pernah menyia-nyiakanmu dan Mamamu. Papa bersumpah, tak akan pernah menyakiti hati Mama mu lagi atau mungkin meninggalkan kalian berdua. Jika Papa sampai melakukan hal itu, Papa bersedia untuk menyesali kebodohan Papa seumur hidup dan menerima akibat dari semua ini."


Gimana? Seneng? Authornya pusing loh nurutin permintaan Mam semua. Tapi ingat, apa yang sudah tertulis di sinopsis itu tak akan diganti. Thanks untuk Mam yang sudah memberikan vote, like, poin, dan komen di bab sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2