
Laki-laki yang sedari tadi menggendong tubuh milik Jazira itu mulai masuk ke dalam ruang rawat inap dengan kelas vip. Albirru membawa tubuh kecil istrinya ke atas brankar dan menidurkannya dengan perlahan.
Jazira meringis perlahan saat merasakan gesekan di bagian perutnya. Albirru yang mengetahui hal itu dengan segera langsung menekan tombol darurat yang ada di atas brankar milik istrinya.
"Apa yang kamu rasakan, Ra? Tahan sebentar ya Sayang, kita tunggu susternya datang." Albirru mengelus puncak kepala milik sang istri dengan penuh perasaan sembari berulang kali menekan tombol darurat, berharap agar ada perawat atau dokter yang bisa segera datang ke ruangan sang istri.
Setelah merasa cukup, Albirru pun menarik tangannya dari atas brankar milik sang istri lalu mencoba menenangkan Jazira. Wanita itu hanya bisa menahan rasa sakitnya dengan melipat bibirnya ke dalam.
Hingga tak lama setelah itu, seorang dokter beserta satu orang perawat datang ke dalam. Keduanya segera berjalan mendekati Jazira dan meminta Albirru untuk keluar terlebih dahulu. Dengan segera Albirru pun menuruti permintaan sang perawat, agar sang istri segera ditangani.
Lama Albirru menunggu di luar ruangan, akhirnya sang perawat keluar beserta dokter tadi. Albirru berjalan mendekati dan merasa lega setelah sang dokter mengatakan bahwa sang istri baik-baik saja.
Setelah kepergian dokter tersebut beserta perawatnya, Albirru pun segera masuk kembali ke dalam dan mendekati sang istri yang tengah memejamkan matanya. Albirru berdiri tepat di sebelah brankar sang istri lalu mengelus pipi tirus milik istrinya itu.
"Kamu harus banyak istirahat, Ra. Jangan lakuin hal-hal yang berbahaya buat kamu, dan ya, jangan pikirin hal yang nggak penting buat kamu. Kamu harus cepet pulih." Albirru mengusap pipi milik sang istri yang masih tersisa bekas air matanya.
Jazira tak menjawab. Wanita itu hanya menghela napasnya panjang, seraya membawa pipinya agar menjauh dari tangan besar milik sang suami. Wanita itu memalingkan wajahnya dari Albirru yang membuat sang empu tangan menatap nanar kepada Jazira.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu ya, Ra. Aku keluar sebentar, mau urus sesuatu. Nggak lama," ujar Albirru yang lagi-lagi tak disahuti oleh Jazira. Albirru yang memahami bagaimana perasaan sang istri pun hanya menghela napas dengan perlahan lalu segera keluar dari ruang rawat milik sang istri.
Setelah tiba di luar ruangan sang istri, Albirru segera menelepon seseorang. Laki-laki itu mengatakan pada orang tersebut untuk melakukan beberapa hal.
"Segera hubungi Johan dan buatlah koordinasi untuk memasang cctv di rumah istriku. Katakan padanya untuk meminta izin juga, supaya semua tidak terlewatkan. Jika semua sudah siap, segera kabari aku lagi. Kau mengerti?" ujar Albirru pada seseorang yang kini tengah dia telepon.
Ya, Albirru memutuskan untuk memasang cctv di rumah sang istri. Dirinya takut jika nanti Jazira akan melakukan hal yang tak dirinya sangka. Terlebih lagi setelah dia memergoki sang istri yang hendak mengakhiri hidupnya.
Laki-laki yang ada di seberang sana pun hanya menyetujui apa yang atasannya minta. Setelah Albirru mematikan panggilan keduanya, laki-laki yang ditugaskan oleh Albirru itu segera menyelesaikan apa yang menjadi permintaan sang atasan.
Sementara Albirru, laki-laki itu segera kembali masuk ke ruang rawat milik sang istri. Dirinya kembali berdiri di sebelah sang istri yang tengah memejamkan matanya. Albirru memutuskan untuk duduk di sebelah istrinya dan menjadikan kedua lengannya sebagai bantal untuk dirinya.
"Kenapa kau berubah setelah hatiku mulai membencimu? Andai kau bisa teguh pendirian, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Sekarang, kau seolah mengemis di hadapanku bukan? Kau mengemis agar aku tak pergi darimu dan dan berharap agar aku tak menghentikan pernikahan kontrak kita ini bukan? Tapi, itu semua tidak akan terjadi. Aku akan mengakhiri semua ini," ujar Jazira sembari menatap puncak kepala milik suaminya yang berada tepat di sampingnya.
Setelahnya, keduanya sama-sama tertidur dengan lelap hingga pagi harinya. Albirru pun sama sekali tak berpindah tempat, masih setia tertidur dengan posisi duduknya.
Hingga tak terasa, pagi mulai menjelang. Laki-laki yang sejak semalam tidur di kursi itu mulai membuka matanya. Albirru benar-benar merasakan remuk di sekujur tubuhnya saat mencoba menggerakkan badannya.
__ADS_1
Albirru terdiam mematung saat tak menjumpai adanya Jazira di atas brankar. Dengan segera, laki-laki itu pun bangkit dari posisinya dan langsung mencari keberadaan Jazira. Kejadian semalam sudah cukup membuat Albirru merasa khawatir dengan istrinya itu.
"Maira?! Kamu di mana, Sayang?" panggil Albirru dengan nada seraknya sembari berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruang rawat sang istri. Albirru berharap bahwa sang istri berada di dalam kamar mandi, tetapi nihil, tak ada Jazira di dalam kamar mandi itu.
"Ya Tuhan, di mana istriku sekarang? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Maira?" lirih Albirru sembari berjalan ke sisi lain yang ada di ruang rawat inap milik Jazira. Tapi lagi-lagi, Albirru tak menjumpai tanda-tanda adanya sang istri di dalam ruangan itu.
"Astaga! Kemana perginya, Maira? Aku harus segera menemukan Maira bagaimanapun caranya!" ujar Albirru sembari berjalan mendekati nakas untuk mengambil ponselnya.
Namun, belum tangannya menyentuh ponsel mahal berwarna hitam miliknya, netra laki-laki itu menangkap tanda-tanda keberadaan sang istri. Albirru menyipitkan matanya sembari menatap keluar jendela besar yang ada di hadapannya.
"Apakah itu Maira ku? Benarkah itu istriku?" tanya Albirru pada dirinya sendiri sembari menatap punggung kecil milik wanita yang duduk di taman rumah sakit. Laki-laki itu masih paham betul bagaimana bentuk tubuh milik istrinya.
Ternyata benar, wanita yang tengah duduk memunggungi arah datangnya matahari itu adalah Jazira. Albirru yang mengetahui hal itu pun merasa sedikit lega, karena pikiran buruknya tidak terjadi.
Albirru tak langsung menyusul sang istri, laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dulu. Tidak mungkin bukan jika dirinya akan menemui sang istri dengan pakaian kusut serta wajah yang belum segar?
Sementara di taman rumah sakit, wanita yang tengah menatap beberapa anak menggemaskan yang tengah bermain itu menggelar napasnya dengan sedikit kasar. Ada perasaan tak tenang ketika dirinya mengamati setiap tingkah lucu anak-anak yang bermain dengan bebas di depannya.
__ADS_1
"Andai Arasaku masih hidup, mungkin dia akan seceria mereka. Tapi sekarang, putriku sudah tiada. Dia meninggalkan mamanya yang bahkan belum menyusuinya." Jazira berkata lemah sembari menundukkan kepalanya. Mengapa takdir begitu kejam pada dirinya saat ini? Itulah yang berulang kali mengoyak hati wanita yang masih dalam tahap pemulihan itu.
"Ini sarapanmu," ujar seseorang dengan tiba-tiba yang membuat Jazira seketika menolehkan kepalanya.