ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 17


__ADS_3

Wait kak, Kayenna ingetin lagi buat like bab diatas😁. Jangan sampai nggak like ya kak😘.


Tepat satu jam yang lalu, Jazira telah menyandang status baru sebagai Nyonya Jazira Alexander. Meskipun acara akadnya sempat tertunda, namun hal tersebut tak menjadi masalah untuk Albirru.


Setelah puas haha hihi bersama tamu undangan dan relasi bisnis dari Albirru, satu persatu orang yang sedari tadi memenuhi lantai dasar rumah Albirru mulai pergi satu persatu.


Akhirnya ruang tamu luas yang tadi sesak karena banyak tamu, seketika sunyi senyap. Meninggalkan Albirru yang masih duduk disebelah Jazira.


Jazira masih bingung, apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Sampai tiba-tiba Albirru berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Jazira bernafas lega karena sang suami telah beranjak dari duduknya. Itu berarti dirinya pun sudah bisa kembali ke kamarnya.


Dengan cepat, Jazira melangkahkan kakinya menuju tangga. Namun belum sempat dua anak tangga dia melangkah, Albirru telah memanggilnya.


"Mau kemana kau?" Ujar Albirru datar yang membuat Jazira menghela nafasnya panjang. Jazira pun membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


"Aku ingin ke kamar. Bukankah kamar kita terpisah? Aku ingin istirahat, Tuan." Tutur Jazira sesuai keadaannya. Dengan wajah datarnya, Albirru mulai membuka pintu kamarnya. Jazira pun menghembuskan nafasnya lega karena sang suami telah menghilang dibalik pintu jati didepannya.


"Cepat masuk ke kamarku!" Titah Albirru dengan nada tingginya, sehingga membuat Jazira memelototkan matanya. Kedua lengan gadis itu terangkat dan dia menggenggam erat kedua tangannya diudara, seolah olah sedang menjambak rambut Albirru.


Dengan menghentakkan kakinya, dia berjalan memasuki kamar Albirru. Dia baru saja teringat bahwa Albirru adalah suaminya.


'Kau harus banyak bersabar, Zi. Dia adalah suamimu. Surgamu ada bersamanya." Batin Jazira sambil mengelus dadanya. Dia menatap suaminya yang sedang duduk di sofa couple disudut kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Jazira sambil menatap sang suami. Albirru pun mengalihkan pandangannya menuju gadis cantik di depannya dan mengarahkan matanya ke sofa disebelahnya. Dari tataapn matanya, Albirru mengisyaratkan agar Jazira duduk disebelahnya.

__ADS_1


Jazira berjalan menuju sofa disebelah Albirru dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Apakah kau sudah benar-benar paham apa yang tertulis di kertas kontrak pernikahan kita?" Tanya Albirru sambil memijat pelipisnya perlahan. Jazira hanya menganggukkan kepalanya dengan ragu. Dirinya sendiri pun masih bingung dengan maksud Albirru di kertas kontraknya.


"Coba kau ucapkan apa saja yang kau dapat setelah membaca surat kontrak tadi." Tantang Albirru yang membuat Jazira sedikit kelabakan. Akhirnya setelah banyak berpikir, Jazira pun menganggukkan kepalanya dan menafsirkan beberapa poin yang tadi tertulis di kertas kontak pernikahannya.


"Poin pertama. Kau mengatakan bahwa selama kontrak berlangsung aku tak membuat masalah sama sekali, maka kau akan tetap membayar ku." Papar Jazira sesuai poin pertama, yang langsung diangguki oleh Albirru.


"Poin kedua. Kau mengatakan bahwa aku tak boleh mengurusi sedikitpun urusan pribadi mu, bahkan keperluan pribadi mu." Imbuhnya lagi yang diangguki oleh Albirru.


"Poin ketiga. Kau mengatakan bahwa aku tak boleh menjalin hubungan atau bertemu dengan lelaki lain selain dirimu dan Paman Johan." Ujar Jazira ragu-ragu untuk poin ketiga ini.


"Sebenarnya kau bisa bertemu dengan lelaki lain jika aku memberimu izin!" Timpal Albirru membenarkan perkataan Jazira. Jazira pun bernafas sesikit lega sambil menganggukkan kepalanya.


"Kapanpun aku mau! Bukan ketika aku meminta hak ku saja! Meskipun setelah aku mendapatkan hak ku, tapi aku ingin kau melayaniku... MAKA KAU HARUS MELAYANIKU!" Tegas Albirru yang membuat Jazira membelalakkan matanya. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil berdiri dari duduknya.


"Itu berarti kau adalah laku-laki egois, Tuan! Kau memang membayarku untuk menjadi istri kontrakmu. Untuk apa? Untuk membebaskanmu dari isu tak sedap yang datang padamu, dengan embel-embel melindungiku dari Ayah dan Kakak tiriku! Tapi perbuatanmu tak lebih dari seorang pria breng**k yang menyamar menjadi orang lain!" Tolak Jazira dengan nada marahnya.


"Disini tugasku hanya untuk membersihkan namamu, tidak lebih! Oke, akan kujelaskan bagaimana pola pikirmu itu bekerja!" Sambung Jazira sambil duduk di meja yang berada didepan Albirru.


"Jika kau meminta hak mu pada bulan ke lima pernikahan kita, entahlah selama lima bulan kedepan bibitmu akan tumbuh atau tidak dirahimku. Jika tidak, maka itu adalah keberuntunganku. Tapi jika kau meminta aku untuk melayani kau lagi pada bulan ke delapan pernikahan kita, lalu bagaimana jika dalam dua bulan kedepan aku mengandung anakmu?!" Bentak Jazira dengan air mata yang lolos dari pelupuk matanya.


Sontak Albirru merasakan puluhan belati tajam yang menusuk tepat di jantungnya. Hatinya teriris saat menyaksikan wanita di depannya itu meneteskan air mata.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan, Zi? Apakah kau sedang berkhayal? Sedang hamil atau tidak, jika masa kontrak telah berakhir, maka kau harus berpisah dengannya. Jika kau hamil, maka uruslah sendiri bayi kecil yang akan tumbuh dirahim mu." Gumam Jazira sambil berbisik disertai kekehan di awal perkataannya.


Jazira menangis sambil tertunduk yang membuat Albirru semakin tersiksa. Dengan cepat, dirinya menarik Jazira menuju dekapannya dan mengelus punggungnya yang mulai bergetar.


"Jika bayiku tumbuh di rahimmu, maka aku akan batalkan kontrak kita. Apa yang kau katakan tadi? Kau akan merawat anakku sendiri? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Kita akan membesarkan buah cinta kita bersama-sama." Ucap Albirru dengan nada lembutnya.


Ucapan dari Albirru seketika membuat hati Jazira menghangat, wanita itu mengeratkan pelukannya. Dia menangis sesenggukan di dada bidang Albirru. Kali ini Jazira berharap agar waktu berhenti sejenak, berpihak kepadanya yang tak pernah sekali pun merasakan kebahagiaan.


Baru saja kebahagiaan menghampirinya, namun lagi-lagi pikirannya membuat Jazira diam membisu.


Bagaimana jika ia tak mengandung anak Albirru? Bagaimana nasibnya kelak? Akankah ia akan tetap berada di kehidupan Albirru atau terbuang dari kehidupan suaminya?


Seketika tangisnya berhenti, dia menarik tubuh mungilnya dari Albirru dan menatap datar kepada suaminya.


"Jangan pernah mengucapkan kata yang belum tentu kau sanggup untuk kau wujudkan. Percuma saja kau bicara terlalu tinggi jika pada akhirnya kau akan mengingkarinya." Sanggah Jazira lalu pergi meninggalkan Albirru yang masih memikirkan perkataan Jazira.


Jazira pun segera berjalan cepat menuju lantai dua, lantai dimana kamarnya berada.


Sesampainya dia dikamar, dia memerosotkan badannya ke lantai dan kembali menangis. Jazira merasakan sesak di dadanya ketika mengingat apa yang Albirru katakan.


Dirinya tak munafik, dia ingin hidup berdua dengan Albirru bahkan hingga ajal lah yang memisahkan mereka. Apakah ada seorang istri yang rela diceraikan setelah masa kontraknya telah usai? Tidak ada bukan.


Hayo, udah like bab diatas belum? Mau Kayenna terus double up? Yuk di like dan komen di dua bab ya😁. Terimakasih untuk yang sudah like di dua bab kak❤.

__ADS_1


__ADS_2