ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 63


__ADS_3

"Maira hamil? Nggak mungkin Mbok. Dia pergi jauh dari Albi, dia juga masih jadi istri Albi," ujar Albirru yang membuat Mbok Sum menghembuskan nafasnya perlahan.


"Memangnya Den Albi nggak ngerasa kalau sudah pernah melakukan hal 'itu bersama Non Maira?" tanya Mbok Sum sembari memijat leher milik Albirru.


"Albirru bener-bener lupa masalah hal itu Mbok. Tapi Albi takut kalau memang benar Maira hamil dan dia jauh dari Albi, siapa yang bakal mengurus dia? Albi mau hubungi dia buat pulang pun nggak bisa, Jingga dan Maira blokir semua akses komunikasi kita," jawab Albirru sembari memejamkan kedua matanya.


Dia mengangkat lengannya dan meletakkannya di kepala untuk menutupi sebagian wajahnya. Mbok Sum pun terus melanjutkan pijitannya kepada Albirru. Albirru sama sekali menolak bantuan dari Mbok Sum karena dirinya merasa lebih baik ketika Mbok Sum mengurut bagian leher serta punggungnya.


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya jam makan siang pun tiba. Mbok Sum segera berjalan keluar karena mendapati Johan yang datang ke rumah Albirru. Mbok Sum tahu, jika sampai Johan datang ke rumah, itu berarti pasti ada pekerjaan yang penting.


"Albirrunya ada di rumah kan, Mbok?" tanya Johan sembari duduk di sofa depan rumah milik Albirru. Mbok Sum pun menganggukan kepalanya lalu duduk di sebelah Johan, laki-laki yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


"Ada tapi dia lagi istirahat. Dia baru bisa saja tidur setelah setengah hari ini sangat rewel," jawab Mbok Sum yang membuat Johan mengernyitkan dahinya bingung. Asistem pribadi Albirru itu pun segera menolehkan kepalanya pada perempuan yang sama-sama telah mengabdi bersama dirinya di rumah Albirru sejak lama.


"Maksudnya gimana Mbok? Rewel yang gimana? Pantesan dia nggak berangkat ke kantor," ujar Johan yang langsung membuat Mbok Sum menghembuskan nafasnya perlahan.


"Den Albi mual-mual dari tadi pagi, bahkan masih pagi sekali. Belum ada matahari yang muncul. Dan yang lebih anehnya, baru kali ini setelah beberapa tahun Den Albi sangat manja seperti anak kecil. Dia merengek agar aku mendatangkan Jazira untuknya," jawab Mbok Sum yang membuat laki-laki itu terheran.

__ADS_1


"Dan yang lebih parahnya lagi, ketika dia turun untuk mencari minuman segar pagi-pagi sekali. Dia melihat Larina yang sedang meminum susu hamilnya, dan kau tahu Jo? Dia memintaku untuk membuatkannya susu ibu hamil itu. Bahkan dia request minta yang rasa vanila. Bukankah sangat lucu?" imbuh Mbok Sum lagi yang membuat Johan terkejut.


"Benarkah dia minum susu ibu hamil? Lalu bagaimana kondisinya sekarang? Apakah masih rewel?" tanya Johan dengan nada terkejutnya yang membuat Mbok Sum menggelengkan kepalanya.


"Sekarang dia sedang tertidur dan syukurlah dia bisa tenang dan tidak rewel karena aku memberikannya baju milik Jazira yang masih tertinggal. Nasibnya sungguh sangat malang," jawab Mbok Sum seraya menundukkan kepalanya.


"Apakah ini efek karena Larina tengah mengandung, jadi dia seperti ini?" tanya Johan lagi yang langsung membuat Mbok Sum menggelengkan kepalanya.


"Ini bukan karena kehamilan Larina, Jo. Kalau ini memang kehamilan Larina, hal ini bisa saja terjadi satu bulan lalu, tapi ini baru bulan ini. Aku rasa Den Albi mengalami ini semua karena Non Maira hamil, jadi Den Albi lah yang merasakan morning sickness itu. Aku benar-benar merasa kasihan padanya. Bahkan tak satu sendok makanan pun masuk ke dalam perutnya selain susu ibu hamil tadi," papar Mbok Sum mencoba menampik apa yang Johan pikirkan.


"Bagaimana Mbok Sum tahu jika Non Jazira hamil? Apakah kalian bertukar kabar selama ini?" tanya Johan kebingungan yang langsung disambut oleh gelengan kepala dari Mbok Sum.


"Hmm, aku benar-benar merasa bahwa mereka berdua sangat cocok. Semoga saja takdir menemukan mereka berdua," imbuh Johan setuju yang membuat Mbok Sum pun ikut menganggukkan kepalanya.


Saat Mbok Sum dan juga Johan tengah membicarakan tentang bagaimana Jazira dahulu, tiba-tiba dari arah belakang Larina datang tergesa-gesa dan menggebrak meja yang tengah digunakan oleh Mbok Sum dan Johan.


"Heh! Duo tua bangka! Apa yang sedang kalian bicarakan ini?! Kenapa kalian berdua membicarakan wanita murahan itu?! Perlu kalian tahu, bahwa setelah kepergian wanita murahan itu dari rumah ini, aku lah penguasa rumah ini!" bentak Larina dengan nada marahnya yang membuat Mbok Sum serta Johan menahan tawanya dengan susah payah.

__ADS_1


Ketika keduanya melihat Larina hendak marah-marah lagi, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun Mbok Sum dan Johan segera beranjak dari duduk mereka lalu segera masuk ke dalam rumah. Hal itu pun membuat Larina merasa geram.


...*****...


Sedangkan di London, Jazira yang sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit pun segera duduk di kursi roda yang telah Marcel siapkan untuk dirinya.


"Kita langsung pulang aja, ya?" tanya Veno sembari mendorong perlahan kursi roda milik sahabatnya itu. Sedangkan Marcel yang sedari tadi menggandeng tangan Jingga pun hanya menganggukkan kepalanya.


Veno pun berjalan lebih dulu dengan Jazira yang ada di kursi roda dorongannya, meninggalkan Marcel yang memeluk erat pinggang mungil milik Jingga. Jingga mengelus perlahan tangan bertato tersebut dan menatap sekilas wajah tampan milik Marcel.


"Kenapa, calon om?" tanya Jingga saat merasakan bahwa pelukan Marcel semakin erat. Marcel pun hanya menggelengkan kepalanya lalu mengecup singkat puncak kepala milik Jingga. Laki-laki tersebut berhenti sejenak dan memeluk dengan erat gadis yang sangat dia sayangi tersebut.


"Aku nggak kenapa-napa, cuman lagi seneng aja karena bentar lagi kita akan jadi aunty sama uncle. Kamu seneng nggak, Ngga?" tanya Marcel yang membuat Jingga mendongakkan kepalanya. Jingga menganggukkan kepalanya dengan antusias lalu membalas pelukan dari Marcel.


"Bahagia banget, Jingga berharap Kak Marcel nggak ingkar janji buat jaga kita bertiga ya? Terlebih lagi tadi si dokter bilang kalau kandungan Kak Zizi lemah," ujar Jingga yang langsung di angguki oleh Marcel.


"Kalian tanggung jawab Kak Marcel. Kak Marcel nggak akan biarin kalian bertiga kembali ke Albirru. Dia nggak pantes buat ketemu sama anaknya. Dan kau, kau telah memilih jalan yang tepat dengan ikut bersama dengan Zizi. Aku berharap semoga kau selalu berada di sisiku. Love you, Ngga." Marcel mengecil singkat bibir rahim milik Jingga yang telah menjadi candu baginya.

__ADS_1


"I'am promise. Love you to Kak Cel," jawab Jingga sambil memeluk erat laki-laki yang sangat dia cintai itu.


BAB setelah ini langsung lompat ke tujuh bulan berikutnya ya Mam. Jadi jangan bingung,


__ADS_2