ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 31


__ADS_3

Marcel sedikit tertarik dengan bahasan kali ini. Terlihat dari dirinya yang mulai meletakkan ponselnya lalu duduk menghadap Jingga.


"Entahlah, coba ku tanyakan di bagian HRD terlebih dahulu." jawab Marcel yang membuat Jingga sedikit lega. Jingga hanya menundukkan kepalanya sambil menatap kedua kaki jenjangnya.


"Tapi kau bisa menjadi asistenku sampai beberapa waktu. Asisten pribadiku sedang kutugaskan untuk mengurus perusahaan yang ada diluar negeri." ucap Marcel setelah berpikir-pikir. Dia pikir dia bisa melakukan pekerjaannya tanpa Veno, tapi jika dia berpikir-pikir lagi dia tak bisa.


Jingga yang mendengar perkataan Marcel pun segera mendongakkan kepalanya. Matanya berbinar, dengan cepat dia menganggukkan kepalanya antusias.


"Benarkah? Aku ambil job itu. Deal!" jawab Jingga antusias sambil menyodorkan tangan kananya dihadapan Marcel.


"Wait, ku jelaskan terlebih dahulu apa pekerjaanmu baru kau tentukan apakah kau akan bekerja padaku atau tidak." tolak Marcel karena dia takut Jingga tak akan kuat jika bekerja dengan jadwal yang sama seperti Veno.


"Tidak perlu, aku pasti bisa. Kau mau aku bekerja berapa jam? 12 jam? Atau lebih? Tenang saja, aku lebih baik letih bekerja daripada harus berdiam diri menjadi istri dari rekan kerja kakakku." sergah Jingga yang tak sadar telah berbicara tentang kebenarannya.


Tak lama setelah itu, Jingga yang tersadar akan ucapannya pun segera menutup mulutnya. Marcel hanya menyunggingkan sedikit senyumnya.


"Baiklah, deal!" putus Marcel sambil menyambut tangan Jingga. Kali ini hati Jingga dilanda kelegaan, seakan dia telah menemukan oase ditengah gurun. Bagaimana tidak? Dia telah memiliki tabungan untuk beberapa bulan kedepan dalam hidupnya.


"Jadi, mulai kapan aku bisa bekerja?" tanya Jingga yang telah berantusias akan rencananya bekerja.


"Mungkin jika aku sudah pulih. Kau bisa datang ke apartemenku pukul 7 pagi. Untuk jam pulangnya, itu tergantung padaku. Kau paham?" ucap Marcel menjelaskan detail pekerjaan Jingga. Jingga tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah menunggu selama beberapa saat, Jingga yang mulai jenuh pun berniat untuk pulang. Ingin menghubungi Jazira namun dirinya tak memiliki nomor ponsel Jazira.


"Baiklah Kak Marcel, Jingga pamit pulang dulu ya? Nanti kalau Kak Zizi balik lagi kesini, bilang saja Jingga sudah pulang. Entahlah, aku sedikit kurang enak badan." pamit Jingga yang membuat Marcel mendongakkan kepalanya. Dia tak menjawab pertanyaan Jingga, namun dia menganggukkan kepalanya.


Jingga pun segera keluar dari ruang rawat Marcel. Dia telah mengira jika sebentar lagi akan turun hujan karena mendengar kilatan petir diluar.


Dan benar saja dugaannya. Ketika dia kaluar dari pintu lobby rumah sakit, hujan turun dengan sangat deras. Dia segera memesan taksi terdekat yang dapat menjemputnya.


Setelah menunggu selama beberapa waktu, taksi pesanan milik Jingga telah tiba. Lebih bingo nya lagi karena taksinya tak dapat menjangkau lebih menuju lobby tempat Jingga berdiri.


Dengan terpaksa, Jingga pun segera berlari menuju taksi tanpa alat pelindung dari hujan sama sekali. Setelah tubuhnya benar-benar terlindung dari hujan, dengan cepat dia menggosokkan kedua telapak tangannya.


Dia mengatakan kepada sang sopir agar segera mengantarnya pulang. Tak lupa dia telah mengatakan dimana alamat rumah kakaknya. Dalam perjalanan pulang, Jingga sudah memijat kepalanya perlahan. Ia merasakan pusing dikepalanya.

__ADS_1


Sesampainya dia dirumah sang kakak, Jingga segera keluar dari taksi tanpa payung atau jas hujan. Dia hanya menutupi puncak kepalanya dengan sling bag nya.


Setelah berjalan cukup jauh untuk melewati halaman depan, akhirnya Jingga sampai di teras rumahnya. Saat akan membuka pintu rumahnya, dia terkejut karena seseorang mendorong dari dalam sana.


Jingga pun mengalah dan membiarkan orang tersebut membuka pintunya terlebih dahulu. Setelah pintunya terbuka, betapa terkejutnya Jingga ketika melihat Mbok Sum dengan 1 koper besar di tangannya.


"Loh, Mbok Sum mau kemana?" tanya Jingga bingung karena melihat Mbok Sum yang membawa koper, seolah-olah dirinya ingin meninggalkan Jingga dan Albirru.


"Saya mau pulang ke Jawa Tengah, Non. Ibu saya lagi sakit, jadi saya harus merawatnya. Lagipula saya sudah lama tidak berjumpa dengan Ibu saya." ujar Mbok Sum.


Jingga yang memang sudah nyaman dengan Mbok Sum pun tak rela jika Mbok Sum pergi meninggalkannya. Namun tatapan dari sang kakak yang mengatakan bahwa biarkan Mbok Sum pergi membuatnya dengan berat hati melepaskan Mbok Sum.


"Yaudah Simbok hati-hati ya? Balik kesini lagi kapan Mbok?" ujar Jingga dengan berat hati sambil menyalami Mbok Sum.


Setelah mengiringi kepergian Mbok Sum, Jingga pun segera masuk bersama dengan Albirru. Sesuai dugaan Jingga, dia akan demam jika kehujanan. Sudah berulang kali Jingga bersin, pertanda awal dia akan demam.


"Kak Zizi mana, Kak? Udah pulang kan?" tanya Jingga sambil menggosok hidungnya. Albirru terkejut ketika sang adik menanyakan kabar sang istri.


"Kakak iparmu pulang ke apartemen. Jangan tanya soal dia lagi. Kalau butuh apa-apa bilang ke Kak Albi." ujar Albirru yang membuat Jingga mengernyit.


"Tebakanmu benar! Dia yang memutuskan buat pisah dari Kak Albi." jawab Albirru tanpa melihat wajah adiknya.


"Jingga yakin nih, pasti Kak Albi buat kesalahan sama Kak Zizi kan? Masalah apa? Larina lagi?!" bentak Jingga kepada sang kakak lalu pergi kembali ke kamarnya.


Albirru hanya menatap nanar kepergian sang adik. Ia menghembuskan nafasnya perlahan lalu berjalan memasuki kamarnya.


************


Sementara Jazira, ia baru saja terbangun saat mendengar notifikasi di ponselnya. Dia terkejut karena dia tidur terlalu lama. Mungkin sekerang telah pukul 8 malam. Batin Jazira sambil meregangkan ototnya.


Dengan malas Jazira membuka notifikasi pesan yang masuk lalu seketika matanya membulat. Bagaimana tidak? Ternyata notif tersebut adalah notif dari bank, tempat Jazira menabung selama ini.


Bak tertimpa rezeki dadakan, ternyata Albirru benar-benar mentransfer uang sesuai perjanjian mereka. Mata Jazira membulat sempurna tatkala menghitung jumlah nol yang berjejer disebelah angka 1 itu.


"Benarkah uang sebanyak ini masuk ke rekeningku? Padahal aku baru beberapa hari menjadi istri kontraknya, tapi kenapa uangnya sebanyak ini?" ujar Jazira panik kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kau meragukannya, Zi? Dia memiliki banyak uang. Mungkin saja baginya uang ini tak ada apa-apa nya daripada hartanya. Baru beberapa hari saja sebanyak ini, apalagi jika benar sampai 10 bulan? Kau bisa kaya mendadak sampai 7 turunan Zi." ujarnya kepada diri sendiri.


Jazira bertambah kaget ketika melihat notif pesan dari sang suami. Dalam pesan tersebut, Albirru mengatakan bahwa dia membutuhkan Jazira dengan segera.


**************


Kayenna ada visual nihh, mohon maaf jika kurang sesuai yaa. Visual bisa diganti sendiri, sesuai hasil halu Mam Mam semua.


...Jazira Altamaira⤵️...



...Albirru Geano Alexander⤵️...



...Larina Elaksa⤵️...



...Jingga Shanayra Alexander⤵️...



...Marcel Axelino⤵️...



...Tasya Aaradhya⤵️...



...Veno Nathaniel⤵️...


__ADS_1


Iyi Gecerler! All❤. Kayenna minta maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat yaa🙏. Terimakasih sudah menunggu Kayenna up😘


__ADS_2