ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 79


__ADS_3

Sementara Albirru yang baru saja memasuki kamarnya pun sedikit mengernyitkan dahinya karena tiba-tiba sang adik menelponnya. Tanpa berpikir lama, Albirru pun segera mengambil ponselnya dan segera bertanya kepada sang adik mengapa meneleponnya.


"Halo, Ngga? Kenapa?" tanya Albirru dengan nada bingungnya. Namun dirinya sama sekali tak mendengar jawaban dari sang adik. Dirinya hanya mendengar suara pintu mobil yang di tutup dengan sedikit keras.


"Jingga? Are you okay?" tanya Albirru lagi sembari berharap agar sang adik memberikan jawaban kepada dirinya. Namun nihil, tak satu pun jawaban yang dia dapatkan dari Jingga. Albirru pun mencoba memanggil sang adik kembali.


"Jingga? Maira?" tanya Albirru dengan nada yang meninggi lantaran dirinya tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri dan sang adik.


Entah mengapa, perasaan Albirru menjadi tak tenang ketika dirinya mengingat wanita yang sedari tadi mengikuti sang istri.


"****! Maira!" seru Albirru lalu segera mematikan panggilannya kepada Jingga. Dirinya segera menelepon nomor Marcel, nomor yang masih dia simpan saat terakhir kali tiba-tiba Marcel menelepon dirinya beberapa bulan yang lalu.


"Angkat, Cel!" seru Albirru sambil berjalan mengambil kunci mobilnya. Laki-laki yang telah berganti dengan pakaian casual itu berjalan cepat keluar dari kamarnya yang membuat Mbok Sum bingung. Mbok Sum pun berjalan mendekati Albirru dan bertanya mengapa sang atasan terlihat sedikit khawatir.


"Mau pergi kemana, Dan?" Mengapa terlihat sangat khawatir?" tanya Mbok Sum yang membuat Albirru menghentikan langkahnya. Dia menolehkan kepalanya kepada Mbok Sum dan sedikit menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya.


"Albi mau nyusulin Maira Mbok, Albi takut terjadi sesuatu sama Maira dan anak Albi. Albi pergi dulu ya, Mbok?" jawab Albirru tanpa menjelaskan secara gamblang yang membuat Mbok Sum menatap penuh kebingungan pada Albirru yang berjalan menjauhi dirinya.


Albirru yang baru sampai di depan pintu rumahnya pun terhenti karena Johan datang ke rumahnya.


"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Johan yang membuat Albirru menghentikan langkahnya. Albirru pun memberikan kunci mobilnya kepada Johan dan segera berjalan keluar dari rumahnya.


Albirru yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Marcel pun tak kehilangan cara. Dirinya segera menelepon asisten pribadi dari Marcel yang tak lain adalah Veno. Namun lagi dan lagi, dirinya harus menelan pil pahit karena tak satupun panggilannya dijawab oleh Marcel maupun Veno.

__ADS_1


"Paman Jo, apakah kau memiliki nomor sekretaris atau General Manager di perusahaan milik Marcel? Jika ada tolong kirimkan padaku sekarang!" ucap Albirru sembari menolehkan kepalanya ke belakang, sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.


Johan yang memiliki nomor dari sekretaris Marcel pun menganggukkan kepalanya dan segera mengambil ponselnya untuk mengirimkan nomor sekretaris Marcel pada sang atasan.


Setelah mengirimkannya, Johan pun segera masuk ke dalam mobil sembari melihat sang atasan yang telah mengotak-atik ponselnya melalui spion tengah.


"Kita akan kemana Tuan?" tanya Johan sembari menatap sang atasan melalui spion tadi yang membuat Albirru mengangkat tangannya karena dirinya tengah menelepon sekretaris Marcel. Johan yang tahu pun menganggukkan kepalanya lalu menunggu perintah selanjutnya dari Albirru.


"Selamat siang, benar ini dengan sekertaris Tuan Marcel?" tanya Albirru sembari mencengkram tangannya erat erat. Karena kekhawatiran yang melingkupi dirinya kepada sang istri.


"Benar, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tersebut yang membuat Albirru menganggukkan kepalanya.


"Bisakah kau sampaikan kepada Pak Marcel untuk mengaktifkan ponselnya, sekarang? Katakan saja Tuan Albirru memiliki berita penting yang harus dia ketahui sekarang juga," ujar Albirru yang membuat wanita tersebut sedikit ragu untuk melakukan apa yang Albirru perintahkan. Pasalnya kali ini Marcel tengah rapat dengan para pemegang saham.


"Apakah kau mau ku salahkan jika sampai sesuatu terjadi pada istriku? Dan apa kau juga mau jika kau akan langsung dipecat setelah hal ini terjadi?" tantang Albirru yang membuat wanita tersebut sedikit ketakutan. Dengan cepat, wanita tersebut pun berjalan menuju ruangan rapat melalui Marcel masih dengan panggilan yang tersambung dengan Albirru.


"Permisi semua. Maafkan karena saya lancang masuk ke ruang rapat. Pak Marcel, Anda memiliki telepon penting dari Tuan Albirru sekarang," ujar sang sekertaris yang membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut menolehkan kepalanya kepada wanita itu.


Marcel yang diganggu rapatnya pun sedikit marah, tapi karena Albirru lah yang menghubunginya mau tak mau Marcel pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.


Setelah meminta sang sekretaris untuk mematikan panggilannya kepada Albirru, Marcel pun segera mengaktifkan ponselnya dan terkejut karena melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Jingga dan juga Albirru.


Belum sempat dirinya menelepon Albirru, tapi Albirru lebih dulu menghubunginya yang membuat Marcek segera menjawab telepon dari Albirru.

__ADS_1


"Maira sama Jingga udah sampai?" tanya Albirru langsung to the point yang membuat Marcel terkejut. Bagaimana dirinya bisa mengetahui jika Jingga dan Jazira telah sampai di rumahnya. Sedangkan dirinya berada di kantor dengan keadaan ponsel yang dia matikan.


"Lo gila?! Gue dari tadi di kantor. Emang kenapa?!" jawab Marcel dengan nada tak santannya yang membuat Albirru berdecak kesal.


"Gue takut mereka kenapa-napa! Tadi Jingga telepon gue, tapi sama sekali nggak ada respon dari dia atau Maira. Lo cepet balik dan susurin jalan ke rumah gue!" seru Albirru lalu memutuskan panggilannya secara sepihak yang membuat Marcel meninju tembok yang ada di sebelahnya.


Dirinya kesal karena Albirru memberi informasi hanya setengah-setengah. Namun karena tak ingin sesuatu terjadi pada Jingga dan adiknya, marcel pun segera berjalan keluar dari kantornya nya dengan Veno yang mengikutinya dari belakang.


Albirru yang telah mengetahui bahwa Marcel tengah berada di kantor pun segera meminta kepada Johan untuk mengendarai mobilnya menuju rumah milik Marcel. Dirinya benar-benar tak akan mengampuni siapa pun yang menyakiti anak serta istri dan adiknya.


Setelah beberapa saat, entah mengapa Albirru lebih memilih jalan dalam untuk mencari sang istri dan adiknya. Dia berpikir secara logika, jika mobil yang dikendarai oleh Jazira dan adiknya berjalan melewati jalan luar, pasti mereka telah sampai dan paling tidak dia akan mendengar suara kendaraan dari seberang sana.


Namun entah karena feeling atau apapun, dia lebih memilih jalan dalam yang tergolong sangat sepi dan jarang orang yang lewat di sana. Benar saja, ketika Albirru dan Johan memasuki jalur dalam, benar-benar satupun mobil yang berada di depan maupun belakang nya.


Entah mengapa, semakin masuk dalam jalur tersebut, hati Albirru semakin tak enak.


Tak lama setelah itu, Albirru dan Johan pun terkejut karena melihat sebuah mobil yang Albirru yakini milik Marcel, telah tergeletak di pinggir jalan. Tanpa satu orang pun, dan yang lebih anehnya karena kaca belakang di mobil tersebut terlubangi.


Setelah tiba di sebelah mobil tersebut, Albirru pun segera turun dari mobilnya dan melihat bagian dalam mobil. Jantung Albirru berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat sopir yang tadi menjemput Jazira telah terduduk dengan mata terbuka.


Yang lebih membuat Albirru terkejut karena ternyata sopir tersebut tak lagi bernapas. Dirinya pun juga melihat sebuah luka tembak yang menyerang dada bagian kiri milik sopir itu.


"Sial! Kau salah mencari lawan!" teriak Albirru dengan nada marahnya sembari menendang pintu mobil itu, berbarengan dengan sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2