
Albirru menatap punggung kecil milik sang istri yang mulai berjalan menjauhi dari dirinya. Albirru pun menundukkan kepalanya dengan tetesan air mata yang kini membasahi rahang tegasnya itu.
"Maafkan aku, Ra. Aku benar-benar menyesal, aku mohon kembalilah padaku," lirih Albirru sembari menekuk kedua lutut nya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara Jazira, wanita itu berjalan lirih dengan tatapan kosong nya keluar dari ruang UGD. Semua orang yang ada di luar ruang UGD tersebut pun segera menyambut kedatangan Jazira dan Arasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun itu, Jazira berjalan lurus melewati semua orang begitu saja yang membuat Mbok Sum segera menyusul Jazira serta Arasa.
Ya, tak lama setelah Albirru masuk ke ruang UGD tadi, Mbok Sum dan Paman Johan datang ke rumah sakit. Mbok Sum yang diberi tahu oleh Jingga tentang apa yang sebenarnya terjadi pun benar-benar terkejut.
Jazira masih terus berjalan sembari mendekap erat tubuh mungil milik Arasa. Ada rasa tak rela ketika dirinya lah yang harus mengantarkan sang putri mandi untuk yang pertama kali dan menjadi yang terakhir kalinya untuk bayi mungilnya.
"Maafkan mama ya, Sayang. Andai Mama tidak bodoh saat itu, mungkin kamu sudah dan masih hidup bersama Mama sekarang. Mama bersalah atas apa yang menimpa kamu, Nak," ucap Jazira pada diri nya sendiri sembari menundukkan kepalanya dan menatap wajah pucat milik sang putri.
Jazira sedikit menolehkan kepalanya ke samping dan lihat Mbok Sum yang telah berdiri di sebelahnya dengan sedikit ngos-ngosan karena menyusul dirinya. Jazira menatap wanita yang telah membesarkan sang suami dengan tatapan yang berbeda, seolah menunjukkan bahwa kini dirinya tengah membutuhkan seseorang untuk membantunya.
"Yang sabar ya, Non Maira. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Mbok Sum ada di samping Non Maira kapan pun dan dimana pun Non Maira membutuhkan Mbok Sum. Mbok Sum akan menemani Non Maira," ujar Mbok Sum sembari memeluk Jazira dari samping yang langsung diangguki oleh Jazira. Tangis Jazira pun kembali pecah saat dirinya kembali merasa bahwa kini dirinya sedang tak baik-baik saja.
__ADS_1
"Jazira berdosa sama Arasa, Mbok. Arasa pergi karena Jazira. Apa yang harus Zizi lakukan, Mbok?" tanya Jazira dengan suara paraunya lengkap dengan tangisan pilu nya kepada Mbok Sum sembari berjalan dengan perlahan. Wanita yang masih mengenakan baju rumah sakit itu berjalan dengan tatapan kosong yang kini tertuju ke depan.
Mbok Sum pun menggelengkan kepalanya dengan segera sembari mengeratkan pelukannya kepada Jazira yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri. Maklum, karena memang Mbok Sum memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah dirinya bercerai dengan sang suami.
"Non Maira sama sekali tidak bersalah. Semua ini adalah takdir yang Allah berikan untuk Nona Muda dan juga Non Maira. Kita serahkan semua kepada Allah dan ikhlas ya Non, supaya Non Arasa bisa baik-baik saja di sana. Yakinlah, bahwa kini Nona Arasa telah berada di samping Ibu Non Maira. Kini mereka pasti sudah bertemu," ujar Mbok Sum yang membuat Jazira segera menolehkan kepalanya dan menatap Mbok Sum dengan tatapan tertegun.
"Arasa bertemu dengan ibu? Apakah benar, Mbok?" tanya Jazira kepada Mbok Sum yang langsung membuat Mbok Sum menganggukan kepalanya dengan sangat yakin. Seketika tatapan mata sembab milik Jazira sudah sangat berbeda. Terlihat ada sedikit secercah harapan dari wanita yang baru saja melahirkan itu yang membuat Mbok Sum tersenyum lembut sembari menganggukan kepalanya.
"Ibu Non Maira sangat baik. Dia berhasil melahirkan wanita sebaik dan se-sempurna Non Maira. Pasti kini Ibu Non Maira telah bertemu dengan cucu kesayangannya, jadi jangan khawatir" ujar Mbak Sum yang membuat Jazira menganggukan kepalanya. Seketika Jazira pun menghentikan langkahnya dan memeluk erat wanita yang telah dia anggap sebagai ibunya itu.
"Nona Arasa sudah tenang di sana. Tugas kita di sini hanya mengantar dan mengembalikannya dengan sangat layak. Mbok Sum sangat yakin, Non Maira pasti kuat. Non Arasa kini tak sakit lagi. Mari kita bawa Non Arasa supaya dia bisa lebih tenang lagi," ujar Mbok Sum yang membuat Jazira menganggukan kepalanya.
Dengan berbesar hati, Mbok Sum pun mengambil jenazah Arasa dari gendongan milik Jazira dan membawanya menuju ruang mayat berada di ujung koridor.
Jazira berjalan perlahan mengikuti Mbok Sum yang tengah menggendong jenazah putrinya dengan langkah yang sedikit tertatih.
__ADS_1
Sementara Albirru, laki-laki itu masih menitikan air matanya dalam diam sembari menundukkan kepalanya dan tak berani mengangkat kepalanya. Hingga tiba di mana pandangannya melihat sepasang sepatu casual berwarna putih yang ada di pandangannya. Hal tersebut membuat laki-laki itu sedikit menolehkan kepalanya.
Marcel, ya laki-laki itu yang tak lain adalah sahabat Albirru semasa SMA itu mulai berjongkok di hadapan Albirru. Lengan kokoh milik Marcel itu pun terangkat dan menepuk perlahan bahu milik Albirru yang tengah bergetar hebat.
"Gue turut berduka cita atas apa yang menimpa anak pertama lo dan juga Jazira, Al. Lo harus bisa lebih kuat dari Zizi. Kalo lo gini, siapa yang jadi sandaran buat istri lo? Inget, gue setahun Zizi ke lo karena gue percaya lo bisa jaga adik gue. Kalo gini aja lo udah nyerah, gue nggak yakin kalo lo masih pantas buat adik gue, Al." Marcel mencoba mendoktrin sang sahabat semasa SMA itu agar tak menyerah.
"Lo bilang cuma gini aja? Dia anak gue, Cel. Bahkan dia belum merasakan ASI Mama nya, tapi Tuhan lebih dulu mengambilnya. Apa yang menimpa anak sama istri gue, itu semua karena gue. Atau mungkin semua ini karma yang udah gue lakuin selama ini? Tapi kenapa berimbas ke anak gue, Cel?!" jawab Albirru sembari mendongakkan kepalanya dan menatap sang sahabat.
"Semua ini takdir, Al! Bahkan kalau pun lo setia sama Zizi dan kalian menikah tanpa kontrak, tapi kalau takdir Arasa itu meninggal dia pasti akan meninggal. Lo nggak bisa gini, Al. Zizi butuh lo, Zizi butuh dukungan dari lo," ujar Marcel yang membuat Albirru menganggukkan kepalanya.
"Gue minta maaf sama lo," ujar Albirru sembari menundukkan kepalanya. Marcel mengernyitkan keningnya bingung sembari menatap laki-laki yang pernah menghabiskan hari-harinya bersama dirinya saat masih menjadi pelajar.
"For?" tanya Marcel sembari menarik tangannya dari bahu kekar milik Albirru. Albirru pun menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kepalanya menghadap Marcel.
"Sorry, karena gue dulu persahabatan kita hancur. Karena Jessica, lo yang dulu selalu ada buat gue pergi. Gue minta maaf sama lo," jawab Albirru yang membuat Marcel menghembuskan napasnya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
"Lupain,"