
Ada yang baru nihh...
Sekarang di NovelToon kita bisa komen per paragraf loh Mam. Jadi feel pembaca buat lupain emosinya bisa pas dibagian paragraf yang buat kita emosi😁 coba fitur terbaru ini yuk Mam.
"Tidak! Ini semua salahku!" seru Jazira sembari menatap tajam kepada sang suami. Jazira yang kini masih mendekap tubuh kecil milik Arasa itu kini mulai kembali bergetar dengan hebat.
"Jika saja aku tak memiliki bnyak pikiran karena selalu memikirkan mu dan memilih untuk bercerai darimu sejak lama, mungkin Arasa masih ada di sisiku sekarang!" imbuh Jazira sembari mengangkat sebelah tangannya seolah memberi isyarat agar sang suami tak lebih mendekat.
"Ya, memang semua yang terjadi pada putri kita adalah salah ku. Andai aku tak mudah percaya oleh jebakan wanita gila itu, mungkin kita tengah berbahagia bersama dengan Arasa saat ini," jawab Albirru dengan iris mata yang masih menatap penuh penyesalan kepada sang istri.
__ADS_1
"Andai dulu aku juga bisa bersikap lebih tegas, mungkin semua tak akan serumit sekarang, Ra. Aku hanya ingin menggendong Arasa sebentar," imbuh Albirru lagi sembari berjalan maju mendekati Jazira.
Jazira pun semakin menangis pilu saat mengingat bagaimana sikap sang suami beberapa bulan yang lalu. Dimana pada saat itulah dirinya merasa bahwa sang suami tak menaruh rasa percaya pada dirinya walau hanya sebesar biji sawi.
Albirru masih memastikan bahwa sang istri sedikit lebih tenang agar dirinya dapat mengambil sang putri dari dekapan wanita yang sangat dia sayangi itu.
"Semuanya terlambat. Bagaimana aku akan hidup jika hidupku saja pergi," lirih Jazira saat sanag suami mengambil Arasa dari rengkuhannya.
"Semua ini salahku. Maafkan Mama, Nak. Mama bersalah," ujar Jazira lirih yang terus diulang-ulang. Mungkin saja jika ada orang lain di ruang UGD tersebut, mereka pasti mengira bahwa Jazira terkena gangguan mental.
__ADS_1
Sementara Albirru, laki-laki itu mengecup kedua pipi milik sang putri dengan ujung mata yang mulai penuh dengan air mata. Berulang kali Albirru ucapkan permintaan maaf kepada sang putri yang telah terlelap dengan tenang itu.
"Maafkan Papa ya, Nak. Papa bukanlah papa yang baik untuk kamu. Jika kita bertemu di kelahiran berikutnya, Papa berharap semoga kamu lah yang akan menjadi putri Papa. Jangan benci Papa mu yang sangat menjijikan ini ya, Nak? Papa sayang kamu," ujar Albirru tepat di telinga sang putri yang dia angkat hingga ke bahu nya.
Benar saja, tangis laki-laki itu pecah saat mengingat betapa hancurnya hati sang istri untuk saat ini. Albirru pun bertanya pada dirinya sendiri, apakah masih pantas dirinya memanggil dirinya sendiri dengan sebutan papa untuk Arasa? Terlebih lagi dirinya yanng tak ikut andil dalam perawatan Arasa selama dalam kandungan.
"Semua ini salahku. Maafkan Mama, Nak. Mama bersalah. Kau memang bodoh, Zi!" ucap Jazira lagi dengan mengulang apa yang selalu dia katakan tadi dengan nada bingungnya dan terlihat seperti orang yang terkena gangguan kejiwaan.
Tiba-tiba bayangan ketika dirinya yang telah berjuang sendirian selama beberapa bulan ini membuat Jazira segera tersadar dari keadaannya yang sangat berbeda dengan dirinya pada awalnya tadi.
__ADS_1
"Nggak, Zi! Kamu nggak bisa begini! Arasa sama sekali tak bersalah!" ujar Jazira pada dirinya sendiri sambil bangkit dari duduknya. Wanita itu pun berjalan mendekati sang suami dengan langkah perlahannya.
"Kemarikan putri ku, aku akan membawanya untuk dimandikan." Jazira mengulurkan kedua tangannya tanpa air mata lagi yang membasahi pipinya.