
"Jangan peluk istri gue!" tegur Albirru dengan nada tak sukanya yang membuat Veno menolehkan kepalanya kepada laki-laki yang tengah menggendong tubuh mungil milik sang putri yang telah tak bernyawa itu.
Jazira pun ikut menolehkan kepalanya menatap sang suami yang kini juga tengah menatap dirinya dengan tatapan tajam. Pelukan Veno mulai mengendur tatkala Albirru menarik lengan mungil milik Jazira dengan sebelah tangannya. Jazira yang ditarik lengan nya oleh sang suami pun bergerak sedikit menjauh dari tubuh tegap milik Veno.
"Lo nggak tau malu, hah?! Maira istri gue, kita juga baru tertimpa musibah! Kalo mau ambil kesempatan lihat kondisi, bro!" tegas Albirru sembari melilitkan lengan kekar nya di pinggang mungil milik sang istri yang masih terpasang perban karena bekas jahitan operasi saat melahirkan darah daging nya. Tatapan elang milik laki-laki itu tertuju pada mata laki-laki tampan yang tertutup oleh kacamata mewah berharga fantastis itu.
"Jangan nuduh-nuduh yang sembarangan! Kak Veno cuma," sela Jazira dengan air mata yang masih menetes sembari mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah milik sang suami.
__ADS_1
"Cuma apa?! Sengaja mau belain laki-laki itu? Salah kalau aku nggak ngebolehin kamu dipegang sama laki-laki lain yang nggak ada hubungan apapun sama kamu?! Aku suami kamu, Ra!" sergah Albirru sembari menolehkan kepalanya menatap sang istri yang juga tengah menatapnya dengan tatapan terluka.
"Suami? Aku tidak salah dengar bukan? Kenapa baru sekarang kau mengakui bahwa kau lah suami ku? Kenapa baru sekarang kau seolah-olah mengakui bahwa akulah istri mu? Kemana kau selama ini? Dulu aku mencoba meyakinkan bahwa Arasa adalah putri mu, tapi kau mengelak. Seolah Arasa adalah bayi yang hadir dalam hubungan terlarang antara aku dengan laki-laki lain!" lirih Jazira dengan rasa sakit yang kembali ibu itu rasakan yang juga terdengar oleh Jingga.
"Kau masih ingat bukan malam dimana kamu sendiri yang mengatakan bahwa kau sangat membenciku? Aku masih inget dengan jelas, saat dimana kau menatapku dengan tatapan penuh kebencian dan tak ada rasa percaya padaku walau sedikit pun!" imbuh Jazira dengan mata yang masih menatap tajam netra milik sang suami lengkap dengan air mata yang masih menetes.
"Maira!" sentak Albirru dengan nada tertahan sembari menatap sang istri. Laki-laki itu menolehkan kepalanya kepada Marcel dan mengatakan seolah bahwa dirinya membutuhkan sedikit waktu bersama dengan sang istri untuk saat ini.
__ADS_1
"Stop, Ra. Jangan buat Arasa semakin tersiksa. Bahkan dalam keadaan seperti ini kamu lebih mementingkan emosi dan ego kamu," ujar Albirru sembari berdiri menghadap sang istri penuh. Arasa yang ada di gendongannya pun membuat laki-laki itu semakin mengeratkan gendongan nya.
"Ego? Kamu sedang membahas perkara ego dan emosi? Lalu apakah sekarang kau lupa akan ego dan emosi yang kau keluarkan pada malam itu? Bahkan Arasa berada dalam kondisi seperti sekarang ini tak luput atas apa yang kau lakukan padaku! Sebenarnya apa mau mu, hah?!" jawab Jazira dengan spontan sembari menatap kedua netra indah milik sang suami yang tengah menatapnya.
"Aku mau kamu maafin aku, Ra. Cukup itu aja, nggak lebih. Aku mohon tolong maafkan aku, Ra." Albirru memohon kepada sang istri dengan nada yang sangat yakin.
Tanpa aba-aba, wanita yang masih mengenakan baju rumah sakit itu mengangkat tubuh mungil sang putri ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Maaf? Setelah sekian lama aku berjuang sendiri dan kau lebih memilih untuk mengurus wanita itu, kini kau meminta maaf? Apakah maaf mu itu akan menghidupkan kembali anak ku yang telah pergi?" ucap Jazira dengan derai air mata sambil menatap netra suaminya.
Wanita rapuh itu pun pergi meninggalkan suaminya dengan jenazah sang bayi yang berada di gendongannya.