
Dua babnya lagi nanti sore atau malam ya Mam.
Mbok Sum yang mendengar ucapan dari Larina pun sama sekali tak merasa takut. Yang memperkerjakan dia disini adalah Albirru sendiri. Dia juga lah yang merawat Albirru sejak kecil.
"Apa saja kau kau dengar wanita tua?!" bentak Larina dengan kasar setelah dirinya melihat Albirru pergi dari rumahnya. Mbok Sum yang dibentak pun mendongakkan kepalanya dan menatap tajam kepada Larina.
"Kenapa Anda mengaku-ngaku bahwa itu anak dari tuan muda? Apakah Anda tak kasihan pada Nona Maira yang pergi karena melihat sandiwara palsu Anda itu?" tanya Mbok Sum dengan beraninya yang membuat Larina sedikit kaget.
"Dasar pelayan kurang ajar! Beraninya kau menjawab pertanyaanku!" seru Larina handak menampar pipi milik wanita yang telah membesarkan Albirru itu. Namun dengan sigap, Mbok Sum menahan tangan Larina sehingga Larina tak dapat menampar dirinya.
"Jangan anggap wanita tua ini lemah! Bahkan akulah yang membesarkan tuan rumah ini! Jangan pernah mengancam untuk mengusirku dari rumah ini, kau paham? Wanita licik sepertimu tak pantas untuk bersanding dengan Tuan Albirru!" sentak Mbok Sum yang benar-benar membuat Larina terkejut.
"Camkan itu!" tegas Mbok Sum sembari melepaskan tangan Larina dengan kasar. Wanita yang telah bekerja selama puluhan tahun di rumah Albirru itu pun berjalan menuju dapur, tempat dia biasa bekerja.
Larina yang mendengar perkataan dari Mbok Sum pun mengeratkan rahangnya dengan tangan yang terkepal erat. Tekadnya untuk mengusir Mbok Sum dari rumah sang kekasih sudah bulat, lantaran dia tahu bahwa Mbok Sum telah mengetahui semuanya.
"Gue akan bawa lo keluar dari rumah ini!" tegas Larina dengan wajah yang memerah karena menahan amarahnya. Larina segera berjalan kembali ke kamar milik Albirru.
Benar saja, Larina langsung menelpon salah satu bawahannya agar membantunya untuk membawa Mbok Sum keluar dari rumah ini.
Sedangkan Mbok Sum yang telah mengetahui semuanya pun ingin sekali memberitahukan kepada Jazira bahwa anak yang dikandung oleh Larina itu bukanlah anak dari Albirru.
Namun apalah daya dirinya yang tak bisa menggunakan sehingga dirinya tak dapat memberikan kabar bahagia ini kepada Jazira.
Sementara Albirru yang telah sampai di luar pun segera berjalan mendekati Johan yang tengah berdiri di samping mobilnya, dan segera membukakan pintu untuk Albirru. Albirru menatap sejenak asisten pribadinya tersebut lalu segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelahnya, Johan pun berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Lalu duduk di belakang kemudi. Ketika Johan tengah memakai seatbeltnya ucapan dari Albirru menghentikan aktivitasnya.
"Jo, aku minta padamu untuk melacak di mana keberadaan Jingga dan Jazira. Carilah sampai ketemu, bahkan jika perlu kau minta pada anak buahmu yang lain untuk ikut mencari mereka hingga berjumpa. Kau paham?" ujar Albirru yang membuat Johan menghembuskan nafasnya perlahan.
Dalam batun Johan dia memiliki satu pertanyaan untuk sang atasan. Mengapa tidak sejak kemarin dirinya mengajar Jazira dan memohon pada wanita itu agar tak meninggalkannya? Mengapa baru sekarang? Bukankah ini sudah terlambat? ujar Johan dalam hatinya sembari menatap tak suka pada sang atasan.
"Saya sedikit kurang yakin untuk menemukan Non Jingga dan dan Nona Jazira. Pasalnya mereka berdua dibawa pergi oleh Marcel, sedangkan Anda sendiri tahu bagaimana sifat Marcel yang tak akan membiarkan apa yang telah berada dalam genggamannya tersentuh oleh Anda kembali," ujar Johan yang membuat Albirru terkejut.
"Marcel? Marcel laki-laki si*lan itu?! Dia membawa pergi istriku dan juga adik perempuanku?!" tanya Albirru dengan nada marahnya yang langsung disambut oleh anggkan kepala dari Johan. Seketika raut wajah Albirru pun berubah memerah dan tangan yang sudah terkepal erat.
"Mencari keberadaannya pun akan sia-sia. Marcel bukanlah orang bodoh yang akan mengembalikan wanita yang dia sayangi kepada suaminya. Terlebih lagi, kita tidak akan mengetahui dimana keberadaan mereka," ujar Johan yang langsung menohok yang membuat Albirru diam membisu.
"Penyesalan pasti akan datang di akir nanti, Tuan. Kali ini bukan penyesalan, tetapi ini baru permulaan dari penyesalan-penyesalanmu di masa yang akan datang," imbuh Johan yang tak dapat membuat Albirru berkutik.
'Aku akan memberikanmu waktu, Ra. Ketika tiba dimana aku telah tak bisa membendung rasa rinduku ini, aku akan menjemputku pulang dan memulai semua bersama.' Albirru memejamkan matanya sembari berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan waktu kepada wanita yang sangat dia cintai.
Saat memejamkan matanya, tiba-tiba sepenggal kalimat yang keluar dari bibir Jazira kala itu membuat Albirru diam membeku. Sebelum akhirnya Jazira pergi dari rumah kemarin, Jazira sempat mengatakan bahwa dirinya lah yang te lah merenggut mahkota milik Jazira.
Kali ini jantung Albirru berdegub dengan kencang ketika mengingat perkataan Jazira. Dirinya benar-benar lupa dengan kejadian setelah malam dimana dia melampiaskan amarahnya ke club lalu dia terbangun sudah berada di sofa depan kamarnya.
Albirru yang ketakutan bahwa itu salah benar-benar ulahnya pun berniat untuk menanyakan kepada Mbok Sum apakah dia menemukan tanda-tanda mencurigakan atau sebagainya.
...*****...
Pukul 06.30 waktu London,
__ADS_1
Jazira yang baru saja terbangun dari tidurnya pun mulai menggeliatkan tubuhnya untuk melemaskan ototnya. Jazira meraba kasur sebelahnya seolah-olah dirinya sedang mencari keberadaan orang lain yang tertidur di atas ranjang bersamanya.
"Mas Birru?" ujar Jazira dengan suara seraknya sembari terus meraba sebelah bagian kasur nya yang kosong. Jazira yang semakin bingung pun membuka matanya dengan cepat lalu segera duduk tegap.
Jazira lebih terkejut lagi ketika dia menyadari bahwa dia tidak berada di kamar milik Albirru. Sejenak dia berdiam diri untuk memulihkan ingatannya, hingga terdengar helaan napas dari wanita yang terlihat lelah itu. Jazira pun baru teringat bahwa dirinya telah berada di London, tidak seperti dahulu yang dirinya akan terbangun di sisi suaminya.
"Astaga, Zi, kenapa kau sungguh pelupa. Cukup sudah kau memikirkan suamimu itu, dia saja tidak memikirkanmu lalu mengapa kau memikirkan dia?" ujar Jazira pada dirinya sendiri lalu mencoba mengusap wajahnya perlahan.
"Pukul berapa ini?" ucap Jazira sembari menyapukan pandangannya ke sekeliling kamarnya. Netranya terpaku pada jam beker yang berada di atas nakas dan menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Dengan segera, Jazira pun menyingkap selimutnya dan hendak turun dari ranjangnya. Namun belum kakinya menyentuh lantai kamarnya, sehingga datang dari luar dengan pakaian yang rapi serta senyum manis yang tercetak jelas di wajah cantiknya.
"Selamat pagi Kak Zizi," sapa Jingga dengan ada lucunya yang membuat Jazira tersenyum lebar. Jinhga pun berjalan mendekati jendela besar yang ada di kamar Jazira lalu membuka gordennya, yang membuat sinar matahari langsung masuk menembus kaca transparan tersebut.
"Pagi juga, Ngga. Kok udah rapi aja?" sapa Jazira kembali sambil turun dari ranjangnya. Dia berjalan mendekati Jingga yang tengah membuka pintu balkon di kamar Jazira.
"Hari ini kita free jalan-jalan sama Kak marcel. Dia mau bawa kita ke perusahaan sama beberapa tempat lainnya. Mending kak Zizi siap-siap dulu gih, biar nggak kesiangan." Jingga mengalihkan tatapannya kepada Jazira.
Jazira pun menganggukkan kepalanya sembari mengelus lengan adiknya tersebut. Belum Jazira melangkah jauh, ucapan dari Jingga membuat Jazira menghentikan langkahnya.
"Oh iya Kak Zi, kemarin Kak Marcel juga bilang, katanya dia akan kenalin seseorang sama kita,"
Follow ig Kayenna yuk Mam, @kay_enna
Barangkali ada yang mau kenal lebih jauh sama authornya Istri Bayaran CEO Dingin.
__ADS_1